LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Dia Tidak Pulang Lagi


__ADS_3

Pertemuan dengan Si Botak di Mall tadi masih membekas dalam benak saya. Kenapa saya bisa ketemu tadi ya? semoga saja dia tidak tahu kalo whatsappnya saya retas. Seketika rasa cemas mulai menjalari pikiran saya. Tidak, dia sama sekali tidak tahu kalau saya membuntutinya.


Paling dia berpikir, pertemuan kami dia Mall tadi hanyalah kebetulan saja. Kemana dia ya? dia belum juga pulang. Sekarang sudah jam setengah sembilan malam. Hujan deras turun lagi. Tumpah ruah seakan dituangkan dari langit.


Apa dia masih di apartemen Meylan? kemungkinan itu sangat mungkin. Bisa jadi dia tadi mengantar Meylan sampai apartemen dan sekalian mampir. Mungkin juga malam ini, mereka menghabiskan waktu berdua di apartemen. Saya mencoba menelponnya dan ponselnya tidak aktif. Prasangka buruk mulai menjalari pikiran saya.


Mereka pasti sedang indehoy di apartemen. Kemungkinan itu sangat besar. Terlebih mereka berdua masih saling mencintai. Butiran bening mulai menetes satu persatu mengaliri wajah saya. Seperti hujan deras yang terjadi di luar rumah, malam ini hujan air mata mengguyur hati saya.


Ingin rasanya bisa menceritakan semua ini. Tapi kepada siapa? saya tidak mungkin cerita pada Ibu atau kepada Bu Endang, Bu Ratu atau pada Vera sahabat saya, atau kepada Mama dan Kak Ferin. Ingin sekali saya menangis dan menceritakan semua ini pada mereka. Mereka pasti akan terkejut dibuatnya.


Tapi saya sudah berjanji untuk tidak bercerita kepada siapapun tentang kehidupan pernikahan saya yang sebenarnya. Ini belum saatnya. Suatu saat nanti, semua akan terbuka. Dan pasti kebenaran akan berpihak pada saya. Karena memang cuma saya, pihak yang paling terzalimi dan terluka.


Mungkin beberapa orang akan heran, kok ada tipe orang macam Farid dan juga Meylan. Farid begitu bodohnya menuruti kemauan Meylan yang memintanya untuk menikah lagi dengan perempuan cupu dan lugu seperti saya sebagai syarat untuk rujuk lagi dengannya.

__ADS_1


Ini tidak lazim. Syarat yang aneh. Tapi memang begitulah faktanya. Kejadian ini nyata terjadi dalam hidup saya. Dan saya telah menyanggupinya demi sebuah kompensasi. Meski harus mengorbankan perasaan saya sendiri. Siapa sangka kalau saya akan dibuat jatuh hati? rasa ini datang tanpa permisi.


Nomer ponselnya masih juga belum aktif. Fix. Dia tidak pulang malam ini. Dia pasti menginap di apartemen Meylan. Entah apa yang mereka lakukan di sana? membayangkannya saja sudah membuat saya sesak.


Mendadak kepala saya pusing. Saya bangkit untuk mengambil obat di atas laci dekat meja makan. Rasa sunyi kembali menghampiri. Saya takut sendirian begini. Tapi saya beranikan diri. Saya minum obat dan kembali merebahkan diri. Mencoba memejamkan mata dan memasuki alam mimpi.


...****************...


Saya kesiangan bangun. Sekarang sudah jam enam lewat dua puluh. Efek obat yang saya minum membuat saya tertidur begitu pulas. Kepala saya masih keliyengan. Rasanya tidak sanggup untuk bangun. Saya izin aja hari ini untuk tidak masuk mengajar. Saya ambil ponsel dan segera mengirim pesan pada Bu Endang.


Yo wis. Gapapa Nis. Gak usah dipikirkan masalah kerjaan. Istirahat ya...Jangan lupa periksa ke dokter. Jangan-jangan kamu hamil! selamat yaa.... Jaga kondisi ya ****Nduk****!


Ooh tidaaaaak... Seandainya Bu Endang tahu yang sebenarnya. Balasan pesan dari Bu Endang membuat saya makin nelangsa. Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Bu Atin sudah datang.

__ADS_1


"Maaf Bu saya telat datang. Lagi ada cucu menginap di rumah. Loh ibu gak kerja?"


"Siapa bilang Bu Atin telat. Sekarang baru jam enam lewat dua puluh lima menit. Saya gak enak badan, Bu!"


"Oalah. Jam di rumah saya berarti yang rusak. Bu Ninis mau sarapan apa? biar saya belikan. Oh iya, nanti saya buatkan jamu ya! sepertinya Bu Ninis masuk angin."


Bu Atin nampak begitu mengkhawatirkan saya. Wanita paruh baya itu memang mengingatkan saya pada Ibu. Perhatiannya, kesigapannya di dapur mirip seperti Ibu.


"Nanti kerokin saya ya Bu! badan saya gak enak banget nih!" pinta saya.


"Siap Bu. Jangan-jangan Bu Ninis hamil. Ayo atuh periksa ke dokter!"


Untuk kedua kalinya saya tercengang. Hamil ???? kata itu lagi-lagi membuat saya nelangsa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2