
"Kamu gila ya Mas....Benar-benar keterlaluan kamu. Tak kusangka kamu bisa sejahat itu. Aku gak habis pikir sama kamu." Reyna geram menatapku. Emosinya nampak naik turun.
Sore ini aku menemui Reyna. Dengan ditemani Rocky dan Anwar, aku berangkat menuju Senandung Cafe. Tujuanku adalah meminta saran darinya tentang Ninis.
Dengan ragu dan suara gemetar, aku menceritakan semuanya. Aku tahu dia pasti akan terkejut dan marah padaku.
Reyna menatapku nyalang. Sorot matanya menunjukkan betapa dia sangat jijik padaku.
"Kamu sama saja telah melecehkan syarat sah pernikahan, Mas. Astagfirullah....Dan kamu juga merendahkan martabat wanita. Kamu nikahi dia hanya untuk dijadikan syarat dari mantan istrimu.....Gila, benar-benar gila."
"Sebagai seorang wanita, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika aku ada di posisi Ninis," ucapnya lagi.
"Aku tahu Rey....Sekarang apa yang harus kulakukan? aku benar-benar bingung."
"Kalau aku jadi Ninis, aku tidak akan memaafkan kamu. Aku akan tuntut kamu. Aku akan posting masalah ini ke sosial media, biar kamu dan Meylan mendapatkan sanksi sosial."
"Sekarang aku tanya sama kamu, apakah kamu menyesal melakukan semua ini? demi cinta dan ambisi sakit jiwamu itu, kamu telah melakukan tindakan fatal yang menyakitkan."
__ADS_1
"Dan akhirnya apa yang kau dapat? Meylan malah mencampakkan segala pengorbananmu dan meninggalkanmu begitu saja. Kamu mengalami musibah kecelakaan hingga seperti ini. Tidak sadarkah kamu, kalau ini merupakan balasan Tuhan atas semua kejahatanmu pada Ninis." Reyna menunjuk kakiku yang masih bertumpu pada kursi roda.
"Sudah dong, Rey. Jangan menyalahkan aku terus. Aku kan ke sini minta saran darimu. Apa yang harus kulakukan sekarang?" ekspresi wajah makin terlihat masam. Dia tampak begitu benci padaku.
"Carilah, Ninis dan minta maaf padanya. Belajarlah untuk mencintai dia. Aku yakin, dia wanita yang baik dan tepat untukmu," jawab Reyna lirih.
"Tapi, Rey..."
"Tidak ada kata tapi. Kalau kamu berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Meylan, kamu pasti bisa berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Ninis. Belajarlah mencintai...Cinta akan tumbuh karena terbiasa"
...****************...
Kata-kata Reyna sore tadi terus terngiang-ngiang di telingaku. Belajar mencintai? apakah aku bisa? ponselku berbunyi. Mama menelponku.
"Sayang, gimana keadaan kamu? udah lancar belajar jalannya? kamu harus tetap semangat untuk sembuh. Kasihan Ninis kalau kamu sakit terus. Oh iya, hape Ninis kok gak aktif ya dari kemarin? Mama mau bicara sama dia, Rid!"
Gawat. Aku harus jawab apa nih. Tidak mungkin, aku memberitahu Mama kalau Ninis kabur dari rumah, bisa makin runyam nanti."
__ADS_1
"Ninis lagi mandi Mah. Hapenya rusak Mah. Ninis belum sempat memperbaikinya."
"Minggu depan Mama mau ke sana ya, Nak. Sekalian, Kak Ferin sama suaminya ada proyek di Jakarta."
Aaah ini lebih gawat lagi. Kemana aku harus mencari Ninis? pikiranku makin buntu. Haruskah aku menanyakan pada Bu Endang tentang keberadaan Ninis? ataukah aku harus ke rumah orangtuanya? pilihan yang sama-sama berat buatku. Dua-duanya akan menimbulkan resiko besar yang menggiringku ke kursi pesakitan.
...****************...
Ninis
Saya pandangi sekeliling kamar ini. Masih belum berubah. Persis, seperti waktu saya tempati dulu ketika sebelum menikah. Posisi barang-barangnya, juga cat tembok yang sudah banyak terkelupas di sana sini. Atmosfirnya masih sama. Kamar ini menjadi saksi suka duka saya dalam menjalani hari. Menjadi tempat yang nyaman bagi saya untuk merenda mimpi, melepaskan lelah dan juga sedih hati.
Aaah, begitu banyak cerita yang sudah saya lewati, dan kini saya kembali ke kamar ini, membawa cerita baru yang tak kalah pedih dan menoreh hati.
Kepada Bapak dan Ibu saya akan mengatakan kalau Si Botak sedang ke Singapura untuk menjalani pengobatan lebih lanjut. Saya tidak bisa ikut, karena sedang banyak pekerjaan, dan Si Botak juga tidak mau saya terlalu capek. Dia kasihan melihat saya yang sudah terlalu capek mengurus dia selama di rumah sakit.
Entah Ibu dan Bapak percaya atau tidak...Tapi semoga mereka tidak curiga. Si Botak juga tidak ke sini. Hmmm, mana berani dia menanyakan keberadaan saya pada Ibu dan Bapak?
__ADS_1
Bersambung.