
Farid
Hongkong Internasional Airport, pukul 14.35. Aku tiba tepat waktu. Baguslah, semua berjalan sesuai dengan rencana. Perjalanan yang memakan waktu sekitar empat jam ini, membuatku lelah. Aku kurang tidur. Beberapa hari ini memang aku sulit sekali tidur. Semenjak, Meylan memblokir nomer kontakku.
Tujuanku ke sini adalah untuk meminta penjelasan darinya. Dia tidak boleh membatalkan rencana kami. Dia harus konsisten dengan ucapannya. Dia tidak bisa mempermainkanku seenaknya. Dia harus kembali menjadi milikku.
Pikiranku makin gusar. Aku berusaha untuk menenangkan diri. Harus, aku harus menemui Meylan. Aku akan berlutut dan memohon padanya agar dia kembali padaku. Aah, mungkin saja, saat itu Meylan dalam kondisi capek dan stress dengan pekerjaan, hingga dia tidak bisa mengontrol emosi dan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Termasuk memblokir nomer WhatsAppku.
Aku yakin, Meylan tidak akan tega meninggalkanku. Dalam hatinya, dia juga pasti masih sangat mencintaiku. Dia pasti akan berpikir panjang untuk membatalkan rencana kami. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatnya luluh kembali.
__ADS_1
Hongkong masih belum berubah. Terakhir aku ke sini sekitar, empat tahun yang lalu. Tentu saja berdua dengan Meylan. Kami menghabiskan malam tahun baru bersama. Kami begitu bahagia. Tapi kebahagian mendadak redup seketika, ketika di malam terakhir, kami berdebat cukup alot. Dan begitu tiba di Jakarta, kami bertengkar hebat.
Saat itu aku meminta Meylan untuk berhenti bekerja. Aku ingin dia melepas pekerjaannya dari dunia catwalk. Tapi Meylan tidak terima. Aku berusaha memberikan penjelasan panjang lebar. Aku katakan padanya, kalau aku sangat mencintainya, dan aku seorang pencemburu berat. Aku tidak mau dia dilirik banyak pria saat sedang melenggang di atas catwalk. Meylan marah dan mulai mengajakku berdebat. Dari perdebatan kecil akhirnya berkembang menjadi letupan demi letupan yang akhirnya membuat kami berpisah.
Meylan memang keras kepala. Dia tipikal yang sangat idealis sekaligus independen dalam mengambil keputusan. Tapi terkadang sikap saklek yang ditunjukkannya hanya didasarkan oleh faktor emosi semata. Jika dia sudah benar-benar marah, maka dia akan dengan mudah mengambil keputusan, meski kutahu dalam hatinya pasti ada penyesalan.
Ya, aku tahu itu. Meylan pasti menyesal atas sikapnya padaku. Dia pasti menyesal telah memblokir nomer WhatsAppku, dan dia pasti berharap aku akan mengemis dan memohon-mohon lagi padanya. Ya, pasti akan aku lakukan itu. Tujuanku ke sini kan memang hanya untuk itu. Membawa Meylan kembali dalam pelukanku dan kami akan menikah lagi.
Lagi-lagi aku tersenyum. Teringat kembali pada apa yang kulakukan sebelumnya. Aku memang tidak berhasil menghubungi Nisya lewat nomer ponselnya. Tapi, aku berhasil menghubungi dia lewat DM Instagram. Aku berlagak sebagai salah satu remaja alay yang sangat mengidolakan Meylan. Aku bertanya-tanya rentang Meylan pada Nisya, dan Nisya dengan antusias menjawabnya.
__ADS_1
Segala pertanyaanku dijawab oleh Nisya. Aku bertanya tentang hobinya Meylan, makanan kesukaannya, kesibukan Meylan saat ini, bahkan lokasi keberadaan Meylan saat ini pun juga dijawabnya, hahahaha. Sepertinya sebagai asisten, Nisya itu masih amatir, karena sangat polos sekali.
Tentu saja aku menggunakan akun palsu. Maka proses penyelidikan pun berjalan lancar. Agar lebih meyakinkan, kupinjam foto-foto Selvi, adik sepupuku yang cantik dan kupajang di profile picture dan juga beranda. Aman, pasti tidak akan ketahuan.
Dari obrolan dengan Nisya itulah, akhirnya aku bisa mengetahui posisi di mana Meylan berada. Saat ini Meylan dikontrak oleh Elite Model Hongkong selama tiga tahun. Bayarannya sangat fantastis. Dari Nisya juga, aku mengetahui kalau saat ini Meylan sedang dekat seorang Datuk asal Negeri Jiran.
Mendengar itu, hatiku seketika langsung panas membara. Jadi ini penyebabnya. Ini tidak bisa dibiarkan. Meylan harus menjadi milikku. Tidak boleh ada lelaki lain yang mendekati dia. Laki-laki itu harus berhadapan dulu denganku. Aku juga tidak akan segan-segan melakukan tindakan ekstrim untuk bisa membawa Meylan pulang kembali ke Jakarta.
Kepada Ninis, kukatakan aku harus keluar kota karena ada urusan penting. Seperti biasa, dia tidak bertanya panjang lebar. Dia memang cukup tahu diri. Dia tidak boleh tahu masalah ini. Yang jelas, aku dan Meylan harus benar-benar rujuk. Harus dan harus!!!
__ADS_1
Bersambung.