
Seharian saya dibuat heran sama sikap Si Botak yang banyak senyum dari pagi tadi. Dari ekspresinya, dia terlihat sangat bahagia. Dia juga begitu ramah sama saya. Mengantar saya dan menemani saya masuk sampai ke dalam gerbang sekolah.
Rupanya dia sangat ekspresif. Tipikal yang paling tidak bisa menyembunyikan perasaan. Apa yang sedang dia rasakan akan langsung terlihat dari ekspresi wajahnya. Saya ingat, saat pertama kali jalan sama dia, waktu mau belanja seserahan, dia terlihat kaku dan tanpa senyum sama sekali.Ternyata memang waktu itu batinnya sedang bergejolak alias bimbang, antara menikahi saya tapi masih berat memikirkan Meylan.
Dan pagi ini... Setiap kali dia bicara, binar matanya seperti memancarkan aura cinta... Yaaa, benar. Sepertinya dia sedang jatuh cinta. Apa Jangan-jangan dia jatuh cinta sama saya? aaah.. Tidak mungkin, protes hati saya.
"Mbak Ninis, mau berangkat sekarang?" tanya Mang Supri.
Keasyikan dengerin celotehan para Netizen sekaligus mikirin keanehan sikap Si Botak tadi pagi membuat saya lupa kalau saya harus ke kantor Disdik hari ini. Ada beberapa berkas yang harus saya serahkan. Saya harus bersiap-siap.
"Iya Mang."
...****************...
Terima kasih untuk malam yang indah ini. Malam dimana aku bisa menggenggam lembut tanganmu, menatap kilau indah matamu.....#Mey
Oooh.. Ternyata ini penyebabnya. Saya membaca status yang ditulis di instastorynya Si Botak. Dia mengetag nama Mey di situ. Sudah pasti itu Meylan. Hmm, sepertinya mereka sekarang sudah mulai dekat lagi.
Ah, biarkan saja. Berarti misi berjalan sukses. Mereka sebentar lagi akan bersatu kembali. Dan saya akan siap-siap menjadi janda kaya. Hihihi.
__ADS_1
Tapi apa tidak terlalu buru-buru. Apa kata orang nanti kalau saya sudah bercerai padahal belum lama menikah. Si Botak dan Meylan sebentar lagi akan rujuk dan pasti Si Botak akan menceraikan saya. Ya Allah, kenapa tidak terpikirkan ya?
Mungkin ada baiknya nanti saya tanyakan sama Si Botak. Saya akan tanyakan bagaimana langkah selanjutnya. Saya kan hanya mengikuti saja permainan mereka.
Saya mengecek ponsel saya. Ada beberapa WA yang masuk.
"Nis. Aku sama Mama lagi otw menuju Jakarta nih. Rencana pengen sekalian nginep di rumah Farid. Kebetulan, aku juga sedang ada proyek kerjaan di Jakarta. Sekalian ada undangan reunian juga. Gimana kabar kamu dan Farid?"
Deg. Itu pesan WA dari Ferinda. Kakak ipar saya.
Gawat. Saya melirik jam. Sekarang pukul 2 siang. Saya harus bersiap-siap. Bukan hanya itu. Mereka tidak boleh tahu tentang kondisi pernikahan saya yang sebenarnya dengan Mas Farid. Saya harus segera mengabarkan ke Mas Farid.
...****************...
Si Botak tadi mengabarkan dia pulang telat. Bu Atin sebentar lagi pulang. Mumpung dia masih ada di rumah, saya akan mulai menjelajahi lebih detail bagian rumah ini. Niatnya sih, ingin membereskan kamar tamu di atas untuk tempat tidur Mama dan kakak ipar saya nanti.
Di lantai bawah hanya ada tiga kamar. Satu yang saya tempati satu lagi yang dijadikan sebagai ruang kerja oleh Si Botak, dan satu lagi kamar berukuran kecil yang ada di dekat dapur. Kamar itu hiasa digunakan oleh Bu Atin untuk beristirahat di siang hari. Dalam hati saya penasaran juga seperti apa sih kamar atas. Tepatnya kamar yang pernah ditempati Si Botak dan Meylan waktu mereka masih jadi suami-istri.
Aktivitas saya di rumah ini lebih banyak saya habiskan di kamar yang saya tempati. Pulang kerja saya langsung masuk kamar, kadang nonton tv di ruang tengah. Lalu keluar menuju meja makan, ngobrol sambil makan bareng dengan Si Botak dan setelah itu masuk kamar lagi.
__ADS_1
Begitupun dengan Si Botak, dia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja.
...****************...
Ketika awal-awal saya pindah ke rumah ini, saya sudah pernah menyusuri seluruh ruangan di rumah ini meski tidak secara detail. Saya ingat betul, waktu itu Si Botak bilang, kamar atas sedang diperbaiki jadi untuk sementara saya dipersilahkan tidur di kamar bawah.
Nyatanya memang sampai sekarang saya tidur di kamar bawah. Dan dia tetap setia ngendon di ruang kerjanya.
Di ruang atas terdapat tiga kamar. Dengan penasaran saya buka pintu kamar yang terletak di samping kanan. Oalah, ternyata tidak dikunci. Deg..... Mata saya terbelalak. Sangat menakjubkan. Fantatis.
Ruangan kamar ini ternyata sangat luas. Jika dilihat dari luar memang kelihatannya biasa saja. Tidak begitu luas. Ternyata bagian dalamnya sangat luas dan megah. Desain kamar ini seperti kamar di hotel-hotel berbintang. Segala perabotan dan pernak-perniknya sangat cantik. Mulai dari karpetnya, lampu gantung, lampu tidur, tirai, model jendela, lemari, TV, meja rias, tempat tidur dan bed covernya hingga kamar mandinya. Semua terlihat sangat mewah.
Agak menghadap ke utara, di dinding bagian tengah terpajang foto mesra Si Botak dan Meylan dalam ukuran sangat besar. Sepertinya itu foto saat mereka prewedding. Mereka sangat bahagia di foto itu. Saling menatap penuh cinta.
Kamar ini nampaknya bersih dan rapih meskipun sudah tidak lama ditempati. Pantas saja, dia sangat menjaga kamar ini dan tidak ingin kamar ini ditempati oleh siapapun. Rupanya dia memang masih menyimpan harapan kalau kamar ini akan ditempati lagi oleh dia dan Meylan.
Bersambung.
__ADS_1