LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Bertemu Reyna


__ADS_3

Ya ampun....Itu kan Si Kutilang Berdasi. Ngapain dia ke sini? pasti dia penasaran karena ajakannya untuk ketemuan tidak saya jawab. Darimana dia tahu alamat sekolah ini? Fix.... Dia pasti tahu dari Si Botak.


Dengan ragu saya melangkah ke arah lobi menuju posisi tempat Reyna duduk. Dia duduk dengan tenang sambil memainkan ponselnya. Saya amati penampilannya dari atas hingga ke bawah. Dia benar-benar cantik.


Mengenakan busana casual dengan riasan make up minimalis membuatnya seperti anak kuliahan. Saya menarik nafas panjang dan berkata di dalam hati bahwa saya tidak boleh minder. Saya tidak boleh minder. Tidak boleh minder. Saya harus memberanikan diri saya.


"Maaf, saya Ninis. Ada keperluan apa ya mau bertemu saya? apa ada yang bisa saya bantu?" saya mendekatinya sambil mengulurkan tangan.


Reyna terperangah dan menyambut uluran tangan saya. Dia tersenyum ramah.


"Senang bertemu dengan Mbak Ninis. Bisa kita bicara di luar? maksud saya, tidak di sini. Ada yang mau saya sampaikan tentang Mas Farid. Penting."


Dengan ragu saya mengangguk. Si Kutilang berdasi tersenyum lagi. Entah mengapa cara tersenyumnya mengingatkan saya pada momen di mana dia sedang makan berdua dengan Si Botak waktu itu di Mall. Momen di mana saya menguntit Si Botak saat janjian dengan dia. Jujur saja, percikan api cemburu mulai menyala-nyala di dalam hati saya.

__ADS_1


Saya kembali ke ruangan untuk mengambil tas dan mohon izin pada Bu Endang untuk tidak hadir saat rapat nanti. Untung saya bukan wali kelas, jadi bisa izin untuk keluar sebentar.


Saat berjalan menuju lobi, tiba-tiba Bu Linda menarik tangan saya. Sambil berbisik, Bu Linda mengatakan kalau banyak bapak-bapak di ruang guru yang penasaran dengan wanita cantik yang ada di lobi. Mereka kasak-kusuk ingin tahu siapa wanita cantik itu. Ternyata diam-diam mereka pada mengintip dari kejauhan...Dasar!


...****************...


Reyna membawa saya ke sebuah cafe yang ada di pinggiran jalan Jakarta Bogor. Tempat itu cukup nyaman, meski berada di pinggir jalan. Kami mengobrol di lantai atas yang pengunjungnya tidak terlalu banyak.


Suasananya cukup hening dan tidak terlalu bising. Kami duduk di spot sebelah kanan yang menghadap ke arah taman. Wanita itu ternyata cukup ramah. Saya yang lebih banyak diam lama-lama mulai terkesan dengan sikap ramahnya.


"Dia benar-benar tidak punya hati dan perasaan. Tapi sekarang sepertinya dia sudah menyadari kebodohannya," ucap Reyna sambil menarik nafas panjang.


"Dia meminta saya untuk berbicara pada Mbak Ninis. Berkali-kali dia menghubungi Mbak Ninis tapi Mbak Ninis masih saja memblokir nomer kontaknya."

__ADS_1


"Mbak Ninis, sekali lagi, maafkan kelancangan saya. Saran saya, temuilah Mas Farid. Bicarakan semua baik-baik. Melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Saya mengerti sekali bagaimana perasaanmu, Mbak. tapi tidak ada salahnya untuk mengesampingkan ego, berikan kesempatan pada Mas Farid untuk bertemu dan memperbaiki kesalahannya, Mbak."


Saya terdiam dan berusaha meresapi kata-kata Reyna. Benarkah Si Botak ingin menemui saya karena dia benar-benar menyesal dan ingin mempertahankan saya untuk terus berada di sampingnya ataukah dia hanya ingin memberikan saya kejelasan tentang kompensasi surat perjanjian itu? dan jika dia benar-benar ingin mempertahankan saya, bisakah dia melepaskan diri dari bayang-bayang Meylan?


Saya sendiri tidak tahu apakah saya masih mengharapkannya untuk bisa mencintai saya atau sebaliknya? yang jelas saat ini saya sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, yaitu pisah dengannya dan menceritakan semuanya pada orangtua saya, Bu Endang dan juga mamanya.


"Panggil saja saya Ninis, supaya lebih akrab. Oh iya, boleh saya tahu, sebenarnya anda ada hubungan apa dengan Mas Farid?" tanya saya.


Entah mengapa pertanyaan itu meluncur saja begitu saja dari mulut saya.


Bersambung.


Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.

__ADS_1


Matursuwun.


__ADS_2