LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Keputusan


__ADS_3

"Saya benar-benar sudah lelah dengan perasaan saya. Mati-matian saya berusaha meluluhkan hatinya. Tapi dia tetap tidak berubah. Selalu mengacuhkan saya. Dia hanya bersikap manis pada saya ketika dia sedang melakukan pendekatan pada Meylan untuk bisa rujuk kembali. Senyum dan keramahannya pada saya lagi-lagi karena Meylan. Dan ketika dia dicampakkan, dia kembali menganggap saya seperti orang asing."


"Sekarang saya sudah pasrah. Saya cuma ingin dia merealisasikan janjinya yaitu memberikan kompensasi kepada saya sesuai surat perjanjian. Hanya itu. Saya tidak berharap lebih. Saya sudah terbiasa kecewa. Mungkin ini sudah nasib saya," saya makin tidak sanggup menahan isak.


"Ya Allah, Ninis....." Reyna menggenggam tangan saya untuk memberi kekuatan.


"Hidup itu misteri. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Seperti ketika akan menikah, saya tidak pernah menyangka kalau tujuan dia menikahi saya hanya untuk memenuhi syarat agar bisa rujuk dengan mantan istrinya."


"Saya juga tidak pernah tahu kenapa saya yang harus mengalami semua ini? kamu tahu, saya sangat terhina dan kecewa dengan semua ini. Mentang-mentang saya tidak cantik, saya miskin, seenaknya saja dia bisa memperlakukan saya seperti mainan."


"Kini saya tidak akan berharap lagi. Saya akan tetap menemui dia untuk menuntut kompensasi itu."


"Kamu jangan menyerah, Nis. Tetaplah berjuang untuk meluluhkan hatinya. Aku yakin, kamu pasti bisa. Kamu punya dukungan dari mamanya. Dan ditambah lagi, kondisi dia juga sedang sakit, dia pasti sangat membutuhkanmu, Nis!"


"Percuma dibutuhkan tapi tidak pernah dianggap ada. Saya tidak akan pernah berarti apa-apa selama di hatinya masih ada Meylan. Dia itu sakit, Rey. Love sick yang dideritanya sudah terlalu akut. Mencintai berlebihan tanpa memperdulikan logika dan akal sehat. Biarlah dia sekarang merasakan akibatnya, menanggung derita cinta yang belum ada obatnya. Kasihan....."

__ADS_1


Seolah mengerti dengan perasaan saya, Reyna mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia bercerita tentang kehidupannya, tentang pernikahannya yang kandas, tentang tiga anak perempuannya yang sudah ABG, pekerjaannya dan juga tentang hubungan yang sedang dijalaninya saat ini dengan Bang Norman.


Sebenarnya tanpa dia cerita, saya juga sudah tahu banyak kok. Saya kan sudah mencari informasi tentang dia di sosmed juga lewat percakapannya dengan Si Botak lewat ponsel yang saya retas.


Seketika hati saya menghangat. Reyna kelihatannya baik dan lembut. Sepertinya, saya bisa berteman akrab dengan dia.


"Makasih ya Nis, sudah meluangkan waktu untuk mengobrol. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya. Oh iya, kapan pun kamu ingin menemui Mas Farid, hubungi aku ya! aku bersedia menemani kamu," Reyna berkata sambil memeluk saya.


"Senang bisa mengenalmu, Nis. Aku harap kita bisa berteman baik," saya mengangguk dan membalas pelukannya.


Dan saya pun kembali memasuki gerbang sekolah. Sekolah sudah sepi. Tidak terasa, cukup lama juga saya mengobrol dengan Reyna di Cafe. Sekarang sudah pukul setengah tiga sore. Bergegas saya menuju ruang guru dan kembali menyelesaikan pekerjaan saya yang tertunda tadi.


...****************...


Farid

__ADS_1


Entah apa yang diucapkan Reyna di telepon tadi, kata-katanya benar-benar tajam dan membuatku tertohok. Reyna berkata tadi siang dia menemui Ninis. Aku memang memintanya untuk menemui Ninis. Entah apa pula pembicaraan mereka tentang aku. Posisiku sekarang benar-benar sulit.


Semenjak Ninis pergi, aku makin larut dalam kebingungan. Bingung pada perasaanku. Bingung harus melakukan apa dan bagaimana untuk bersikap. Kadang perasaan bersalah membuatku benar-benar tersudut kadang juga membuatku kesakitan dan ingin menangis. Tapi menangisi siapa? Meylan atau Ninis?


Luka di hatiku memang belum kering pasca ditinggalkan Meylan dan Ninis juga pergi meninggalkanku karena ketidakjelasan sikapku padanya. Aku juga merasa bersalah pada dia.


Rasa nyeri pada tubuhku juga belum berkurang, meski tetap kupaksakan untuk rutin minum obat. Bu Atin, suaminya, Anwar serta Rocky masih siap sedia untuk membantuku di rumah ini. Aku benar-benar tidak tahan berada dalam kondisi seperti ini. Ingin secepatnya bisa berjalan dan berlari.


Reyna berkata tadi kalau Ninis bersedia menemuiku. Aaah, kebimbangan kembali melandaku. Penegasan apa yang akan kuberikan pada Ninis? Sekedar kompesasi sesuai dengan isi surat perjanjian? ataukah permintaan agar dia tetap berada di sisiku selamanya? sanggupkah aku memberikan ruang rasa sepenuh hatiku untuk dia?


Bersambung.


Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.


matursuwun.

__ADS_1


__ADS_2