
"Kamu dan Meylan, tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya jika kalian ada di posisi saya. Kecewa, terhina, merasa dibodohi. Saya cukup tahu diri koq. Siapalah saya ini? hanya perempuan jelek dan miskin. Enggak ada menarik-menariknya! mana mungkin laki-laki seperti anda tertarik dan ingin menikahi saya!" saya kembali tersedu-sedu.
Jujur saja. Saya tidak sepenuhnya menangis betulan. Tapi ternyata, tidak sulit juga mengeluarkan air mata, hehehe.
"Ninis......Demi Allah, maafkan aku. Aku akui aku salah... Tapi aku kan tidak pernah memaksamu. Kamu sendiri juga menyetujui kesepakatan itu, kan?" ucap Si Botak sambil terbata-bata.
Sialan. Dia malah mencoba menskakmat ucapan saya. Iya juga sih, memang saya menyetujui permainan itu. Tapi wanita mana yang rela jika didekati dan dinikahi hanya demi sebuah status palsu? sebagai syarat dari mantan istrinya yang sakit jiwa itu untuk bisa rujuk kembali? dan dia mengungkapkan semua itu setelah kami menikah. Setelah saya sah menjadi istrinya.
Saya kembali membalas ucapannya, " karena kamu sudah menjebak saya. Mengapa sedari awal kamu tidak mengatakan kalau tujuanmu menikahi saya adalah karena Meylan? sebagai syarat yang diminta perempuan itu agar dia mau diajak rujuk."
"Jika kamu jujur sebelum kita menikah, mungkin saya tidak akan mau. Wanita mana yang sudi jika dinikahi hanya untuk dibohongi?" saya kembali terisak.
"Apa kata keluarga saya nanti jika baru menikah, saya sudah meminta cerai. Saya juga harus menjaga perasaan orangtua saya juga perasaan orangtua kamu. Maka saya putuskan untuk mengikuti permainan kalian."
"Saya yakin, kamu dan Meylan memang sudah merencanakan semuanya dengan rapih. Dengan mengungkapkan semua kepalsuan kamu setelah kita menikah, membuat posisi saya sangat sulit. Maka tidak ada pilihan lain bagi saya selain menyetujui tawaran dari kamu."
" Ya Allah, Ninis...Maafkan aku, Nis. Sekarang apa yang kamu inginkan, Nis?"
"Seperti apa yang aku katakan tadi, Mas. Aku ingin realisasi dari surat perjanjian itu. Aku akui aku juga butuh uang. Aku masih memikirkan untung rugi."
__ADS_1
"Sudah ditipu dan dikecewakan, masa tidak dapat kompensasi? atas dasar itulah, aku putuskan untuk menerima tawaran kamu." Jawab saya ketus.
Dia terdiam. Tidak bisa menjawab penjelasan saya. Rasanya pertahanan saya kali ini benar-benar bobol. Saya tidak kuat lagi menahan emosi.
Entah apa penyebabnya? mungkin karena rasa cemburu saya yang belum juga hilang saat melihat dia yang belum bisa move on dari Meylan, dan masih saja mengacuhkan saya, atau saat melihat begitu dekat dan akrabnya dia dengan Reyna? yang jelas saya sudah merasa lelah dan capek dengan permainan ini. Saya butuh kejelasan akan nasib saya.
"Beginilah nasib orang jelek dan miskin. Mungkin kalau saya cantik dan kaya, kamu tidak akan memilih saya untuk dijadikan istri palsu," saya melanjutkan.
"Nis, cukup. Bukan begitu, Nis," dia gelagapan. Wajahnya semakin pucat. Yess, dengan kondisi tidak berdaya seperti ini, saya seolah berhasil membuat dia merasa tersudut.
"Mas melakukan semua itu karena cinta, kan? atas dasar cintamu yang begitu besar kepada Meylan, maka rela melakukan semua tindakan bodoh dan beresiko, termasuk mengkhianati nilai-nilai sakral perkawinan," ucap saya lagi.
"Harusnya Meylan beruntung bisa dicintai pria seperti kamu. Jika saya menjadi Meylan, saya pasti akan sangat bahagia. Tidak ada yang lebih indah jika bisa dicintai oleh orang yang kita cintai bukan?"
"Mungkin atas dasar cinta juga kamu begitu selektif memilih wanita yang akan kamu nikahi dalam proyek rujuk dengan Meylan."
"Hanya wanita jelek dan miskin seperti saya yang pantas dijadikan tumbal? mengapa bukan wanita cantik yang waktu itu menjengukmu di rumah sakit? aku lihat dia sangat cantik dan menawan. Sepertinya kalian juga sangat dekat dan akrab. Mengapa? karena wanita seperti itu bisa membuatmu jatuh cinta kan? dan kamu tidak mau kan, rasa cinta kamu ke Meylan akan tergantikan?" ucap saya semakin sinis.
"Semakin ke sini saya semakin menyadari itu semua, termasuk tentang alasanmu memilih saya. Mengapa saya? karena saya tidak cantik dan menarik di mata kamu. Seandainya Bu Endang tahu semua ini...."
__ADS_1
"Sekarang apa mau kamu, Nis? katakan sebenarnya. Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Aku benar-benar bodoh telah melakukan semua itu. Semua karena Meylan. Demi cintaku padanya....Tapi nyatanya seperti ini sekarang. Aku sendiri bingung harus bagaimana?"
"Kenapa bingung? aku hanya ingin kejelasan nasibku di sini. Aku butuh realisasi. Masihkah aku dibutuhkan di sini atau memang sudah sepantasnya untuk dilepas dengan sejumlah kompensasi? tanyakan pada hatimu!" saya pun berlalu meninggalkannya.
Saya masuk kamar dan mulai membereskan barang-barang saya. Sekali lagi, saya ingin mengetes dia. Hahaha...Entahlah Mungkin jika saya pura-pura pergi, bagaimana reaksi dia?
"Aku pergi dulu, Mas. Kamu sudah bisa berjalan sedikit-sedikit kan? aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan sembuh total."
"Mau kemana kamu? kenapa bawa koper segala? kamu benar-benar ingin pergi dari sini?" pandangan matanya tertuju pada koper kecil berwarna coklat yang saya bawa.
"Aku hanya ingin menjernihkan pikiran. Memperbaiki suasana hati." Jawab saya.
Dia terlihat bingung. Saya mendekatinya dan meraih tangannya untuk saya cium sebagai simbol berpamitan. Tanpa sengaja gagang koper menyenggol nampan berisi piring dan gelas bekas makan yang berada di pinggir meja. Hancur berantakan.
Praaaaaaang, "seperti itulah suasana hatiku saat ini," ucap saya lirih. Dia terlihat sangat terkejut. Matanya menatap saya dengan penuh keheranan. Dia membisu. Saya pun bergegas keluar. Ah itu dia, Bu Atin sudah kembali. Tadi dia pamit untuk pulang sebentar ke rumahnya.
"Bu, tolong bereskan ya. Saya mau pergi dulu. Ada urusan pekerjaan."
Bersambung.
__ADS_1