LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Meylan mendorongku


__ADS_3

Farid


Dengan sekuat tenaga Meylan mendorongku. Wajahnya terlihat sangat emosi sekaligus jijik menatapku. Tak hanya itu, dia juga menamparku. Ini benar-benar aneh. Meylan tidak pernah sekasar ini padaku.


"Cukup, Mas. Aku mohon, lepaskan aku. Lupakan semua yang sudah kita rencanakan. Aku sudah membuat keputusan. Aku tidak akan kembali lagi sama kamu. Dan jangan pernah ganggu aku lagi!!!"


"Mey.....Tidak bisa Mey...Tidak akan bisa...."


Beberapa pasang mata semakin lekat menatapku. Seakan-akan memintaku untuk segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan Meylan. Emosiku semakin memuncak. Terlebih, saat dua orang security mulai menghampiriku. Meylan melangkah mundur dan secepatnya bergegas menjauhiku.


Ini tidak bisa dibiarkan. Lihat saja, Mey...Aku tidak akan menyerah. Aku harus membawamu kembali lagi ke pelukanku.....


...****************...


Pasti laki-laki itu yang membuat Meylan berubah. Pasti. Meylan tidak pernah sekasar ini padaku. Kuraba pipi diriku yang masih terasa panas bekas tamparan Meylan tadi siang. Hatiku kembali memanas. Mengapa dia berubah begitu cepat. Aku telah melakukan semua demi dia. Hanya dia....Kenapa Mey? kenapa kamu setega ini padaku?


Rasa penasaran kembali menggelegak. Siapa lelaki itu? Tidak mungkin mereka hanya berteman biasa. Meylan pasti menutupi sesuatu dariku


Tanpa sadar air mataku menetes. Hatiku hancur seketika. Saat kami bercerai waktu itu, aku tidak merasa sehancur ini. Mengapa kini aku harus terhempas oleh kenyataan pahit yang begitu menyesakkan, di saat harapanku begitu kuat untuk memilikinya kembali?

__ADS_1


Tidak.....Aku tidak boleh menyerah? apapun akan kulakukan untuk mendapatkan dia lagi. Lihat saja nanti....Meylan pasti akan merasakan betapa besar cintaku padanya...Hanya aku yang terbaik untuknya. Hanya aku!!!


...****************...


Bug....Bug....Plak....Hantaman bertubi-tubi mendarat di punggung, perut dan juga bahuku. Aku jatuh tersungkur.....Dua orang pria bertubuh kekar mendekatiku. Mereka mengangkat tubuhku dan membawaku menuju mobil. Pandanganku berkunang-kunang. Kemana mereka akan membawaku? rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhku.


Mereka membawaku menuju UGD sebuah rumah sakit. Beberapa petugas medis segera menanganiku, dan dua orang pria bertubuh kekar itu bergegas pergi. Tuhan, apa maksud semua ini? setelah mereka menghantamku dengan pukulan dan tendangan, kini mereka membawaku ke rumah sakit? rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang dibuat Meylan terhadapku.


Aku pasrah.....sepertinya memang itu yang bisa aku lakukan sekarang. Ponselku berbunyi. Aku tidak bisa mengambilnya. Pukulan di tulang rusuk membuatku harus merasakan nyeri ketika harus bergerak. Aaah, sakit sekali. Suntikan penghilang nyeri membuat mataku mengantuk. Aku pun tertidur.


Cahaya matahari menembus sela-sela jendela. Aku terbangun. Pandanganku berputar ke arah langit-langit kamar, dinding putih, pintu dan kembali lagi memandangi tubuhku yang terbaring di tempat tidur. Jadi aku di sini sekarang. Rasa nyeri di tubuhku mulai berkurang. Aku mulai memiringkan badan dan mengambil ponselku.


Ada 25 panggilan tak terjawab dari mama. Dan tak ada satupun yang kuangkat. Bayangan wajah mama muncul seketika. Farid kangen Ma..... Rasanya ingin menceritakan semua ini ke mama. Tapi tidak, aku tidak akan menceritakan semua ini pada Mama. Tidak akan pernah...


