
FARID
Aku memang tidak ke rumah Rian malam ini. Maafkan kebohonganku, Nis. Malam ini aku ada janji dengan Meylan. Dia memintaku untuk datang di acara fashion show yang digelar di Hotel Amadeus. Kebetulan jarak dari rumah ke Hotel Amadeus hanya memakan waktu 35 menit. Untunglah aku tidak terlambat. Acara fashion show yang digelar di Hotel itu baru mulai sekitar jam 9 lewat sedikit.
Malam itu dibawah cahaya temaram lampu panggung, Meylan tampil. Melenggak-lenggok dengan anggunnya. Dia begitu cantik bak Dewi dari khayangan. Tubuh tinggi semampainya sangat kontras dengan busana yang membalutnya. Malam ini, dia tampil membawakan rancangan baju karya Stefanus Ricky, seorang desainer muda yang sedang naik daun.
Hatiku berdesir saat menatapnya. Pesona kecantikan Meylan benar-benar membiusku. Aaah, aku benar-benar jatuh hati padamu, Meylan. Belum pernah aku merasakan perasaan sehebat ini. Dan kini, aku akan mendapatkanmu kembali. Sabar sayang, kelak kita akan bersatu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku janji, akan melakukan apa saja asal kau tetap selalu di sisiku.
...****************...
"Kamu makin cantik saja, Mey. Kecantikanmu seakan tidak pernah luntur. Semakin hari semakin bersinar."
"Bisa aja, Mas. Dari dulu begini aja kok."
Jantungku masih berdebar kencang saat Meylan bergerak menghampiriku. Aroma parfumnya benar-benar membuatku mabuk kepayang. Dia duduk di kursi dengan anggunnya. Kami menghabiskan waktu malam itu dengan mengobrol. Dia juga bertanya tentang pernikahan baruku. Dan juga tentang istriku.
Aku katakan padanya kalau Ninis, wanita yang baru saja kunikahi sudah tahu dan bahkan sudah menyetujui rencana yang aku tawarkan. Mendengar itu Meylan hanya tersenyum.
"Bahkan aku juga sudah memberikan kompensasi padanya. Semua aku lakukan untukmu," ucapku pasti.
"Apa? jadi kamu benar-benar...? dan perempuan itu mau saja untuk menyanggupi? hello, apa dia masih waras?" Meylan membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Ninis menyanggupi. Dia juga tidak mencintaiku, Sayang. Dia terpaksa menikah denganku. Dia lakukan semuanya demi uang, demi memperbaiki kehidupan keluarganya. Ketika aku jujur tentang alasanku menikahinya, dia tidak shock atau sedih. Malah, dia akhirnya mendukung rencanaku ini. Rencana kita tepatnya. Percayalah, Sayang."
Meylan tidak menjawab. Dia nampak keheranan. Mungkin dia tidak percaya dengan kata-kataku. Dia pasti berpikir, aku berbohong.
"Kalau kamu tidak percaya. Aku bersedia mengenalkanmu pada Ninis. Dia perempuan yang baik. Jujur, polos dan apa adanya.
"Boleh, aku lihat fotonya?' tanya Meylan
Aku tidak menyimpan foto Ninis di ponselku. Eeh sebentar, sepertinya ada nih foto pernikahan kami yang kusimpan di ponsel. Hanya ada satu.
"Manis. Mustahil, perempuan semanis itu tidak membuatmu suka, Mas!" ujar Meylan dengan santai.
"Tapi aku tidak mencintainya, Sayang. Di dalam hatiku, hanya ada kamu. Sampai kapanpun, kamu tidak akan terganti. Aku sama sekali tidak tertarik padanya."
"Sama sekali tidak. Well, aku hargai usahamu, Mas. Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan melakukan hal segila ini, hahahaha." Dia tertawa lepas.
"Ini semua ide kamu kan? sebagai syarat untuk kita bisa bersatu lagi? tenang, Sayang. Aku tidak akan jatuh cinta padanya. Tidak akan. Status kami memang suami istri. Tapi jauh di dalam lubuk hati, baik aku dan dia sama-sama tidak saling menginginkan. Hubungan kami tidak lebih hanya sebatas mitra bisnis. Dia membantuku memuluskan rencana kita, dan aku memberinya kompensasi sebagai bentuk imbalan. Itu saja," ucapku dengan tegas.
Meylan tertawa lagi. Aku meraih jemarinya untuk kugenggam. Kukecup tangannya.
"Tadinya, kupikir dia akan marah besar dan langsung menggugatku ke pengadilan karena merasa dia telah ditipu."
__ADS_1
"Nyatanya tidak. Dia malah menyanggupi dan bersedia mengikuti permainan kita."
"Berapa kompensasi yang kamu berikan pada dia, Mas?" tanya Meylan.
Aku menyebutkan segala aset yang aku berikan pada Ninis.
"Wow. Banyak juga Mas. Gila ya kamu!"
"Sayang, kegilaan ini tidak akan sebanding dengan kembalinya lagi kamu ke pelukanku! aku sangat mencintai kamu. Aku rela berkorban apa saja asalkan kita bisa bersatu lagi." Aku mulai merajuk dan memohon padanya.
"Aku tahu, Mas. Tapi apa kamu mau secepatnya menceraikan Ninis. Apa kata orangtuamu nanti dan juga orangtua dia? baru nikah sebentaran, masak sudah cerai?"
"Lalu setelah menceraikan dia, kamu rujuk lagi dengan aku. Apa kata orang nanti? bisa-bisa aku dianggap pelakor!'
"Ninis sama sekali tidak keberatan, Sayang. Dan sesuai perjanjian, selama ini dia tidak pernah buka mulut tentang semua ini. Dia tidak pernah menceritakan kepada orangtuanya atau keluarganya kalau pernikahan kami adalah pernikahan sandiwara!" tandasku.
"Ok.. Tapi paling tidak, kita ada jeda dulu lah, Mas. Jangan langsung menggugat cerai dia. Aku ingin kita menjalani ini pelan-pelan. Kita dekat lagi, kita pacaran lagi, kita rasakan lagi kebersamaan kita yang pernah hilang. Kita pacaran dulu aja ya!" pintanya manja.
Meylan meraih tanganku dan menaruhnya di pipinya yang lembut. Aku semakin tidak tahan untuk merengkuhnya dalam pelukanku.
Jam sudah menunjukkan pukul dua malam lewat lima belas menit. Aku harus pulang. Meylan pun tidur di hotel malam itu. Setelah mengantarnya sampai depan kamar dan memeluknya, aku pamit dan bergegas menuju parkiran.
__ADS_1
Bersambung.