LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Sumringah


__ADS_3

Dia duduk di sofa dengan santainya saat saya membuka handel pintu dan bersiap masuk. Rupanya dia sudah tiba di rumah. Wajahnya terlihat begitu sumringah. Dia tersenyum dan menyapa saya.


"Hai Nis. Tumben kamu jam segini baru pulang!"


"Iya Mas. Maaf tidak mengabari. Aku baru dari rumah Ibu tadi."


"Oh ya, gimana kabar Ibu sama Bapak?"


Pertanyaan basa-basi. Semenjak menikah sampai sekarang dia tidak pernah berkunjung ke orangtua saya. Saya selalu datang sendiri dan sendiri. Tiap kali Ibu dan Bapak menanyakan Si Botak, saya selalu menjawab kalau dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Entah apakah Ibu dan Bapak curiga atau tidak.


"Mereka baik, Mas!"


"Aku mandi dulu ya!" saya pun bersiap-siap menuju kamar. Pikiran saya masih dihantui pertanyaan kenapa dia tidak pulang semalam. Duh, hati saya kembali memanas.


Seharian tadi di sekolah membuat pikiran saya seperti kesetanan. Bayangan dia menghabiskan malam dengan perempuan itu di apartemen, membuat saya sangat tidak tenang. Dan mengunjungi Ibu dan Bapak lumayan bisa meredakan rasa panas di hati saya.

__ADS_1


Ya Allah.. Saya tidak boleh menunjukkan rasa cemburu. Saya harus selalu bersikap tenang dan biasa saja meski hati melepuh saking panasnya dibakar cemburu. Duh, berat sekali akting kali ini.


...****************...


"Aku bawain pecel lele nih. Enak loh! ini pecel lele dan pecel ayam paling maknyus yang pernah aku coba. Cobain, deh!'


Dia mengeluarkan bungkusan dan menatanya di piring. Wajahnya masih terlihat sumringah. Agak bersemu-semu merah jambu. Aih, makin kelihatan ganteng saja dia.


"Dari baunya saja sudah tercium, Mas!" saya bersiap-siap mengambil sendok untuk mencicipi.


Lagi-lagi dia membawakan saya makanan. Dia memang baik dan perhatian sih kalau untuk urusan makan. Dari awal nikah hingga detik ini, tidak pernah dia absen menawari saya makanan. Dari yang enak sampai yang paling enak. Andai dia tahu, kalau saya tidak hanya butuh makanan. Saya juga ingin diperhatikan. Ingin disayang.. Ingin bisa memiliki hatinya.


"Gapapa Mas. Kan lagi sibuk sama Meylan. Aku paham kok.." Ucap saya santai sambil tersenyum lebar.


Wajahnya makin bersemu merah. Dia nampak malu-malu.

__ADS_1


"Makasih ya, Nis. Kamu sangat baik. Demi apapun, saya tidak akan pernah melupakan jasa dan kebaikan kamu. Kamu luar biasa..."


Ya, luar biasa meskipun harus berdarah-darah. Dia tidak tahu bahwa hati saya sudah melepuh saking panasnya. Dia tidak tahu kalau saya cemburu.


"Aku doakan semoga prosesnya cepat ya, Mas. Mas dan Meylan bisa secepatnya rujuk kembali. Aku turut senang mendengar kedekatan kalian."


"Aku gak tahu lagi harus berkata apa. Kamu benar-benar baik. Aku doakan kamu segera menemukan sosok pria yang tepat. Sangat beruntung laki-laki yang bisa memiliki hati kamu, Nis!"


Ya... Laki-laki itu adalah KAU! kamu yang telah memiliki hatiku, duhai pria botak...


Apa saya tanyakan saja ya di mana dia menginap semalam? tapi kok ragu ya, rasanya. Mulut saya terkunci rapat. Saya takut pertanyaan saya membuat dia tidak nyaman. Tidak rela juga rasanya melihat wajah sumringahnya nanti berubah menjadi tegang. Apalagi dia terlihat ganteng sekali malam ini. Hmmm...


Maka saya nikmati malam ini dengan makan berdua sambil menikmati wajahnya. Dia terlihat begitu santai dan banyak bercerita tentang berbagai hal. Sambil diiringi gelak tawa.


Yess... Akting pura-pura happy akhirnya berhasil juga. Dia nampak antusias setiap kali saya menunjukkan rasa senang saya akan kelanjutan hubungannya dengan Meylan. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih dan mengatakan saya wanita yang baik dan luar biasa.

__ADS_1


Sudah pasti dia senang karena hubungannya dengan Meylan akan melenggang dengan senang. Sinyal kalau sebentar lagi saya akan ditendang semakin menyala berkilauan.


Bersambung.


__ADS_2