Tanpa sadar airmata meleleh. Mengapa harus seperti ini? kukejar dia yang sangat kucintai sepenuh hati....Tapi mengapa harus perih yang kuterima? Meylan, mengapa dirimu tega padaku?


Ini semua berawal dari kejadian kemarin saat aku nekat mendatangi kantor agency. Saat itu sudah sore. Kantor juga sudah sepi. Aku melangkah masuk, mengendap-ngendap perlahan menuju ruangan Meylan. Aku lihat di sedang duduk sambil teleponan, entah dengan siapa. Tapi wajahnya terlihat sangat sumringah. Dia sangat cantik. Darahku berdesir tiap kali memandangnya.


Meylan terkejut melihat kedatanganku. Wajahnya langsung berubah. Dia terlihat judes dan tidak mau menatapku. Aku katakan padanya, aku tidak bisa hidup tanpa dia. Aku ingin dia kembali padaku. Meylan katakan tidak bisa. Dia tetap ingin putus. Aku tidak bisa mengendalikan emosi.

__ADS_1


Kutarik tangan Meylan dengan kasar dan bersiap untuk membawanya keluar dari ruangan. Aku tidak main-main. Aku berencana akan membawanya ke suatu tempat, dan di tempat itu aku akan menunjukkan pada Meylan, bahwa aku lebih baik mati daripada aku harus kehilangan dirinya.


Meylan sekuat tenaga melepaskan tangannya. Aku semakin kuat mencengkram lengannya. Meylan berteriak, hingga akhirnya dua orang pria bertubuh kekar menarik kerah bajuku dan membawaku keluar gedung. Aku dipukuli. Entah siapa mereka? apa mereka sekurity kantor? atau bodyguard Meylan?


Pukulan-pukulan mereka membuatku terhuyung dan jatuh tidak sadarkan diri. Mereka kemudian membawaku ke rumah sakit ini. Aku baca lagi pesan masuk. Ternyata dari Meylan.


Mas......Maafkan aku....Aku terpaksa meminta bantuan mereka untuk melindungiku. Aku juga yang meminta mereka untuk membawamu ke rumah sakit. Aku mohon tinggalkan aku dan belajarlah untuk melupakanku. Aku yakin, kamu bisa. Pasti bisa. Kamu laki-laki yang baik, kamu berhak untuk mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Aku bukan sosok wanita yang ideal di mata Mama kamu. Sampai kapanpun tidak akan bisa.....Maka, izinkan aku mengejar kebahagiaanku sendiri.


Saat kamu membaca pesan ini, aku sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat di belahan benua lain untuk urusan pekerjaan. Jadi jangan cari aku, karena aku tidak sedang berada di Hongkong sekarang.


Oh iya, laki-laki yang kemarin jalan denganku itu adalah Mr Chang...Dia anak seorang Taipan Singapore...Pemilik beberapa perusahaan raksasa. Kami memang sedang dekat....Maafkan aku Mas..Sekali lagi maafkan aku. Terima kasih untuk semua hal terindah yang sudah kamu berikan untuk aku. Selamanya aku akan selalu mengenangmu.. Kamu akan selalu menjadi bagian dari kenangan terindahku. Kini, izinkan aku mengenangmu sekali lagi sebagai bagian dari masa laluku.....


Cepat sehat ya Mas....Salam untuk Ninis*...


Aku menarik nafas. Mencoba menenangkan gejolak hatiku. Mey, benarkah semua ini? tubuhku makin lemas. Benarkah semua ini terjadi? haruskah kekalahan ini aku terima? air mataku mulai menetes lagi. Kucoba menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Berarti benar, dia sudah pergi.....Dia telah benar-benar pergi meninggalkanku.


Sungguh realita yang sangat pahit. Tapi harus kuterima....Mau tidak mau.. Luka ini akan tetap menjadi luka. Luka cinta yang tidak akan pernah ada obatnya.....Ya Tuhan, mengapa sakit sekali rasanya? aku mencoba bangkit dari tempat tidur saat perawat datang untuk memeriksa kondisiku. Mereka mengatakan kondisiku sudah membaik.


Besok aku sudah boleh pulang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2