
"Iya sih, Mbak. Shinta memang sudah punya pacar. Sudah pacaran kurang lebih tiga tahun sama teman kuliahnya itu. Tapi, jujur saja, saya kurang sreg sama pacarnya itu. Saya berharap, Shinta dapat jodoh yang sudah mapan, seperti Mbak Ninis." Ujar Bu Probo malu-malu.
Deg. Saya jadi makin geli liat ekspresinya. Waduh, kenapa jadi malu-malu gini sih ngomongnya, Bu? giliran di belakang saya aja berani ngomongin sampai menggak menggok itu bibir.
Saya tersenyum sinis. Seolah menunjukkan kepadanya betapa beruntung dan bersyukurnya saya bisa punya suami mapan.
" Ya, Alhamdullilah, Bu. Saya juga tidak tahu, kalau saya bakalan berjodoh dengan Mas Farid. Awalnya cuma kenalan biasa. Waktu itu saya sedang ke rumah Bu Endang untuk menyerahkan laporan, dan Mas Farid ada di situ."
"Lalu kami berdua dikenalkan, dan siapa sangka kalau Mas Farid langsung menanyakan nomer ponsel saya pada Bu Endang. Lalu dia sering menghubungi saya dan akhirnya mengajak nikah." Saya menjelaskan dengan singkat.
"Oalah, beruntung sekali ya Mbak Ninis. Benar-benar gak disangka ya? eh, tapi saya dengar-dengar, bukannya ditaarufkan dengan Bu Endang?" tanya Bu Probo dengan tatapan menyelidik.
"Bu Endang hanya mengenalkan. Ya, kalau Mas Farid tidak naksir saya, ya enggak mungkinlah, dia akan minta nomer ponsel saya!" jawab saya dengan nada tinggi. Hahahaha, sepertinya Bu Probo makin keki mendengar jawaban saya.
__ADS_1
Dalam hatinya, dia pasti keheranan, bagaimana seorang Ninis bisa menggaet seorang pengacara tampan dan juga mapan. Saya tahu, Bu Probo sangat penasaran dengan hal itu. Berkali-kali, beliau pernah membicarakan saya.
Kok bisa ya Ninis? kok bisa ya Ninis nikah sama pengacara kaya dan tampan? andai tembok di ruang operator bisa bicara, hehehehe. Tembok itu bisa menjadi saksi yang menguatkan tentang beberapa kali Bu Probo membicarakan saya dengan trio nyinyir sahabatnya itu.
Dan sekarang, tampangnya terlihat polos dan malu-malu. Meski saya tahu dalam hatinya, beliau pasti sedang keki berat.
"Bu Probo, lebih baik tidak usah memaksakan pilihan. Lagipula, belum tentu Shintanya setuju dengan pilihan Ibu. Sekarang zaman modern, Bu. Udah gak zamannya sistem perjodohan. Lebih baik, Ibu dukung Shinta dengan pilihannya. Kelihatannya, pacarnya itu anak baik kok."
"Dan sepengetahuan saya, di kantornya Mas Farid sudah gak ada yang single deh. Kebanyakan sudah menikah semua. Maaf, saya harus pergi Bu. Saya duluan ya, Bu! assalamualaikum!" saya pun bergegas ke luar ruangan.
Jam setengah lima nanti saya harus ke studio foto. Saya harus secepatnya pulang untuk mandi dan bersiap-siap. Oh iya, saya juga sudah mengabarkan Bu Ratu tentang tawaran dari Si Fotografer ganteng itu.
Bu Ratu sangat antusias dan mendukung saya. Beliau memberikan saya beberapa tips untuk bisa lepas dan maksimal saat di foto.
__ADS_1
...****************...
"Nduk, mau kemana? baru pulang kok sudah mau pergi lagi?" sambil bertanya, Ibu menatap saya penuh keheranan.
"Ada urusan sebentar Bu."
"Kok dandananmu gak kayak biasanya? kamu mau kemana? mau ketemu siapa?" sorot mata Ibu seperti menyelidik.
Duh, sepertinya Ibu mulai curiga nih. Pandangannyà terus menyoroti saya dari atas sampai ke bawah. Penampilan saya sore ini memang terlihat beda. Saya memoleskan riasan make up tipis juga memakai outfit terbagus yang saya punya.
Bersambung.
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.
__ADS_1
Matursuwun.