LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Tentang perasaan


__ADS_3

"Maksud, kamu?" ekspresi wajah Reyna mendadak datar. Sepertinya dia terkejut dengan pertanyaan saya.


"Ya, hubungannya apa sampai Mas Farid meminta kamu untuk menemui saya. Mengapa bukan dia sendiri saja yang mendatangi saya. Harusnya dia gentle dong!"


"Saya sangat menyayangkan sikapnya yang juga yang masih takut menemui saya. Wajarlah kalau saya memblokir nomer whatsappnya dan tidak mau menerima panggilan dari dia. Saya ingin dia datang sendiri. Menyusul saya atau memohon pada saya, jika dia memang benar-benar merasa bersalah."


Entah mengapa ucapan itu meluncur saja dari bibir saya. Duh, kenapa saya tidak bisa bersikap tenang, sih. Rasanya spirit motivasi dari Enrico menguap begitu saja saat saya berhadapan langsung dengan Reyna. Rasa insecure saya mulai muncul dan untuk meminimalisirnya saya mengeluarkan ucapan ngegas.


Reyna terlihat terkejut, seolah mengerti perasaan saya, dia menenangkan saya dengan senyuman. Pantas saja, Si Botak betah dekat-dekat sama dia. Senyuman Reyna benar-benar menawan.


"Saya dan Mas Farid hanya berteman. Dia baik sekali sama saya. Tapi saya tidak pernah menganggapnya lebih. Dan apa yang saya lakukan saat ini, hanyalah murni untuk membantunya. Itu saja. Mas Farid pernah menolong saya dan tidak ada salahnya saya balas menolong."


"Mas Farid meminta saya untuk menemui kamu untuk membicarakan masalah hubungan kalian. Dan maaf, saya juga sudah ada calon. Insya Allah, kami sudah ada rencana untuk menikah. Mas Farid juga yang berperan dalam hubungan saya dengan calon suami. Calon suami saya adalah teman baik Mas Farid. Pengacara juga." Reyna menjelaskan.

__ADS_1


Saya sedikit lega mendengar penjelasan Reyna. Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati saya.


"Maaf Rey, apa maksud Mas Farid ingin bertemu dengan saya? apa dia ingin bertemu dengan saya hanya untuk membicarakan masalah surat perjanjian itu lengkap dengan memberikan kompensasi lalu dia akan melepaskan saya dan kami akan bercerai ataukah sebaliknya dia tetap ingin mempertahankan saya di rumah itu untuk mengurusnya tanpa sedikit pun ada perasaan di hatinya terhadap saya?" lagi-lagi saya keceplosan. Biarlah, tokh Reyna juga sudah tahu semuanya. Reyna makin terkejut. Mungkin, dia tidak menyangka saya seberani ini.


"Boleh aku tahu perasaanmu yang sebenarnya terhadap Mas Farid?" tanya Reyna sambil berbisik.


Saya mulai meneguk jus melon untuk meredakan emosi. Sebenarnya saya ragu untuk menjawab. Tapi biarlah, biar Reyna tahu juga tentang perasaan saya.


" Apa kamu mencintai Mas Farid?"


"Saya jatuh hati padanya seiring berjalannya waktu." Awalnya saya memang cukup tahu diri. Saya ikuti tawaran yang dia ajukan, saya tanda tangani surat perjanjian itu. Saya pikir tidak ada salahnya saya melakukan hal itu. Kecewa dan merasa tertipu, sudah pasti. Tapi menyerah dan menyatakan semuanya pada orangtua bukan perkara yang mudah seperti membalikkan telapan tangan."


"Mereka punya perasaan. Dan saya tidak mau membuat mereka sedih dan terluka. Di sisi lain, saya juga harus mengedepankan logika. Kompensasi yang dia tawarkan sangat menggiurkan. Saya juga butuh uang," ucap saya santai.

__ADS_1


Sebisa mungkin saya tidak boleh terlihat sedih. Saya menarik nafas untuk tetap terlihat rileks.


"Siapa yang sangka, kalau perlahan demi perlahan, saya jatuh cinta padanya. Harapan bahwa saya kelak akan menjadi wanita satu-satunya terus tumbuh. Saya menginginkannya, saya merindukannya setiap saat. Saya menantikan keajaiban hampir setiap hari untuk bisa bersamanya secara nyata, meskipun lagi-lagi harus berkaca pada realita. Cintanya dia bukan untuk saya, melainkan untuk perempuan itu."


"Dan harapan itu muncul, ketika saya dengar kalau Meylan memutuskannya dan membatalkan niatnya untuk rujuk. Di situ saya melihat, Mas Farid sangat kecewa. Dia sangat terluka.


"Sikapnya pada saya mulai berubah. Tidak ada lagi keramahan dari sinar matanya. Tak ada lagi senyum manisnya. Dia mengacuhkan saya, menganggap saya seolah tak ada. Sampai akhirnya, dia mendapat musibah kecelakaan dan saya dengan ikhlas merawatnya. Tapi itu tetap saja membuat dia tidak berubah. Dia selalu diam dan mengacuhkan saya seolah-olah dalam hatinya masih ada Meylan dan Meylan"


Sebisa mungkin saya tahan butiran bening yang sebentar lagi akan menetes. Saya tidak boleh menangis. Saya harus menunjukkan kalau saya kuat.


Bersambung.


Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.

__ADS_1


Matursuwun.


__ADS_2