LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Dibakar Cemburu


__ADS_3

Saya menunggunya. Dia belum juga pulang. Pasti dia sedang merayakan ulang tahun Meylan di suatu tempat. Di insta storynya tadi dia mengirimkan foto meja restoran lengkap dengan bunga dan lilin. Pasti dia sedang bahagia dengan Meylan. Betapa bahagianya menjadi wanita itu. Seandainya saya yang menjadi dia....


Dua jam yang lalu dia mengabarkan kalau akan pulang telat malam ini. Seperti biasa, dia akan menyuruh saya untuk tidak menunggunya untuk makan malam. Saya ambil ponsel dan mulai mengetik beberapa kata.


Jangan lupa makan ya Mas. Semoga urusannya berjalan lancar. Take care.... Terkirim. Tapi belum dibaca. Mana sempat dia baca. Kan lagi asyik berduaan sama Meylan. Apalah arti pesan WA dari seorang Ninis. Tidak penting untuk dilihat.


Saya memang kalah. Kalah jauh jika dibandingkan dengan perempuan itu. Meylan begitu sempurna secara fisik. Pesonanya mampu meluluhkan hati Mas Farid hingga begitu mencintainya. Sedangkan saya?


Hati saya kembali memanas. Butiran bening menetes satu-satu. Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan sekarang? apakah saya harus menyerah? menyatakan kepadanya secara terus terang kalau saya mencintainya? dan saya ingin mundur dari permainan ini? masa bodoh dengan kompensasi yang akan saya terima. Saya tidak peduli!


Tapi jika saya jujur.. Itu akan semakin menyakiti saya. Kejujuran saya tidak akan membuatnya berpaling dari Meylan dan memilih saya. Malah bisa jadi, dia malah akan semakin risih dan menghindari saya.

__ADS_1


Dia pasti tidak akan pernah menerima saya. Apalah arti saya dalam hatinya? saya tidak lebih hanyalah seorang perantara untuk cintanya kepada Meylan.


Oh betapa sakitnya mencintai.... Seandainya sedari awal hubungan kami tidak serumit ini. Seandainya tidak ada sosok yang bernama Meylan. Seandainya dia benar-benar tulus ingin menjadikan saya istri dan bukan sebagai syarat yang diminta Meylan. Seandainya begini.. Dan begitu.


Maka mencintai dalam diam tetap menjadi jalan terbaik. Saya akan menjalani semua ini dengan pasrah. Bagaimana endingnya hanya Allah yang tahu. Saya harus menutup rapat perasaan ini. Bersikap biasa saja padanya dan tetap berusaha sewajarnya.


Saya akan tetap memperhatikannya, menjadi teman bicaranya, menjadi sosok yang selalu mendukungnya. Saya akan tunjukkan ketulusan hati saya sebagai teman atau sahabat yang menyenangkan. Intinya, saya akan selalu menjadi payung yang meneduhkannya. Dengan ketulusan dan perhatian saya, siapa tahu dia bisa luluh.


Dia tidak pulang. Apa dia menginap di apartemen Meylan? sehabis sholat subuh, saya tidur lagi dan baru terbangun jam setengah tujuh. Efek banyak nangis semalaman membuat saya aktivitas saya terhambat pagi ini. Saya kesiangan.


Saya berangkat buru-buru tanpa sarapan. Pikiran saya kacau. Memikirkan Si Botak yang tidak pulang semalaman. Dia pasti menginap di apartemen perempuan itu. Hati saya kembali memanas.

__ADS_1


"Ibu kok pucat? sakit ya?" tanya Bu Atin.


"Enggak Bu. Cuma semalam kurang tidur. Saya berangkat ya Bu!"


Di sekolah, pikiran saya kembali gelisah. Kemana dia semalam? mengapa dia tidak membalas WA saya. Kalau benar dia menginap di apartemen Meylan, apa yang mereka lakukan? Ya Tuhan, saya tidak sanggup membayangkan. Mereka pernah terjalin dalam ikatan yang sah sebagai suami istri. Menghabiskan waktu berdua dalam suasana yang romantis, jangan-jangan mereka melakukan....


Saya dibakar cemburu. Ingin rasanya mendatangi apartemen wanita itu dan melabraknya. Tapi siapa saya? saya tidak berhak untuk cemburu. Sebagai istrinya, saya memang sangat berhak untuk cemburu, tapi saya terikat dengan surat perjanjian itu.


Tenang Nis....kamu harus kalem. Misi saya belum selesai. Saya belum meretas whatsappnya dia. Kalau sudah diretas. Semua akan semakin jelas. Sabar... sabar. Saya harus kuat dan tidak boleh menuruti emosi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2