LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Menyepi


__ADS_3

Saya masih menyepi di sini, menenangkan suasana hati. Aah, kamar hotel yang nyaman. Saya memilih tinggal di sini untuk sementara waktu. Suasana kamar hotel ini mengingatkan saya pada kamar tidur di lantai atas di rumah Mas Farid, kamar yang pernah saya tempati waktu mamanya dan Kak Ferin datang.


Saya melirik ponsel. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Si Botak. Entah bagaimana perasaan dia ya? apakah dia sedang mencemaskan saya? ataukah mungkin dia takut saya akan buka mulut pada Bu Endang? saya sudah memblokir whatsappnya dari kemarin.


Saya sedikit merasa tenang di sini. Meski pikiran saya kadang teringat lagi sama Si Botak. Dia pasti kerepotan jika butuh sesuatu. Dia pasti masih membutuhkan saya, biar saja. Saya kan memang sengaja ingin memberikannya pelajaran.


Ponsel berbunyi lagi. Ada pesan masuk dari Hesti.


"Mbak Ninis, mau janjian jam berapa? saya, Edo dan Tia besok jam setengah tiga janjian. Kita mau naik mobil travel. Mbak Ninis jadi mau bareng kan?


Ya ampun..sekarang sudah hari senin, besok saya harus berangkat ke Cisarua untuk mengikuti pelatihan. Saya sudah mengiyakan ajakan Hesti dan beberapa teman operator dari sekolah lain untuk berangkat bersama.


***


Farid

__ADS_1


Ke mana Ninis pergi ya? dan kenapa dia pergi? apa dia betul-betul marah dan kecewa padaku? ataukah sebenarnya dia ada hati denganku? dia terlihat saklek sekali. Memintaku untuk segera memberinya keputusan.


Aku sendiri bingung harus bagaimana? mungkin dia takut aku membohonginya tentang surat perjanjian itu? atau mungkin dia memang sedang membutuhkan uang.


Kemana dia pergi? sepertinya dia tidak pulang ke rumah orangtuanya. ponselnya pun sulit dihubungi. No whatsappnya tidak aktif. Aku khawatir. Ya Allah, Lindungilah Ninis di mana pun dia berada. aku benar-benar tidak menyangka Ninis akan bertindak seperti ini.


Dia kelihatan begitu marah dan kecewa. Aku seperti berhadapan dengan sosok Ninis yang berbeda. Aku kira dia begitu sabar menghadapiku, tapi nyatanya?


Pandangan matanya seperti menyiratkan api cemburu, dan isak tangisnya seperti menunjukkan rasa sakit hati yang begitu dalam? mengapa dia harus merasakan sakit hati? bukankah dari awal dia sudah menyepakati?


Aku butuh waktu untuk merevisi isi surat perjanjian itu. Kupikir nanti sajalah. Aku butuh waktu. Tapi ternyata Ninis tidak sesabar itu.


Aaah, mengapa harus terjadi semua itu....Memoriku kembali mengurai kejadian malam itu. Malam di mana aku merenggut mahkota Ninis. Mengapa aku bisa melakukan itu padanya?harusnya itu tidak boleh terjadi. Apa karena kejadian itu, dia jadi membenciku dan ingin segera pergi dariku?


Apa yang harus kulakukan sekarang? aku sendirian di rumah ini. Tak ada yang membantuku. Aku mencoba bangkit dan berjalan, tapi uuuugh, masih terasa nyeri. Aku menghela nafas panjang. Ya Allah, inikah balasan atas perbuatanku? aku tidak tahu harus bagaimana lagi.

__ADS_1


Membiarkan Ninis pergi atau berusaha mencarinya dan lalu meminta maaf padanya? aku benar-benar bingung. Apa Ninis marah padaku karena aku mengacuhkannya? ya, aku ingat, Ninis berubah jadi jutek dan ketus kepadaku semenjak aku sering mengacuhkannya.


Beberapa kali aku berkata padanya untuk meninggalkanku sendiri. Aku memang sedang butuh sendiri. Benar-benar ingin menenggelamkan diriku dalam renungan panjang sembari bertanya pada diri, mengapa semua ini harus terjadi?


Cintaku pada Meylan yang begitu besar, harapanku untuk bisa bersatu lagi dengannya, hingga kehadiran Ninis di hidupku sebagai pihak yang kujadikan syarat sebagaimana yang diminta Meylan.


Gila....Aku memang sudah gila. Dan kegilaan ini telah membuatku terhempas dalam kubangan penuh duri yang menyakitkan. Mengapa semua ini harus terjadi? Meylan benar-benar licik dan tidak punya hati. Kucoba sekali lagi menghubungi Ninis. Hasilnya tetap sama.


Tanpa sadar, butiran hangat muncul di ujung mata. Kasihan juga Ninis, selama ini aku tidak pernah peduli padanya. Apa mungkin dia lelah menghadapiku? apa jangan-jangan dia suka padaku? pikiranku semakin kacau.


Aku coba hubungi nomer ponsel Bu Endang, teleponnya jugs tidak aktif. Apa Bu Endang tahu keberadaan Ninis saat ini? bagaimana jika Bu Endang curiga? haruskah aku menceritakan semuanya?


Kecemasanku semakin menjadi-jadi. Ulu hatiku mendadak sesak tak karuan. Ya Allah, ada apa denganku? tolong lindungi Ninis, dimanapun dia berada... Kuambil lagi ponselku dan mulai menghubungi seseorang.


"Malam Rock, lagi di mana kamu? bisa datang ke sini sekarang?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2