
Farid
Dua minggu berlalu tak ada kabar tentang Ninis. Bahkan Reyna juga ikut memusuhiku. Dia tidak pernah membalas pesan- pesanku. Nampaknya Reyna benar-benar membenciku. Untungnya, Mama tidak jadi datang ke rumah, Seminggu lalu Mama mengabarkan kalau tensi darahnya sedang naik. Kak Ferin juga mengabarkan kalau rencana proyek pekerjaannya di Jakarta diundur. Untunglah, mereka tidak jadi datang. Paling tidak aku rileks sejenak dan bernafas lega.
Pikiranku terus tertuju pada Mama. Aku jadi mengkhawatirkan Mama. Kasihan Mama. Pasti Mama terlalu banyak pikiran. Aku harus secepatnya sembuh untuk Mama.
Ninis masih sulit kuhubungi. Entah, dimana dia aku tidak tahu. Aku juga belum punya keberanian untuk mencari dia di rumah orangtuanya apalagi bertanya pada orangtuanya.
Aku tidak menyangka dia akan memperlakukanku seperti ini. Mengapa aku bisa sampai seperti ini? aku telah menciptakan permainan yang malah menjatuhkanku ke jurang kehancuran.
Aku bermain-main dengan cinta yang kukira akan bisa kugenggam dan kuraih kembali. Dan nyatanya? begitu pahit kenyataan yang kuterima.
Ya Allah, bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya setelah aku melepaskan Ninis dan memberikan semua yang menjadi hak-haknya? Nampaknya, Ninis benar-benar marah padaku. Bagaimana nanti dengan Mama? Mama pasti akan semakin drop kondisinya.
Seketika terngiang lagi ucapan Reyna di telingaku.
__ADS_1
"Belajarlah mencintai, Ninis. Dia wanita yang baik dan tepat untukmu, Mas."
Bisakah aku mencintai Ninis? kukirim pesan pada Reyna. Aah, aku jadi seperti orang bodoh yang kehilangan kendali. Aku menjadi sangat membutuhkan saran dan masukan dari orang lain. Semoga Reyna segera membaca dan membalas pesanku.
Malam ini kulalui dengan kegalauan yang teramat sangat. Bimbang. Pikiranku bercampur aduk. Antara memikirkan kondisi sakitku, Mama, Ninis, kehidupanku nanti ke depan, juga rencana apa yang harus kubuat untuk memulihkan rasa sakit hati ini.
...****************...
Ninis
Saya masih tertegun menatap layar ponsel. Saya baca sekali lagi pesan masuk dari fotografer ganteng yang pernah memotret saya di studio foto waktu itu bersama Bu Ratu.
Fotografer itu bilang, kalau wajah saya eksotis. Wajah saya yang bulat dan chubby ini menyiratkan aura keibuan. Jadi cocok untuk difoto untuk produk-produk dapur. Tentu saja, saya langsung mengiyakan. Saya senang sekali. Tidak menyangka saya bisa jadi model heheheh.
Apa kata orang-orang nanti ya? saya yang sangat biasa ini bisa jadi model lagi. Apa karena saya berteman dengan Bu Ratu, heheheh. Pasti makin bertambahlah, nyinyiran buat saya, kok bisa saya jadi model? pasti banyak yang mengira saya ini teman adalah penjilat yang hebat, dekat dengan Bu Ratu yang cantik dan mantan model bisa ketularan jadi model, dekat dengan Bu Endang bisa dijodohkan dengan pengacara tajir.
__ADS_1
Bodo amat deh, semua itu kan rezeki saya. Saya tulus berteman dengan mereka tanpa embel-embel kok, tanpa mengharapkan sesuatu apapun dari mereka. Kalaupun saya mendapat keberuntungan ini dan itu, semua itu bukan dari mengemis atau meminta sesuatu dari mereka. Tidak sama sekali. Semua karena memang sudah ditakdirkan Allah menjadi rezeki saya.
Tak ada kabar dari Si Botak. Sepertinya dia sudah capek menghubungi saya. Saya juga belum bicara pada Bu Endang. Bu Endang kelihatan sedang sangat sibuk. Apalagi sebentar lagi akan ada penilaian kinerja kepala sekolah.
Jika momennya sudah tepat, saya pasti akan ungkapkan semuanya pada Bu Endang. Biar Bu Endang tahu semuanya. Saya sudah pasrah apa yang akan terjadi nanti. Saya akan ikuti kemana nasib akan membawa saya. Saya siap untuk kalah.
Orangtua saya pun juga sepertinya curiga. Tapi entah kenapa, mereka tidak berani menanyakan langsung pada saya. Mungkin mereka juga sedang mencari momen yang tepat untuk bertanya.
Saya sedang asyik mengecek pekerjaan siswa, ketika Mr Black mendekati saya. Bikin kaget saja, ni orang...Saya pura-pura tidak mendengar, ketika dia mulai memanggil nama saya.
"Mbak Ninis. Maaf, bisa bicara sebentar." Maaf mengganggu kesibukannya."
"Ada apa ya Pak?" saya bertanya santai.
"Anu, Mbak. Saya mau bertanya tentang..." Sumpah, saya geli sekali melihat ekspresinya. Ekspresinya seperti orang yang sedang ngasor (merendah). Suaranya dilembut-lembutkan. Matanya dibulat-bulatkan saat menatap saya. Mengingatkan saya pada tokoh Doby di film Harry Potter, hahahaha. Mau apa sih ni orang? duduk berdekatan seperti ini saja sudah membuat saya risih.
__ADS_1
"Anu, apa di kantor suaminya Mbak Ninis ada lowongan?"
Bersambung.