LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Surat Perjanjian


__ADS_3

Saya sudah memutuskan untuk diam dan akan terus diam. Tidak boleh ada yang tahu kenyataan pahit yang saya terima dalam kehidupan rumah tangga. Tidak boleh ada yang tahu kalau saya telah terjebak dalam pernikahan sandiwara. Saya sudah mengiyakan dan Si Botak juga sudah menyanggupi. Hubungan saya dan dia sekarang tak ubahnya seperti mitra bisnis. Surat perjanjian pun juga sedang dipersiapkan olehnya.


Di depan Ibu dan Bapak, saya berusaha untuk selalu tersenyum. Aah, kasihan orangtua saya. Di usia mereka saat ini, mereka tidak boleh dibuat susah. Berdosalah saya jika membuat mereka sedih. Wajah keduanya nampak sumringah menyambut kedatangan saya.


Puas mengobrol dengan Bapak dan Ibu, saya pun memesan ojek online dan lalu berpamitan pulang.


"Ninis, pulang dulu ya Bu. Mas Farid pulangnya malam. Jadi dia gak bisa jemput Ninis. Ninis juga harus lanjutin kerjaan di rumah."


"Oh ya sudah, Ibu doakan semoga kamu cepat hamil, ya Nduk." Ibu mencium kening saya.


Lalu ibu sibuk di dapur membungkus beberapa makan untuk saya bawa pulang. Ibu memang selalu begitu. Selalu saja, menyisihkan makanan untuk anak-anaknya untuk dibawa pulang, tak peduli di rumah, anaknya sudah masak atau belum.


...****************...

__ADS_1


"Ini surat perjanjiannya Nis. Silahkan kamu baca. Yang jelas, aku tidak akan mengingkari isi perjanjian itu. Jika sudah selesai fix, aku akan serahkan semuanya."


Saya terdiam. "Nanti saya baca Mas. Sekarang saya mau mandi dulu. Gerah."


Tumben dia pulang cepat. Sekarang baru jam setengah delapan malam. Dan dia sudah tiba di rumah. Kaget saja saya. Biasanya dia kan pulang selalu tengah malam. Eeh, tapi itu dulu ya, sebelum dia mengungkapkan semuanya. Sekarang dia kan sudah jujur sama saya, so tidak ada alasan bagi dia untuk menghindari saya. Mau pulang malam atau pulang siang, tidak akan membuat saya merasa aneh atau curiga. Bodo amat.


Segar sekali rasanya sehabis mandi. Perjalanan dari rumah Ibu ke rumah ini memakan waktu 40 menit jika tidak macet. Tadi lumayan macet, kurang lebih sampai 15 menitan. Jam-jam orang pulang kerja memang selalu menambah kepadatan lalu lintas. Pegal juga kelamaan duduk di jok motor.


"Kamu mau makan apa Nis? kita delivery order aja untuk makan malam."


Bergegas saya langsung mengeluarkan bungkusan dari Ibu tadi. Ya Allah Ibu.... Repot-repot sekali. Ada nasi, sayur sop, sambal ikan teri pakai kacang dan tempe tepung. Ada kentang pengantin juga, dan beberapa potong tahu isi.


"Mas Farid saja yang pesan makanan. Aku makan ini saja. Sayang, kalau nanti tidak termakan. Mubazir." Ucap saya.

__ADS_1


Saya tidak yakin Si Botak mau makan makanan sederhana seperti ini. Biarlah ini buat saya sendiri saja.


"Loh kenapa? memang Ibu bawain apa sih?" Dia penasaran.


"Ya ampun, aku juga suka makanan kaya gini. Aku ikut makan ini ya. Hmmm, pasti enak. Aku suka banget loh, sambel teri pakai kacang kaya gini. Tempe tepungnya juga kelihatannya enak."


Hmmmm. Saya tidak menyangka. Ternyata dia juga suka makanan sederhana kayak gini.


Malam itu kami makan bersama. Sekali lagi, dia memuji masakan Ibu saya. Dia juga bercerita tentang Mamanya yang juga pintar masak, tentang makanan kesukaannya dan menu-menu favorit di restoran langganannya. Ternyata dia pecinta kuliner.


Obrolan tentang makanan membuatnya terlihat santai malam itu. Dia tidak gugup seperti biasanya. Sambil mengobrol, saya baca dan pelajari lagi isi perjanjian itu.


"Sekali lagi, saya minta maaf Nis." Dia mengucapkan kata itu lagi.

__ADS_1


Saya masih fokus pada kertas yang pegang. Gila ini benar-benar amazing. Saya bisa jadi miliarder nih.


Bersambung.


__ADS_2