
Jadi seperti ini penampakan kamar yang selalu dirahasiakan Si Botak. Dia sangat menjaga kamar ini. Sebagaimana dia menjaga cintanya pada Meylan. So sweet. Saya harus segera keluar secepatnya sebelum mata saya makin norak menjelajahi isi kamar ini.
Urusan beres-beres kamar atas pun selesai. Sebelum mandi, mendadak saya penasaran ingin masuk juga ke ruang kerja Si Botak. Tak apa kali ya? Bu Atin sendiri sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu.
Dengan iseng saya pegang handle pintu. Ternyata tidak dikunci. Biasanya Si Botak selalu menguncinya. Mungkin hari ini dia lupa. Saya pun memutuskan untuk masuk. Sekarang pukul enam sore. Mumpung tidak ada Si Botak.
Wow.... Ruangan kerjanya didesain dengan sangat homey. Pantas saja dia betah berlama-lama di sini. Ada kamar mandinya juga di dalam. Juga ada sofa, rak buku, meja kerja, kursi, lemari kabinet, laci kecil, dispenser, kulkas mini.
Dan juga ada kasur rebound lengkap dengan bed covernya, dan lemari kecil berisi pakaian. Rupanya Si Botak juga menaruh pakaian-pakaiannya di sini juga. Mungkin dia malas naik turun ke atas, begitu pikir saya. Lengkap sekali ruang kerjanya. Jadi ini seperti merangkap kamar pribadinya juga.
Ada beberapa tumpukan file di atas meja kerjanya. Bekas cangkir kopi yang belum habis diminum, sebuah laptop, dan tak ketinggalan foto-foto Si Cantik Meylan terpampang rapih di setiap sudut. Ruarr biasa.
Hari ini saya berhasil menjelajah isi kamar tidur dan juga ruang kerja Si Botak. Ada satu rahasia yang sangat mahal di sana yang tidak ingin diketahui oleh siapapun. Sesuatu yang sangat dijaga dengan apik oleh Si Botak yaitu kenangannya dengan Meylan. Dia seperti menghidupkan kembali kenangan cintanya dengan Meylan saat di kamar tidur dan juga di ruang kerja...
Wow... Betapa dahsyatnya mencintai. Dan betapa indahnya dicintai. Betapa istimewanya Meylan di hati Si Botak. Entah kenapa, air mata saya menetes. Bukan karena saya cemburu. Tidak.... Hanya sedikit baper. Seandainya ada laki-laki yang mencintai saya seperti ini. Sebagaimana Si Botak mencintai Meylan....
__ADS_1
Selama ini tidak ada. Atau mungkin belum ada. Saya selalu kecewa dan nelangsa dalam urusan cinta...Hiks hiks hiks....
...****************...
Mereka tiba di rumah tepat jam sebelas malam. Saat mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk. Saya menunggu mereka di ruang tengah bersama Si Botak. Kami sudah sepakat tadi untuk tetap merahasiakan hubungan kami di depan Mama dan Kak Ferin. Kami akan tetap berakting sebagai suami istri yang harmonis.
Dia juga sudah mengakui kalau sekarang dia sudah pacaran lagi dengan Meylan. Its ok. Saya turut senang mendengarnya. Lagi-lagi dia meminta maaf pada saya. Untuk apa? "saya tidak apa-apa, Mas. Saya malah turut senang dengar kabar kedekatan kalian, " begitu jawab saya.
Lagi-lagi saya menunjukkan kalau saya kuat dan tidak sedih. Cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan. Dan cintanya dia memang hanya untuk Meylan. Begitulah faktanya.
"Assalamualaikum!" saya tersentak kaget. Suara salam terdengar dari luar. Itu pasti mama dan Kak Ferin. Benar saja.
Saya membukakan pintu dan menyambut kedatangan mereka. Kasihan, mereka kelihatan lelah. Rupanya mereka naik mobil travel.
"Macet parah, Nis. Gak kaya biasanya. Padahal bukan week end," ujar Ferinda sambil menidurkan Aufa di sofa. Bocah kecil itu nampak sangat pulas.
__ADS_1
"Yang dua lagi gak diajak, Kak?" tanya Saya.
"Audrey sama Aura kan sebentar lagi ulangan semester. Jadi mereka biar sama Si Teteh aja di rumah. Biar bisa fokus belajarnya. Hari sabtu besok, ayahnya juga sudah pulang kok dari Surabaya."
Ferinda memiliki tiga anak. Dua diantaranya sudah SMP dan SD, dan Si bungsu yang montok dan menggemaskan ini baru berusia lima tahun.
Meski sudah punya tiga anak. Bodynya bener-bener bikin iri. Begitu langsing dengan tinggi badan yang semampai. Wajahnya juga sangat cantik dan terawat. Duh, kenapa jadi minder lagi yak? Berdekatan dengan Ferinda seperti ini seakan- akan seperti berhadapan dengan Meylan.
Ah, mungkin perasaan saya saja yang terlalu lebay. Tapi mereka memang ada kemiripan sih. Sama-sama putih mencrang, sama-sama tinggi langsing, meski Meylan jauh lebih tinggi, sama-sama hobi perawatan sepertinya. Sudah pasti.
Dia dan Beni, suaminya membuka jasa desain interior untuk rumah dan kantor. Usahanya cukup berkembang. Klien-kliennya banyak dari berbagai kalangan. Mulai dari artis hingga pejabat. Interior rumah ini juga kabarnya hasil sentuhan dari desain Ferinda. Pantas saja keren banget.
Ferinda dan Beni adalah teman kuliah di jurusan desain interior. Selepas kuliah, mereka menikah dan kemudian merintis bisnis jasa desain interior dari nol hingga berkembang seperti sekarang.
Lagi-lagi saya dibuat takjub dengan penampilan kakak ipar saya ini. Selain cantik dan langsing, dia juga sangat modis. Pakaian dan tas yang dipakainya pasti branded. Memang modal utamanya itu ya duit... Mau cantik, mau putih, mau langsing, mau terlihat keren dan awet muda, semuanya cuma butuh satu kata. DUIT.
__ADS_1
Bersambung.