
Semenjak Meylan memblokir nomer WhatsAppnya Si Botak, tak ada lagi informasi yang bisa saya ketahui tentang kelanjutan hubungan mereka. Dan itu, sungguh sangat membuat saya gelisah. Saya selalu dihantui pikiran jika mereka nanti benar-benar putus dan tidak jadi rujuk. Bagaimana dengan saya? yang jelas saya memang harus keluar dari rumah ini. Tapi keluar tanpa kompensasi apa-apa sudah pasti membuat saya rugi.
Ya, gak munafik sih. Gini-gini juga saya gak bucin-bucin amat. Masak sudah gak dapat orangnya, harta bendanya juga gak dapat? hehehehe. Seandainya Si Botak benar-benar memilih saya dan tulus mencintai saya, sudah pasti saya rela kehilangan isi perjanjian surat itu. Tapi kan kenyataannya sungguh jauh dari khayalan, dia tidak pernah mencintai saya!
Sudah beberapa hari ini, saya terus memikirkan kemungkinan terburuk itu. Kemungkinan nanti saya akan dicerai dan diminta untuk keluar dari rumah ini, dan dia membatalkan isi surat perjanjian itu. Dan saya tidak akan dapat apa-apa, selain uang sekedarnya. Terlebih dia seorang pengacara, mudah saja bagi saja melakukan hal itu. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia dan Meylan sudah menjebak saya dalam rencana mereka, mereka tidak bisa membodohi saya. Jika itu sampai terjadi, lihat saja nanti.... Saya tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
Mengapa semua ini terjadi pada saya? lagi dan lagi, adakah sedikit celah untuk saya meraih bahagia? mendadak terbayang wajah Bapak dan Ibu di rumah. Mereka pasti akan sangat sedih jika nanti saya diceraikan. Saya akan kembali ke rumah mereka dengan hati yang penuh dengan goresan luka. Berat, pasti sangat berat bagi saya melewati itu semua.
Apa sebaiknya saya tanyakan pada Si Botak ya? tentang kemungkinan jika dia dan Meylan batal untuk rujuk, lantas bagaimana dengan saya? dia kan tidak mungkin untuk terus memperistri saya dan bagaimana dengan surat perjanjian itu? saya benar-benar ingin tahu bagaimana reaksi Si Botak.
Aah, jadi tidak sabar menunggu Si Botak pulang. Tapi apa saya berani menanyakan itu semua? Si Botak masih saja menunjukkan ekspresi wajah super kaku dan tanpa senyum. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Dia nyaris tidak pernah lagi menyapa dan tersenyum pada saya, hiks hiks hiks.
__ADS_1
Tapi sekarang??? beginilah sikap aslinya. Saya benar-benar tidak dianggap ada sama dia. selalu dicuekin. Bahkan saat bertatapan dengan saya pun, dia langsung menghindar. Tak ada senyum apalagi perhatian. Saya merasa sangat terasing. Seperti tinggal dalam rumah bersama orang yang tidak saya kenal.
Mungkin dia bingung bagaimana cara untuk "mengusir" saya hehehe, apalagi surat perjanjian sudah dibuat dan disetujui. Dia sudah pasti rugi berat. Ya gimana gak rugi, Meylan gak mau diajak rujuk dan memilih untuk putus, sementara surat perjanjian kompensasi untuk saya sudah dibuat. Hayo, gimana tuh dengan nasib surat perjanjian itu? saya juga gak mau rugilah. Dia dan Meylan sudah mempermainkan saya dengan pernikahan palsu, enak saja kalau saya dicerai tanpa dapat apa-apa.
Ulu hati saya sesak lagi. Sudah beberapa hari belakangan ini, asam lambung saya sering kambuh. Tidak ada selera makan. Fokus pikiran saya hanya pada nasib saya di rumah ini, juga pada masa depan saya yang sebentar lagi akan jadi janda. Kalau jadi janda tajir sih gapapa. Lah, kalau sebaliknya gimana?
__ADS_1
Bersambung.