LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Ikuti Permainan


__ADS_3

Kira-kira apa kompensasi yang akan dia berikan pada saya ya? saya penasaran. Rumah, uang miliaran, mobil?


Demi sebuah cinta, dia rela harus melakukan semua ini. Benar-benar bucin maksimal. Jika saya ikuti kemauannya, dia akan kembali lagi pada mantan istrinya dan saya akan mendapatkan kompensasi yang sesuai... Hmmmm... That’s not bad. Mungkin inilah jalan terbaik. Nilai Kompensasi yang saya dapatkan dari dia mungkin nantinya akan sangat berguna untuk orangtua saya...


Saya tidak boleh bodoh. Saya harus bertindak cerdas dan bermain cantik. Kuat. Kuat... Saya harus kuat. Enyahkan rasa sakit hati dan nelangsa ini. Saatnya mengoptimalkan akal sehat.


Malam ini, sebuah keputusan akan saya ambil. Semoga keputusan ini nantinya akan memberikan pencerahan buat kehidupan keluarga saya. Keputusan yang membuat saya berpikir realistis. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari takdir hidup saya.


Kenyataan pahit ini harus saya terima.


...****************...


Saya keluar dari kamar dan bersiap-siap. Nampak Si Botak itu sedang duduk di meja makan. Tumben dia berangkat agak siang. Ini sudah jam setengah delapan.


"Pagi Ninis. Ayo, sarapan. Kamu mau sarapan apa? ada wafel, roti isi telur, roti selai juga ada. Ada bubur ayam juga nih."


Dia menawari saya sarapan dengan ekspresi yang begitu gugup. Seolah takut salah atau seperti habis bikin salah. Tapi memang jelas dia sudah bersalah.


"Tumben berangkat siang Mas? biasanya pagi-pagi sekali berangkatnya."


"Ya, kebetulan agak santai hari ini. Janjian dengan klien jam 10."

__ADS_1


Kemarin-kemarin berangkat pagi-pagi buta karena ingin menghindariku kan! ucap saya dalam hati.


"Kamu tumben pakai seragam. Hari ini sudah mulai masuk?" tanyanya.


Saya mengangguk.


"Hari ini saya ke sekolah Mas. Bosan di rumah terus. Sudah kangen juga sama sekolah."


"Oh iya, mengenai tawaran yang Mas Farid tawarkan pada saya...Saya putuskan untuk menerimanya!"


Si Botak itu kaget. Hampir saja dia tersedak.


"Sudahlah, Mas. Saya sadar kok. Cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan. Jadi Kira-kira imbalan apa saja yang akan saya terima?"


"Saya serius ingin bantu Mas Farid. Saya akan ikuti semua prosedur yang sudah Mas Farid rancang selama ini. Demi Meylan, supaya dia bersedia kembali lagi. Dan memang itu kan syarat dari dia?"


"Tak usah pikirkan bagaimana perasaan saya. Saya sudah ikhlas menerima semua ini. Mungkin ini sudah jalan hidup saya...."


Si Botak mendadak bengong seolah tak percaya, tapi kemudian dia menjawab, "baiklah kalau begitu."


Maka pagi itu, kami lewatkan dengan sarapan bersama. Saya berusaha tegar meskipun hati saya terus menangis. Saya harus kuat. Tidak boleh terlihat menangis di hadapannya.

__ADS_1


Saya memang belum mencintai pria ini. Tapi saya sudah berharap untuk bisa mencintai dan dicintai dengan tulus oleh pria ini. Pria pilihan Bu Endang yang dikenalkan pada saya. Yang akhirnya kini menjadi suami saya. Saya menikah dengannya dengan niat yang tulus, ingin membangun rumah tangga yang sakinah, ingin membangun pilar-pilar ibadah.


Ingin membahagiakan orangtua saya.


Harapan saya begitu besar untuk merajut masa depan dengannya. Tapi hidup kadang memang berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dan inilah kenyataan hidup yang harus saya hadapi sekarang. Semua benar-benar di luar dugaan.


Dia mengantar saya ke sekolah pagi itu. Awalnya saya enggan. Dia bilang, sekalian saja. Dia tidak keberatan mengantar saya terlebih dulu. Meskipun canggung, saya akhirnya bersedia.


Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Hanya saja, pada saat saya hendak turun, dia sempat mengucapkan beberapa kata.


"Nis, terimakasih banyak ya. Aku janji aku akan penuhi janjiku. Segera akan aku buat surat perjanjian itu. Sekali lagi terimakasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu. Kamu wanita yang baik, kelak kamu akan mendapatkan sosok laki-laki yang baik pula. Jauh lebih baik daripada aku. Percayalah Nis..."


Saya menggangguk sambil berusaha tersenyum.


"Kita akan tetap berteman Nis!" ucapnya sambil menjabat tangan saya.


"Iya Mas." Saya pun balas menjabatnya.


Dengan langkah yang ringan saya memasuki gerbang sekolah. Berharap ada kesibukan yang bisa saya lakukan hari ini di sekolah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2