
"Aku gak bisa lama-lama ya Nis. Habis ini aku harus jemput anak-anakku di rumah papanya. Minggu ini jadwal aku hang out sama mereka."
"Senang ya Rey punya anak. Pasti anak-anakmu cantik seperti kamu."
Reyna tersenyum, lalu dengan antusias dia menceritakan tentang ketiga anak perempuannya lengkap dengan tingkah polah mereka termasuk hubungannya dengan mantan suami dan juga istri baru dari mantan suaminya. Semuanya sangat baik.
"Aku dan mantan suami sudah sepakat untuk menempatkan kebahagiaan anak-anak di atas segalanya. Meskipun kami sudah tidak bisa bersama, kami sepakat untuk tetap menjalin hubungan baik sebagai teman dan saudara. Semua demi anak-anak."
"Oleh karena itu, aku tidak mau ada dendam dan sakit hati. Yang lalu biarlah berlalu. Semua manusia pernah melakukan khilaf dan salah. Dan memaafkan itu jauh lebih berfaedah daripada meyimpan kebencian," tutur Reyna.
Saya tertegun mendengar penuturannya. Tidak menyangka, ternyata Reyna sebijak ini. Dia sudah lama melupakan rasa sakit hatinya terhadap suaminya yang dulu pernah melakukan tindak KDRT padanya. Dan itu semua dia lakukan demi anak-anak. Dia tidak mau anak-anaknya membenci papanya.
"Kamu juga harus memaafkan Mas Farid, ya Nis! apapun yang akan terjadi, kamu harus tetap memaafkan dia. Lupakan dan maafkan, supaya hatimu menjadi lapang."
"Kira-kira apa keputusan Mas Farid, ya Rey?" tiba-tiba saya mulai nervous. Taxi online mulai melaju ke arah belokan menuju jalan Angkasa. Sebentar lagi kami akan sampai di rumah Si Botak.
"Aku tidak tahu, Nis. Kamu berdoa saja, mohon yang terbaik. Apapun yang akan terjadi, anggaplah itu adalah keputusan yang tepat. Seandainya dia meminta kamu untuk kembali atau dia akan melepaskan kamu, kamu harus tetap kuat dan memaafkan dia."
Dengan perasaan yang campur aduk, kami memasuki rumah itu. Reyna memencet bel. Rumah nampak sepi. Kenapa tidak ada yang keluar ya? tidak nampak Bu Atin.
__ADS_1
"Kok tidak ada yang keluar ya, Rey? apa Mas Farid masih tidur? biasanya ada Bu Atin yang membukakan pintu."
...****************...
Duh, kenapa jadi kikuk begini. Reyna mengedipkan matanya ke arah saya. Seolah bisa membaca isi hati saya. Dari arah kamar terdengar suara kursi roda. Si Botak sedang menuju ke sini, ke ruang tamu tempat saya dan Reyna duduk.
"Saya tinggal dulu ya Bu. Itu Pak Farid sudah ke sini," ujar seorang anak muda yang kemudian saya ketahui adalah Anwar, anak bungsu Bu Atin yang diminta oleh Si Botak untuk menginap di rumah.
"Ninis.....Apa kabar kamu? kamu kemana aja? kenapa tidak bisa dihubungi?" Si Botak terlihat lebih kurus dan pucat. Tulang rahangnya terlihat makin jelas. Matanya terlihat kuyu, seperti kurang tidur.
Dengan gugup saya mendekatinya dan mencium tangannya.
"Maafkan aku Mas. Aku terpaksa pergi untuk menjernihkan pikiran. Aku hanya capek dan lelah dengan keadaan. Aku butuh kejelasan akan statusku dan juga kompensasi itu," entah dari mana tiba-tiba kalimat itu meluncur saja.Tanpa ada basa-basi.
"Aku yang seharus minta maaf Nis. Aku banyak menyakiti perasaan kamu. Soal kompensasi itu, kamu gak usah khawatir. Aku sudah persiapkan semuanya. Kamu pantas untuk mendapatkan lebih." Si Botak menggapai handle laci yang terletak di pojok ruangan lalu meraih selembar map dan menyerahkannya pada saya.
"Tolong baca ini. Jika ada hal-hal yang kamu anggap masih kurang berkenan, katakan saja. Oh iya, kalian sudah makan? kalau belum, aku mau pesan makanan. Kita makan sama-sama ya!" ucap Si Botak sambil menatap ke arah saya.
"Tidak usah repot-repot Mas. Aku dan Reyna buru-buru koq. Tujuanku ke sini kan hanya untuk menyelesaikan masalah kita. Aku ingin semuanya cepat selesai."
__ADS_1
Saya membaca lagi surat perjanjian itu. Si Botak tadi mengatakan kalau aset-aset yang tertulis dalam surat perjanjian itu, sekarang sudah sah menjadi milik saya.
Meskipun dia batal rujuk dengan Meylan, semuanya kini telah menjadi milik saya. Satu buah mobil Mercedes Benz, uang 850 juta, Tanah di daerah Cimanggu, dan juga ini ada tambahan satu unit apartement. Gila.....Amazing !!
"Kenapa ada tambahan apartemen, Mas? ini banyak sekali," saya benar-benar dibuat shock.
"Tidak apa-apa, Nis. Kamu pantas menerimanya. Ini semua tidak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan kamu, ketulusan kamu. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf."
Mendung nampak menggelayut di wajah Si Botak. Seperti ada ekspresi sedih dan bingung terpancar di sinar matanya. Duh dia kenapa ya?
"Kamu kenapa Mas? masih sakit? gimana kondisi kakimu? sudah ada progress?" saya membungkukkan badan dan menyentuh kakinya.
"Kapan Mas Farid kontrol ke dokter lagi? biar aku anter ya! aku ingin hubungan kita tetap baik, meskipun kita tidak lagi menjadi suami istri. Aku ingin dirimu cepat bisa berjalan lagi."
"Aku juga akan selalu berdoa buat kamu. Semoga Mas Farid bisa menemukan pasangan yang baik yang sesuai dengan harapan Mas. Sekali lagi aku minta maaf, kalau selama di sini, aku banyak mengecewakan kamu. Terima kasih atas semua yang sudah kamu berikan," ucap saya.
"Tapi, apa ini tidak terlalu banyak, Mas?" tanya saya.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.
Matursuwun.