
"Kamu suka nonton konser musik Nis?"
"Gak suka Mas. Aku nyaris ga pernah nonton yang namanya konser. Waktu masih remaja dulu, teman-teman sekolah pada heboh nonton konser West Life. Gak peduli meskipun desak-desakan, pulang kemaleman asalkan bisa melihat idola mereka. Padahal kan ngeliatnya juga ga secara langsung. Mending liat di TV deh.. Lebih puas dan gak desak-desakan."
"Kalau nonton konser musik yang gak desak-desakan, mau gak? yang VVIP. Dijamin pasti seru." Mas Farid menawarkan saya. Dia mengeluarkan dua tiket dari dompetnya. Dua tiket konser IL DIVO
"Kamu suka musik klasik?" tanyanya
"Aku suka semua musik. Apalagi dangdut, suka banget!" jawab saya.
Dia tertawa. Senyumnya mengembang. Manis sekali.
__ADS_1
"Aku mau ajak kamu nonton konser IL DIVO besok lusa. Aku tuh suka banget sama lagu-lagu mereka. Kamu mau ya? sayang loh tiketnya. Aku beli yang VVIP loh!"
Waduh, apa saya tidak salah dengar? dia mengajak saya nonton konser. Pertanda apa ini? jantung saya makin berdegub tak beraturan. Saya tidak berani memandang wajahnya. Rasa nervous mulai mengalir di pembuluh darah saya.
Wow... Apa jangan-jangan dia mulai tertarik pada saya? kenapa dia tidak mengajak Meylan atau Reyna? duh, kok saya makin deg degan gini sih. Tapi hati saya mulai curiga. Feeling saya mengatakan ada sesuatu di balik semua ini. Tapi apa iya?
Saya mengangguk sambil tersenyum.
"Ok, deal ya." Ucapnya.
Jujur, tawarannya malam ini untuk mengajak saya nonton konser musik klasik membuat saya terbang ke langit ke tujuh. Saya speechless. Tak sanggup berkata-kata. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang mendesak perasaan saya untuk terus curiga. Dan benar saja. Semuanya terjawab ketika saya melihat isi chatt antar dia dan Meylan juga dengan Reyna seputar tentang ajakan nonton konser IL DIVO.
__ADS_1
Rupanya dia lebih dulu mengajak Meylan. Tapi Meylan menolak karena sedang ada kerjaan di luar kota. Berkali-kali dia memaksa Meylan untuk membatalkan pekerjaannya itu. Meylan tetap berkeras. Apalagi dia sudah menandatangani kontrak kerja.
Lalu setelah ditolak Meylan, kali ini giliran Reyna. Si Botak juga mengajak Reyna untuk menemaninya nonton konser IL DIVO. Dan Reyna juga menyatakan tidak bisa. Dia ada job sebagai MC di acara pernikahan pada waktu yang bersamaan.
Maka jadilah, saya sebagai kandidat terakhir yang ditawarkan. Damn! ternyata saya hanya dijadikan ban serep. Dia mengajak saya semata-mata supaya tiketnya tidak hangus. Meylan dan Reynalah yang pertamakali diajaknya. Dan bukan saya.
Dasar Botak Bucin!!! maki saya dalam hati. Lagi-lagi saya hanya dijadikan pilihan terakhir, huh! seandainya Reyna bisa, dia pasti akan mengajak Reyna dan bukan saya. Hati saya mulai terasa sesak lagi. Tapi saya tetap berusaha tersenyum padanya.
Buyar sudah romantisme di atas balkon ini. Kesedihan dan emosi mulai menyelimuti atmosfer di sekitar saya. Siapa pun wanita, tidak akan ada yang sudi dijadikan pilihan terakhir. Mentang-mentang saya tidak cantik! mungkin dia malu jalan sama saya! dan lagi-lagi mengajak saya ke konser IL DIVO hanya rasa sayangnya akan tiket yang sudah terlanjur dia beli.
Hmm, Baiklah. Lihat saja nanti. Saya akan tetap menemani dia menonton konser IL DIVO. Bukankah mencintai itu butuh pengorbanan? dan merelakan diri menjadi pilihan terakhir adalah salah satu bentuk pengorbanan hati saya. Semoga nanti di acara konser, ada keajaiban yang bisa menuntun hatinya untuk beralih ke saya. Semoga....
__ADS_1
Bersambung.