LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Harapan dan cinta


__ADS_3

Saya merasa percaya diri. Seakan sudah meraih dia kembali dalam genggaman saya. Setiap hari saya ke rumah sakit, merawat dan mengurusnya dengan sepenuh hati. Mama mertua begitu kagum melihat pengorbanan saya. Berkali-kali beliau memuji saya. Pujiannya membuat saya makin terbang. Harapan saya kembali mengawang.


Yess, ini adalah momen dan kesempatan di mana saya bisa menaklukan cintanya. Kepada saya, mama menceritakan lagi kronologis saat Si Botak kecelakaan. Pihak kepolisian dan rumah sakit yang menghubungi mama malam itu, karena nama itu yang dianggap ada hubungan keluarga dengan Si Botak. Yah, Si Botak memang tidak pernah menuliskan nama saya dengan panggilan spesial di ponselnya. Dia menyimpan nomor saya dengan nama saya, yaitu Ninis, dan bukan dengan kata istriku.


Mama berpamitan pulang. Saya mengantarnya sampai ke lobby rumah sakit. Ketika di lobby saya melihat beberapa orang. Mereka seperti akan menjenguk seseorang di rumah sakit. Nampak beberapa pria dan aah, sosok itu tidak asing lagi, mengingat saya pernah melihatnya sebelumnya.

__ADS_1


Sosok yang pernah dipilih Si Botak sewaktu habis nonton konser IL DIVO. Si Botak lebih memilih untuk menjemput sosok itu ketimbang pulang bareng saya, membiarkan saya pulang tengah malam diantar Rocky. Sosok itu juga yang pernah saya amati dari jauh waktu dia sedang ketemuan dengan Si Botak di Mall. Siapa lagi kalau bukan Reyna.


Wanita cantik berkulit putih berwajah indo dengan tubuh tinggi langsing itu sedang duduk di kursi lobby sambil menenteng keranjang buah. Dia datang ke sini untuk menjenguk Mas Farid. Reyna bersama empat orang pria dan satu wanita paruh baya.


Saya menghentikan langkah. Tiba-tiba saya grogi. Apa saya buru-buru naik ke atas ya? supaya lebih bersiap-siap kalau mereka nanti tiba di kamar rawat. Si Botak kan belum banyak bergerak. Pasti dia membutuhkan saya untuk menyambut teman-temannya. Selain itu, ini bisa jadi momen yang tepat untuk saya memperkenalkan diri sebagai istri Mas Farid.

__ADS_1


Baiklah, saya akan naik ke atas. Beneran, ini seperti akan memasuki ruang ujian. Kok saya makin grogi ya? apa saya merasa minder karena akan dikenalkan oleh teman-teman Si Botak? Si Botak kan tidak pernah mengenalkan saya pada teman-temannya. Dia juga tidak pernah cerita kalau dia sudah menikah dengan saya.


Lama saya berdiri di depan pintu kamar rawat. Sengaja, saya tidak buru-buru masuk. Saya ingin menguping pembicaraan mereka. Pembicaraan mereka nampak seru. Saya lihat, Si Botak tersenyum lepas. Dia juga nampak mengobrol dengan Reyna. Aneh, dia kelihatan ceria, padahal selama saya merawatnya di sini, dia tidak pernah tersenyum lepas seperti itu. Selalu saja diam dan tanpa ekspresi.


Saya jadi makin ragu untuk masuk. Aah, biar saja, tokh dia tidak menelpon saya untuk masuk dan berkenalan dengan teman-temannya. Apa mungkin dia belum siap untuk mengenalkan saya pada teman-teman kantornya?

__ADS_1


Rasa inscure kembali menyelimuti saya. Melihat betapa cantik dan anggunnya Reyna. Si Botak nampak senang sekali mengobrol dengannya. Ekspresi wajahnya tidak lagi datar. Dia mulai banyak tersenyum dan tertawa. Tahan...Tahan, Nis! saya kembali dilanda cemburu.


Bersambung.


__ADS_2