LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Masih Jadi Sorotan


__ADS_3

Saya tidak tahu jam berapa Si Botak pulang semalam. Yang jelas pagi ini, dia sudah bangun. Wajahnya kelihatan berseri. Sekarang hampir setengah delapan pagi. Saya tidak ada jadwal mengajar hari ini. Hanya siang nanti harus ke kantor Disdik untuk menyerahkan berkas laporan.


Dia mengajak saya sarapan bahkan menaruh beberapa potong roti isi selai ke piring saya. Aneh.Tidak biasanya dia menservis saya begini.


"Nanti aku anter sampai sekolah ya Nis! kebetulan searah. Aku mau sekalian ke bengkel yang deket sama SDN Melati," ujarnya


"Oh iya Mas. Semalam pulang jam berapa?" tanya Saya.


"Hmm, sekitar jam 1 an ya. Aku juga lupa karena udah ngantuk banget. Aku juga kan gak mungkin bangunin kamu," jawabnya santai.


Iya juga. Dia kan bawa kunci duplikat.. Bisa jadi, saat dia pulang, saya sudah pules.


Ekspresinya yang penuh senyum pagi ini seolah memberikan atmosfer baru yang menyejukkan. Kelihatan beda saja sih. Melihatnya tersenyum lepas seperti ini, membuat saya senang. Dia terlihat makin ramah dan bersahabat dengan saya.


...****************...


"Nis, uang bulanan nanti aku transfer aja ya. Aku minta nomer rekening kamu. Nanti kamu WA ya!" pintanya


Yess, Alhamdulillah, saya bersorak dalam hati.

__ADS_1


"Iya Mas. Makasih ya."


Akhirnya sampai juga di SDN Melati. Saya bersiap turun dari mobil, seketika dia juga ikut turun. Tidak biasanya, dia begini. Dia memang pernah beberapa kali mengantar saya ke tempat kerja, tapi biasanya dia tidak pernah turun dari mobil.


Tapi pagi ini, dia menemani saya mulai dari depan gerbang sampai ke lapangan. Lalu dia pun pamit dan saya mencium tangannya.


"Salam buat Bu Endang," ucapnya.


Sebelum memasuki ruangan saya, saya mampir dulu ke ruang guru, say hello dan beramah tamah seperti biasa. Ruang guru nampak ramai. Rupanya nanti jam 10 ada rapat. Oh iya, saya baru ingat, nanti ada rapat kegiatan HUT PGRI. Acara HUT PGRI tahun ini akan digelar secara besar-besaran. Dan SDN Melati ketempatan sebagai tuan rumah. Kurang lebih ada lima atau enam SD Negeri yang akan merayakan HUT PGRI secara berbarengan di sini.


"Mbak Ninis, itu tadi masnya ya?" Bu Ratu menghampiri saya


"Iya Bu."


"Makasih Bu." Saya tersenyum getir.


Semua orang di SDN Melati tidak boleh ada yang tahu tentang kehidupan pernikahan saya yang sebenarnya dengan Mas Farid. Jangan sampai ada yang tahu. Saya harus selalu menunjukkan kalo saya bahagia. Tidak terlihat sedih atau galau.


Di sini, apa sih yang tidak menjadi sorotan. Kadang, sesuatu yang biasa saja bisa menjadi heboh dan gurih untuk jadi santapan gosip. Apalagi kalau sudah diolah dan dikemas oleh lambe-lambe nyinyir yang paling tersohor seantero SDN Melati.

__ADS_1


Dan saya sadar saya masih jadi sorotan. Terlebih hari ini, ketika secara tidak sengaja saya mendengar bisik-bisik dari Bu Probo, Mr Black, Bu Susan dan juga Bu Imas. Mereka masih saja membahas tentang keberuntungan saya yang bisa dinikahi pengacara tajir.


"kok bisa mau ya sama Ninis. Ninis kan biasa saja facenya. Malah kurang rapih kalo dilihat!"


"Ganteng banget loh, suaminya itu. Bener-bener beruntung Si Ninis. Suaminya ganteng, tajir lagi!" sambung Bu Imas


"Tadi aku lihat loh, Ninis dianter sama suaminya sampai deket lapangan. Romantis banget kelihatannya tuh pengantin baru," ucap Bu Imas lagi.


" Coba tak kenalin sama ponakanku ya. Aku punya ponakan ayu, lulusan Fakultas Hukum dari Universitas Negeri. Cantik, pinter anaknya. Coba Bu Endang deket sama aku ya, langsung tak sodori, ponakan itu. Dibanding sama Ninis, masih lebih top ponakanku!" Ujar Mr Black.


Grrrrr.. Kuping saya mendadak panas. Bukan cuma itu, perut saya mendadak mual denger ucapannya Si Mr Black itu. Astagfirullah... Ni orang bener-bener..... Sabar Nis, sabar, ucap saya dalam hati. Saya masih memasang telinga mendengar celotehan-celotehan mereka.


"Itulah, hikmahnya kalau bisa deket sama atasan. Kalau bisa mengambil hatinya Bu Endang. Bu Endang juga gitu sih, pilih-pilih kalau mau deket ama orang. Aku rasa, Si Ninis juga pinter menjilat tuh. Makanya bisa ditaarufin gitu sama Bu Endang. Si Farid itu kan kabarnya anak dari temannya Bu Endang." Bu Susan menambahkan.


"Ih, kok kalah cepet ya. Coba Bu Endang cerita ke aku kalau anak temannya lagi nyari jodoh. Pasti langsung tak kenalin sama Shinta." Ujar Bu Probo.


Shinta adalah anak pertama Bu Probo. Saya pernah dikenalkan waktu berkunjung ke rumahnya. Orangnya cantik dan kalem. Berbeda jauh dengan Ibunya, Shinta sangat pendiam dan tidak banyak omong. Shinta juga seorang guru. Dia mengajar di SMA swasta sebagai guru BK.


Duh, dari ucapan mereka seolah tidak ikhlas melihat saya menikah dengan Mas Farid. Aaah, sebodo amat. Semakin mereka nyinyir, semakin mereka heboh menceritakan tentang saya, saya akan semakin tidak peduli. Saya ingat kata-kata Bu Endang bahwa tidak akan ada habisnya menanggapi orang yang sirik.

__ADS_1


Lagi-lagi saya menganggap diri saya adalah artis, dan mereka ibarat para netizen yang terlalu ngefans sama saya.... Wakakakkakakak.


Bersambung.


__ADS_2