LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Status WA


__ADS_3

Saya memasuki ruang guru dengan langkah pelan. Pikiran saya masih tertambat di dalam mobil. Pada sosok berkepala botak yang lagi mabuk kepayang. Hati saya memanas. Hubungan mereka sepertinya makin intens. Mereka pasti janjian untuk ketemu hari ini. Saling melepas rindu dan memadu kasih.


Suara ribut-ribut mengejutkan saya. Ya ampun. Ada apa ini? suasana pagi yang tenang mendadak menjadi menegangkan. Beberapa guru mulai melerai. Rupanya terjadi keributan. Pak Husein melabrak Mr Black. Entah apa masalahnya, saya tidak tahu. Yang jelas, Pak Husein nampak begitu emosi sampai mencengkram kerah baju Mr Black. Mr Black terlihat pucat dan ketakutan.


"Sudah Pak! sudah! malu nanti dilihat anak-anak. Istighfar Pak Husein..!" beberapa guru nampak kompak menenangkan Pak Husein. Pasti ini ulah Mr Black. Siapa lagi Lelaki bermulut perempuan itu kan memang senang mencari gara-gara. Saya tahu betul bagaimana Pak Husein. Pak Husein bukan tipe yang banyak bicara. Orangnya baik dan mengayomi. Mungkin kali ini, Pak Husein sudah sangat sakit hati hingga harus memberi pelajaran pada Mr Black.


Akhirnya mereka berhasil dileraikan. Pak Husein sempat mendorong tubuh Mr Black hingga nyaris terjungkal ke belakang. Saya mencolek Bu Ratu dan memberi isyarat bertanya apa yang terjadi dengan mereka. Sambil berbisik, Bu Ratu bercerita kalau Mr Black mengatakan kepada beberapa guru dan orangtua murid kalau Pak Husein telah menggelapkan dana perpisahan siswa tahun lalu. Padahal itu sama sekali tidak terbukti.


Ya ampun. Benar-benar keterlaluan Si Hitam ini. Waktu itu dia memang iri karena dia tidak dilibatkan dalam kepanitian. Tak disangka, buntutnya malah menebar fitnah. Benar-benar punya nyali juga dia memfitnah Pak Husein. Pak Husein kan mantan atlet Taekwondo. Kalau tidak dilerai tadi, sudah habis Mr Black dibikin babak belur.

__ADS_1


Bu Endang turun tangan. Kedua orang itu beserta beberapa guru dipanggil ke ruangannya. Saya bersiap-siap untuk masuk ke ruang kelas saat ponsel saya berbunyi. Ada pesan WA yang masuk. Mama mertua mengirimkan saya resep cumi bakar bumbu rica-rica dan juga sup ikan kuah asam. Dua-duanya adalah kesukaan Mas Farid. Wah, ini kode dari mama kalau saya harus segera mempraktekkan resep-resep itu.


Saya mengucapkan terima kasih kepada Mama atas resep-resep yang dikirimkannya. Segera, saya akan mencoba mempraktekkannya. Kelihatannya gampang buatnya. Waktu kemarin menginap, Mama sempat bilang kalau Mama senang sekali jika Farid punya istri yang bisa masak. Bisa diandalkan dalam urusan dapur. Apalagi, Farid sangat senang masakan mamanya.


Hmmm.. Baiklah. Kalau untuk urusan masak saja sih, kecil buat saya. Siapa tahu dari masakan, nanti Si Botak bisa kepincut sama saya, heheheh.


Dasar lelaki tidak punya hati. Dia sudah berani terang-terangan sekarang. Apa dia tidak berpikir status WA nya itu akan terbaca oleh orang-orang yang ada di datar kontaknya. Termasuk saya, mamanya, Kak Ferin dan juga teman-temannya. Mungkin dia mengatur agar statusnya tidak terbaca oleh semua orang. Tapi saya sudah melihat statusnya itu. Foto Meylan yang cantik jelita terpampang di sana.


Hati saya kembali memanas. Saya mendadak lemas dan tidak bersemangat untuk masuk kelas. Duh, apa-apaan ini. Saya tidak boleh lemah. Saya harus profesional. Bagaimana pun remuknya hati saya, saya harus tetap mengajar. Murid-murid sudah menunggu saya di kelas.

__ADS_1


Saya pun melangkah menuju kelas V B. Kelas paling rusuh dan menuntut kesabaran ekstra. Seperti biasa, kelas langsung hening begitu saya masuk. Tapi hanya sebentar saja, suasana mulai ramai lagi. Beberapa anak nampak saling melempar kertas secara diam-diam, disusul dengan teriakan-teriakan. Saya mulai bertindak dan menertibkan mereka.


Seketika bayangan status WA Si Botak muncul lagi dalam pikiran saya. Rupanya hari ini, Si Meylan ulang tahun. Pantas saja Mas Farid kelihatan begitu sumringah pagi ini. Mungkin mereka sudah merencanakan untuk merayakannya bareng-bareng. Kira-kira Si Meylan dikasih kado apa ya dari Mas Farid? kadonya pasti mahal dan keren. Hati saya memanas lagi. Kali ini saya terisak. Butiran hangat mulai menggenang di pinggir mata saya.


"Bu guru kenapa?" tanya Maura


"Enggak papa kok. Mata Ibu kemasukan debu. Jadi perih deh!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2