
Farid
Aku meminta Rocky untuk menemaniku malam ini di rumah. Syukurlah, dia bersedia. Entah kenapa, tiba-tiba aku dilanda kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat. Aku benar-benar takut sendirian.
Aku meminta Bu Atin dan Anwar, anak bungsunya untuk menginap di rumah. Aku katakan pada mereka, kalau Ninis sedang ada tugas ke luar kota. Tugas penting yang tidak bisa ditunda atau diwakilkan.
Aku belum juga punya keberanian untuk menghubungi Bu Endang dan menceritakan semuanya. Sekarang aku hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa segera berjalan lagi tanpa rasa sakit.
Aku harus kuat. Meski harus berjuang sendiri. Aku harus segera sembuh dan menyelesaikan masalahku dengan Ninis. Aku mendorong kursi rodaku menuju kamar kerjaku dan mencari surat perjanjian itu, mempelajari lagi dengan seksama sembari menganalisa lagi, kira-kira apa yang pantas kuberikan untuk Ninis.
Tanah di Cimanggu, mobil, uang, hmmm, kira-kira berapa uang yang akan kuberikan pada Ninis? di surat perjanjian tertulis kalau Ninis akan mendapatkan 850 juta, ditambah satu buah mobil mercedez, dan tanah...Baiklah, karena aku batal rujuk dengan Meylan, tanah tidak akan kuberikan.
Ninis akan kuberikan mobil dan uang saja. Dan untuk itu, aku harus membicarakannya dengan dia. Tapi kemana dia? hatiku seketika menghangat mengingatnya. Apa benar Ninis ada hati denganku? jika iya mungkin, nilai dari kompensasi ini bisa diminimalisir, hahahaha.
__ADS_1
Aaah, pikiran apa ini? aku tahu, Ninis bukan perempuan bodoh. Sepertinya, dia tidak bisa dicurangi, buktinya dia tetap menuntut ganti rugi atas kejadian malam itu. Dia ingin aku memberikan ganti rugi karena aku telah merenggut mahkotanya.
Apa yang akan kuberikan sebagai nilai ganti rugi itu? tambahan uang? atau apartemen mungil yang ada di Pasar Minggu itu ya? ya, aku akui, Ninis layak mendapatkan lebih, dia berhati baik, Aku tidak boleh mencuranginya.
Apartemen mungil, juga mobil dan uang ratusan juta itu hanya sebagian kecil dari asetku. Aku tidak akan rugi. Hatiku menghangat lagi mengingat Ninis. Senyumnya, kepolosannya, meskipun dia tidak menarik secara fisik di mataku.
Mama begitu menyukainya. Di mata Mama, Ninis cukup ideal untuk mendampingiku, mengurusku. Aaah, mengapa semua ini harus terjadi? Cinta dan kegilaaanku pada Meylan telah menuntunku menjadi seperti ini.
Mas, aku ada kabar gembira nih. Bang Norman mau mengenalkan aku sama orangtuanya di Bandung. Duh, jadi grogi...Bantu doa ya Mas, semoga lancar dan hubungan kami direstui.
Aku tertegun, seolah bisa membayangkan betapa bahagianya Reyna saat ini.
Selamat Rey....Aku turut senang mendengarnya. Aku yakin, orangtua Bang Norman pasti menyukai kamu. Kalian pasti akan bersatu dan bahagia. Oh iya, jika ada waktu, boleh kita ketemu sebentar? aku ingin membicarakan sesuatu.
__ADS_1
...****************...
Ninis
Kegiatan pelatihan yang lumayan menguras waktu, tenaga dan pikiran. Ada begitu banyak materi dan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Alhamdulilah, teman-teman satu kelompok lumayan asyik untuk diajak kerja sama. Sejenak, kesibukan selama pelatihan membuat saya lupa akan Si Botak.
Biarlah, saya sudah siap dengan segala konsekuensi. Saya pasrah kemana nasib akan membawa saya. Saya sudah tidak terlalu berharap banyak lagi. Secepatnya, saya akan bicara pada Bu Endang.
Hingga tiba saatnya hari terakhir pelatihan. Kami semua harua segera check out dari hotel. Dalam perjalanan pulang, saya bingung, akan pulang kemana saya ya? ke rumah Si Botak tidak mungkin, Saya kan sedang memberikan dia pelajaran. Ke rumah orangtua saya, nanti malah akan timbul pertanyaan.
Duh, masa sih, saya harus stay di hotel lagi? bisa jebol isi kantong saya. Atau menginap di rumah Vera? aah, itu lebih gak mungkin lagi. Hingga mobil travel hampir sampai di tempat tujuan, saya masih belum tahu saya akan kemana. Apa ke rumah Bu Endang saja ya? sekalian curhat dan mengungkapkan semuanya. Aah, tidak. Sekarang bukan saat yang tepat.
Bersambung.
__ADS_1