LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Rencana Hampir Gagal


__ADS_3

FARID


Aku turun ke bawah untuk sarapan. Ninis sudah ada di dapur membantu Mama. Mama memang cekatan kalau untuk urusan dapur. Selama di sini, berbagai menu sarapan hasil olahannya selalu saja tersaji di meja makan.


"Tumben keren amat. Mau kemana pagi-pagi?" tanya Kak Ferin.


"Ada urusan sebentar. Mau ketemu klien."


"Lho ini kan hari minggu. Gak pengertian banget sih kliennya."


"Bukan klien sih Kak. Cuma ada urusan aja." Duh, Kak Ferin kepo banget sih.

__ADS_1


"Batalin aja kalau bisa dibatalin. Mama sama Aufa minta dianter ke Dufan. Kasian Aufa tuh dari kemarin udah merengek terus minta ke Dufan. Mumpung masih di sini, tolong anterin ya Rid!" pinta Kak Ferin


Duh, apa-apaan ini. Aku kan sudah janji pada Meylan untuk menjemputnya di bandara. Perjalanan ke Dufan juga jauh. Pasti macet pula. Apalagi ini week end. Gak mungkin bisa mengejar waktu dari Dufan ke bandara. Aku diam, memutar otak.


Aroma pancake mulai tercium. Perutku mulai keruyukan. Duh, kenapa jadi begini sih. Padahal sudah disiapkan dengan matang dari semalam. Aku tidak mau Meylan kecewa. Aku mulai bete. Coba tadi aku langsung keluar saja ya? gak pake acara mampir dulu ke meja makan. Dan Mama? tidak tega juga rasanya kalau menolak permintaan Mama. Mumpung Mama ada di sini. Mama kan pastinya pengen jalan-jalan. Apalagi sambil momong cucu.


Pandanganku tertuju pada Aufa yang sedang berbisik pada mamanya. Bocah gendut itu nampaknya serius sekali. Membuatku makin gemes ingin mencubit pipinya.


"Ya ampun. Terima kasih bocah gembul." Aku pun mengecup pipinya montok. Baiklah, kalau ke Mall sekitar sini saja sih, oke lah. Selesai dari Mall, aku bisa langsung meluncur ke bandara. Paling cuma sampe cuma dua atau tiga jam, bocah ini main di Time Zone, setelah itu dia akan minta pulang. Kalau nanti mereka hang out di Mall sampai sore, aku akan cari alasan untuk bisa secepatnya ke bandara.


"Oh iya, aku dikasih kain batik sasirangan nih sama klien. Bagus loh. Cocok buat outfit couple buat kamu sama Ninis." Bungkusan plastik berwarna gold itu diletakkan Kak Ferin di hadapanku.

__ADS_1


"Nis. Nanti jangan lupa dijahit ya!"


"Oh iya. Nanti sehabis makan, Ini diminum ya Rid. Ninis sudah minum tadi. Ini ramuan penyubur." Mama meletakkan cangkir panas di samping piring pancake.


Tiba-tiba aku tersedak. Mama ada-ada saja. Katanya itu adalah ramuan herbal yang bagus untuk kesuburan. Sepertinya ini campuran dari berbagai rempah-rempah. Ada jahe, kunyit, dan entah apalagi ini.


"Makasih Ma." Hanya itu yang kujawab. Mama tampak senang. Mama memang sudah ingin sekali menimang cucu dariku. Sabar ya, Ma. Aku pasti akan memberikan Mama cucu nanti. Tapi bukan dari Ninis, melainkan dari Meylan. Siapa tahu nanti, jika aku rujuk dengan Meylan dan kami punya anak, sikap Mama ke Meylan akan berubah. Aah, tak sabar rasanya ingin secepatnya menemui Meylan.


Ponselku berbunyi. Dengan sangat hati-hati kubuka pesan WA. Meylan mengabarkan kalau pesawatnya delay. Diperkirakan mendarat sekitar pukul tiga sore. Ooh, baiklah. Nampaknya semua berjalan rapih hari ini. Aku bisa menemani Mama dan Aufa ke Mall dulu, tanpa terburu-buru. Baru setelah itu ke bandara. Sudah terbayang bagaimana pertemuanku nanti dengan Meylan. Aku teringat masa-masa dulu dimana aku sering menjemputnya di bandara. Debar perasaan ini masih sama. Aku berencana akan mengajaknya dinner malam ini di resto favoritnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2