LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Didekati Bu Probo


__ADS_3

Beda jauh kali saya sama ponakannya dia? enak saja, nyama-nyamain muka orang. Eeh, astagfirullah....Kok saya jadi senewen begini sih. Tidak seharusnya saya menjadi ilfeel begini. Keponakannya Mr Black kan tidak tahu apa-apa. Saya juga tidak kenal. Siapa tahu, sifatnya beda dengan pakdenya.


"Iya, Pak. Nanti saya coba tanyakan suami saya. Tapi saya gak janji, lho. Apalagi, suami saya sedang sibuk. Banyak pekerjaan di luar kota."


Perut saya masih mules menahan tawa. Aah, lucu sekali Mr Black hari ini. Ini benar-benar momen langka bagi saya. Momen di mana Mr Black yang biasanya sinis dan nyinyir sama saya mendadak berubah menjadi lembut, tutur bahasanya halus dan manis sekali. Manis? tidak ah, manis darimana? perasaan dia tidak ada manis-manisnya, hehehehe.


Saya bersiap-siap untuk pulang. Apalagi nanti sore, saya harus ke studio foto untuk janjian dengan Enrico.


"Mbak Ninis, bisa bicara sebentar?" dengan terengah-engah sambil celingak celinguk ke kanan dan ke kiri, Bu Probo menghampiri saya. Aduh, ada apa nih Bu Probo? tadi Mr Black dan sekarang Bu Probo, dua-duanya kan orang yang paling saya hindari di sekolah ini, hehehehe.


"Maaf, ada apa ya Bu?"

__ADS_1


"Sibuk enggak Mbak? atau sudah siap-siap mau pulang?" Bu Probo menarik tangan saya.


"Sebentar saja, Mbak. Ada yang mau saya bicarakan."


Duh, ada apa sih? seketika perasaan saya bisa menebak melihat ekspresi dan cara Bu Probo tersenyum. Hmmm, ekspresinya gak beda jauh dengan temannya yang baru saja mengobrol sama saya. Apa jangan-jangan maksud dan tujuannya sama? saya bergumam sendiri dalam hati.


"Tadi saya ndak sengaja mendengar obrolan Mbak Ninis sama Mr Black. Anu, Mbak....Mr Black minta dicarikan lowongan pekerjaan buat keponakannya, kan?" tanya Bu Probo sambil berbisik.


Saya mengangguk.


sumpah saya ingin sekali tertawa keras-keras. Duh. Bu Probo ternyata tadi menguping. Kok saya sampai gak tahu ya? benar kata pepatah, tembok bertelinga jauh lebih berbahaya.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya ya Mbak Ninis. Mr Black itu kok ya kepedean mempromosikan keponakannya. Kalau dibandingkan dengan Shinta, anak saya....Duh, keponakannya itu gak ada apa-apanya. Uups, maaf kok saya jadi melantur begini ya?" Bu Probo tersipu malu.


"Jadi begini, Mbak. To The point saja, saya ingin mencarikan jodoh untuk Shinta. Mbak Ninis sudah kenal Shinta kan?"


Saya mengangguk. Bu Probo memang pernah mengenalkan Shinta pada saya. Waktu itu ketika saya dan beberapa rekan guru mampir ke rumah Bu Probo sewaktu beliau pulang umrah. Shinta cukup cantik dan kalem. Ramah tapi tidak terlalu banyak bicara, beda jauh dengan ibunya.


"Hmmm, kira-kira ada enggak teman dari suaminya Mbak Ninis yang masih single? ya, barangkali gitu, Mbak Ninis bisa membantu mencarikan jodoh untuk anak saya...."


Apa???? seketika saya langsung batuk-batuk. Ini refleks loh, bukan dibuat-buat. Sumpah, saya kaget sekali. Hmmm, maksud dan tujuan yang hampir sama dengan sobat akrabnya tadi.


"Lho, bukannya Shinta sudah punya pacar Bu? teman kuliahnya. Waktu saya ke rumah Ibu, sedang ada pacarnya Shinta kan?" tanya saya.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys. Matursuwun.


__ADS_2