
Saya mengamati lagi dengan seksama sosok lelaki ini. Laki laki yang seminggu lalu baru saja melamar saya. Dia masih lebih banyak diam dan sedikit bicara. Siang ini dia menjemput saya di sekolah, mengajak saya makan siang sekalian berbelanja seserahan. Meski nervous, saya berusaha setenang mungkin. Di sekolah tidak ada yang tau kemana saya pergi siang ini. Hanya kepada Bu Endang saya bercerita ketika minta izin. Bu Nurma mengatakan kalau aura wajah saya sangat berbeda dari biasanya. Terlihat lebih cerah dan bersinar. Aaah, saya merasa biasa saja. Yang jelas tadi saya memoleskan bedak terlalu tebal ke wajah saya, mungkin itu yang membuat saya wajah jadi terlihat lebih cerah. Tidak kelihatan butek seperti biasanya.
Saya masih dag dig dug ketika memasuki mobilnya. Wangi citrus begitu semerbak tercium. Dia hanya tersenyum sedikit. Tanpa memberikan pertanyaan basa basi. Lalu mobil mulai melaju. Dan di saat itu, saya baru sadar. Seseorang dengan motornya nampak begitu keheranan ketika berpapasan dengan mobil yang naiki. Meski wajahnya tertutup helm saya bisa menebaknya. Hmmm... Mr Black. Sudah pasti besok akan ada bahan gosip baru di sekolah. Bodo amat ah... Sekali-kali jadi objek gosip, gak papa. Pasti seru.
Mall yang kami masuki tidak terlalu ramai. Tentu saja tidak ramai. Karena hari itu bukan week end. Jika hari Sabtu Minggu, pengunjung membludak. Parkiran penuh. Dan tentu saja kemacetan bertambah. Mall ibarat oase bagi masyarakat kota. Sebagai satu-satunya tempat hiburan untuk cuci mata sekaligus refreshing. Si Plontos berkulit putih mencrang ini berjalan mendahului saya dan saya mengikuti dari belakang.
" Kita makan dulu ya!" katanya sembari menoleh. Saya menggangguk.
Kami duduk di meja pojok dengan posisi menghadap ke ke samping. Sambil menunggu pesanan datang, dia berucap.
__ADS_1
"Capek sekali hari ini. Jadwal ketemu klien ditunda. Mungkin nanti malam bisa janjian lagi." Ekspresi wajahnya nampak begitu datar. Tak ada senyum.
"Harusnya kalau sibuk, gak usah hari ini Mas belanja seserahannya. Gapapa kok!"
"No. Justru lebih baik hari ini. Besok-besok saya pasti akan lebih sibuk lagi. Ini juga saya hubungi kamu karena kebetulan klien saya yang membatalkan janji. Maafkan saya karena terlalu tiba-tiba mengajak kamu pergi untuk belanja seserahan..."
"Tidak apa-apa Mas. Santai aja."
Dia masih diam. Hanya sesekali menyuapkan makanannya. Selebihnya sibuk dengan ponselnya. Ekspresi wajahnya begitu datar dan kaku. Terlihat serius sekali. Saya berusaha mencairkan ketegangan dengan bertanya.
" Kenapa Mas? sakit?" tanya saya.
__ADS_1
" Enggak kok. Hanya pusing sedikit. Mungkin karena semalam kurang tidur."
Mata saya melirik ponselnya. Rupanya dia sedang membuka Facebook.
"Oh iya, boleh aku add Facebooknya Mas? sekalian deh aku follow instagramnya ya?"
Dia tersenyum. "Silahkan aja. Tapi saya jarang main sosmed loh. Handphone lebih banyak saya gunakan untuk urusan kerja," jawabnya.
Dari ekspresi datar, ekspresi wajah itu kini terlihat semakin meredup. Seperti ada mendung yang sarat akan air hujan. Seperti sedang menahan kesedihan. Kebingungan. Galau.. Dan entah apalagi. Tapi apa benar begitu? aah, mungkin perasaan saya saja.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys! Matursuwun....