
Saya takut dia jadi tidak waras. Lihat saja tuh, dari tadi saya amati, dia diam saja. Terpaku di depan dinding dengan pandangan kosong. Pagi ini dia bangun lebih awal. Duduk di kursi roda dengan posisi tangan bersila.
Ekspresinya kadang tertunduk sedih, kadang menengadah sambil tersenyum tipis, lalu menunduk lagi. Sorot matanya menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam.
Dia tidak tahu, kalau dari tadi saya mengamatinya. Saya mengintipnya dari celah kecil yang berada di pinggir sekat yang membatasi ruang makan dan ruang tengah, tempat di mana dia berada saat ini.
Baju yang dia pakainya pun masih sama. Sepertinya dia tidak mengganti bajunya dari semalam. Duh, Gusti, saya takut dia benar-benar jadi senewen.
Dia tersenyum sendiri dan tertunduk lagi. Jadi takut saya. Dia juga seolah semakin menjaga jarak dengan saya. Dia selalu meminta saya untuk meninggalkannya sendirian sehabis saya mengantarkan makanan.
Kira-kira dia sedang memikirkan apa ya? apa jangan-jangan dia sedang memikirkan Reyna? senyum itu seolah seperti menafsirkan arti kerinduan pada seseorang? cara tersenyum itu mengingatkan saya ketika dia sedang tersenyum pada Reyna ketika di rumah sakit.
Jujur saja, saya sudah semakin tidak betah dengan kondisi seperti ini. Dari ke hari, harapan saya mulai hilang. Harapan untuk bisa dicintai olehnya, harapan untuk bisa memilikinya. Karena dia selalu saja diam dan menjaga jarak dengan saya.
Semalam saya sudah memikirkan, bagaimana jika saya bicara lagi padanya dan meminta ketegasan lagi soal surat perjanjian itu. Juga posisi saya di rumah ini. Saya tidak mungkin melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang tidak pernah mencintai saya. Saya tidak mau semakin lama tersiksa.
...****************...
__ADS_1
Reyna
Cepat sembuh ya Mas. Aku selalu berdoa untuk kesembuhanmu.
Farid.
Amin. Makasih ya Rey. Kamu sendiri gimana sama Bang Norman? udah sampai pada tahap mana nih pendekatannya?
Reyna
Farid
Jangan menyerah Rey. Aku doakan kalian bisa bersatu.
Reyna
Berat Mas. Aku juga harus mempertimbangkan anak anakku. Apakah anak-anakku akan setuju? selama ini, anak- anak yang jadi pertimbanganku, Mas. Aku ingin mereka bahagia jika aku menikah lagi...
__ADS_1
Farid
Sabar Rey...Kamu itu wanita baik, cantik pula. Aku yakin, jika Bang Norman serius, dia pasti berjuang untuk kamu. Tetap berdoa ya Say..... Akan tiba masanya kamu untuk bahagia. Wanita secantik kamu pantas untuk bahagia*.
Hmmm...Benar saja kan? pasti ini, penyebabnya. Dia pasti sedang kesemsem sama Reyna. Meylan menghilang, Reyna pun datang. Percakapan di Whatsapp ini susah cukup untuk menjadi bukti.
Luar biasa sekali dia memberikan semangat dan motivasi untuk Reyna. Sedangkan saya? dia tidak pernah memberikan kata-kata penyemangat. Sekalinya menyemangati, itu pun saat dia minta maaf karena telah membuat saya merasa tertipu dengan pernikahan palsu ini.
Untung saja, saya membuka ponsel hitam ini. Sudah lama saya tidak membuka isi percakapan dari Whatsapp Si Botak yang saya retas. Selama ini saya terlalu fokus mengurus dia. Ternyata dia masih intens chattingan dengan Reyna.
Dia sudah tidak lagi chattingan dengan Meylan. Entah kemana perginya Meylan? sepertinya dia sudah mengganti nomer ponselnya. Enak sekali dia pergi menghilang, setelah menyeret saya dalam jebakan ide gilanya.
Enak sekali dia lepas dari tanggung jawab. Dasar wanita tidak punya perasaan! dan apa mungkin sekarang Si Botak sedang berusaha mendekati Reyna setelah ditinggalkan Meylan? ini tidak bisa dibiarkan. Kesabaran saya sudah betul-betul habis. Dia harus menyudahi permainan ini dan memberi saya keputusan.
Dan saya harus punya keberanian untuk menyampaikannya. Tidak peduli, dia sedang dalam kondisi sakit. Masa bodoh. Saya harus segera menuntut isi surat perjanjian itu.
Bersambung.
__ADS_1