
Saya masih takjub dengan keajaiban sore ini, di mana saya menjadi model....Wow thats amazing....Ya Allah, masih gak percaya rasanya. Saya berwajah biasa dengan bentuk tubuh yang tidak menarik seperti ini bisa menjadi model. Huh,dasar Ninis norak, bisik hati saya. Karena sampai di rumah pun, saya masih saja tidak melepas cermin. Rasanya sayang sekali untuk menghapus make up. Make up ini yang membuat wajah saya terlihat cantik dan pangling.
Si Botak belum pulang sepertinya, sekarang sudah jam dua belas malam. Apa dia menghindari saya? ataukah dia sedang ke tempat hiburan dan akan sampai di rumah nanti dalam keadaan mabuk, dan setelah itu dia akan melakukan hal itu lagi sama saya? aah, sepertinya tidak. Dia sepertinya ingin menjauhi saya. Saya mencoba memejamkan mata.
Baru lima belas menit, saya terbang ke alam mimpi, ketika ponsel saya berdering. Huh, mengganggu saja. Saya tersentak bangun, karena ponsel berbunyi lagi. 10 kali panggilan tak terjawab dari mama mertua.
Ya Allah ada apa ini? saya mencoba menelpon dan ternyata kabar mengejutkan yang datang. Saya mendadak lemas, rasa kantuk saya lenyap seketika. Si Botak kecelakaan dan kondisinya kritis sekarang.
"Cepat kamu ke rumah sakit sekarang, Nis! Farid kritis kata dokter. Mama tidak bisa ke sana sekarang. Darah tinggi mama juga sedang kambuh. Ferin baru bisa ke Jakarta sehabis subuh. Menunggu suaminya pulang." suara Mama terisak-isak menahan tangis.
Duh saya jadi tidak tega. Malah jauh lagi rumah sakitnya, daerah Jakarta Barat. Ini tengah malam pula. Saya tidak mungkin ke sana sendirian tengah malam. Ya Allah, harus bagaimana ini? siapa yang bisa mengantar saya ke rumah sakit sekarang?
__ADS_1
aah, ada-ada saja Si Botak! pasti dia habis mabuk lagi dan mengendarai mobil dalam keadaan mabuk lalu terjadilah kecelakaan.
Lebih baik saya berdoa saja. Saya putuskan untuk ke rumah sakit, sehabis subuh saja. Malam ini saya akan fokus berdoa. Berdoa untuk kesembuhan Si Botak. Hanya itu yang bisa saya lakukan sekarang. Terbayang betapa paniknya mama saat mendengar Si Botak kecelakaan. Kasihan, Mama...
Doa saya terjawab setelah Bu Endang merespon status yang saya tulis di WA. Beliau menanyakan saya kenapa? kok tiba-tiba menulis status "bingung" tengah malam begini. Dan akhirnya saya pun menceritakan semuanya. Dengan sigap Bu Endang menawarkan saya bantuan. Saya bisa ke rumah sakit malam itu juga diantar oleh beliau dan Mas Anto, keponakannya.
Ya Allah, sungguh mulia hati Bu Endang. Beliau bersedia menemani saya ke rumah sakit. Duh, saya jadi tidak enak.
Jam setengah dua tadi, Bu Endang dan keponakannya menjemput saya. Kebetulan juga beliau tahu lokasi rumah sakitnya. Karena malam hari dan tidak macet, perjalanan hanya memakan waktu 45 menit.
Kondisi Si Botak mulai sadar. Tapi dia masih berada di ruang ICU. Dia masih tertidur pulas. Saya memandangnya dengan wajah kasihan. Menurut pemeriksaan dokter, Si Botak tadi dalam kondisi mabuk, dan dia mengalami kecelakaan. Untungnya benturan di kepalanya tidak terlalu parah, hanya tulang panggulnya cedera dan tulang lututnya patah. Dia harus menjalani operasi jika kondisinya sudah mulai pulih nanti.
__ADS_1
Ya Allah, ingin sekali rasanya saya menumpahkan semuanya pada Bu Endang. Tentang pernikahan yang saya jalani dengan Mas Farid, tentang segala kekecewaan dan kesedihan yang saya alami selama ini.
"Sabar ya, Nis. Kamu harus kuat. Yang sabar mengurus suamimu. Kalau ada kesulitan apa-apa, jangan sungkan bicara sama Ibu. Mas Farid pasti membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk bisa pulih dan bisa jalan lagi. Di situlah letak kesabaranmu sebagai seorang istri." Ujar Bu Endang.
Saya hanya mengangguk. Ya, saya akan mencoba untuk kuat. Mungkin ini jawaban dari Tuhan atas doa-doa saya selama ini. Dengan mengurus dan merawat dia, akankah nantinya bisa membuat dia luluh dan mencintai saya dengan tulus?
Mungkinkah ini pertanda bahwa permainan kami akan berakhir alias game over? dan saya yang akan menjadi pemenangnya. Lalu bisa membuat dia jatuh hati pada saya dengan sepenuh hati dan melupakan Meylan selama-lamanya?
Air mata saya menetes lagi. Mungkin musibah kecelakaan ini akan jadi awal yang baik untuk keutuhan rumah tangga saya. Semoga saja, Ya Allah. Harapan saya mulai bangkit kembali. Saya genggam tangan Si Botak dan mengecup keningnya. Cepat sembuh, Sayang, bisik hati saya.
Bersambung.
__ADS_1