
Meja makan masih tertata dengan rapih. Mas Farid dan saya baru saja menikmati makan malam. Hmm, betapa lezatnya sop buntut dan sate ayam yang dipesan Mas Farid tadi.
Kami masih duduk di kursi makan. Ketika Mas Farid tiba-tiba bicara.
"Aku mau bicara, tapi sebelumnya aku mau minta maaf dulu sama kamu. Tolong maafkan kesalahanku ya!"
Wajahnya nampak pucat seperti orang yang sedang duduk di kursi pesakitan. Waduh, ada apa ini?
"Minta maaf kenapa Mas ?"
Perasan tidak enak mulai menyergap saya. Apa Jangan-jangan dia ingin mengakui kalau dirinya gay?
Dia terdiam, kepalanya tertunduk.
"Bicara aja Mas. Aku siap mendengarnya!"
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar harus jujur. Aku tidak mau terlalu lama membuatmu tersakiti. Tapi aku juga makin tersiksa dengan perasaan ini. Harusnya memang aku tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan...."
Lalu kalimat demi kalimat terus mengalir. Dia nampak begitu tegang tapi dia meminta saya untuk terus mendengarkan tanpa menyela penjelasannya.
__ADS_1
Astagfirullahaladzim..... Jadi selama ini dia?
Boooom..... Sebuah ledakan keras menghujam jantung saya. Ya Allah, lelucon macam apa ini?
"Aku tahu, aku salah. Tapi aku tidak bisa melupakannya. Dan sampai detik ini, masih sangat mengharapkannya. Aku terlalu mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya...."
What ???? hati saya mulai teriris-iris.
"Mengapa kamu menikahi saya?" saya makin terisak.
Dia melanjutkan lagi kalimatnya. Hati saya makin berkecamuk, tidak karuan. Tapi saya tidak beranjak pergi meninggalkan meja makan. Saya masih penasaran dengan semua penjelasannya. Biarlah, biar jelas semuanya. Biar lengkap semua rasa sakit ini.
Permainan sinting macam apa ini? saya merasa seperti berada di tepian jurang. Saya berpegang pada pinggiran jembatan yang nyaris rapuh. Saya bersiap untuk jatuh sebentar lagi.
Dia masih saja terus bercerita. Entah ada kekuatan apa yang membuat saya masih kuat untuk mendengarkan. Hey, Ninis mengapa kau tidak cemburu?
Tentu saja saya dibakar cemburu. Bahkan ingin meledak rasanya. Dia sedang menceritakan tentang mantan istrinya sekaligus sedang jujur pada saya kalau dia belum bisa move on dan masih sangat mengharapkan mantan istrinya untuk kembali lagi padanya.
Intonasi suaranya yang awalnya begitu gugup lama-lama makin terdengar tenang dan lambat. Seperti suara aliran air yang mengalir perlahan. Mungkin karena dia melihat saya tidak ngamuk dan beranjak dari kursi maka dia bisa menunjukkan sikap tenang.
__ADS_1
...****************...
"Dia bersedia untuk kembali lagi dengan satu syarat. Syaratnya adalah saya harus menikahi wanita lain. Saya tahu ini ide gila. Tapi saya..."
"Siapa yang mengajukan gugatan cerai duluan saat itu?" tanya Saya.
"Dia. Saya sendiri tidak pernah ada keinginan untuk cerai. Saya masih berharap suatu saat nanti dia bisa berubah. Tapi Meylan tetap pada keputusannya. Saya benar-benar menyesal telah melepaskannya. Saya sadar, saya tidak bisa hidup tanpa dia..." Wajah Mas Farid makin pias.
Edan. Ini benar-benar gila. Begitu gampangnya dia menyatakan semuanya. Pengakuan bahwa dia selama ini tidak pernah menginginkan saya. Ya Tuhan, sekarang baru terkuak semuanya. Dari awal sebenarnya, saya sudah curiga dengan sikapnya yang begitu kaku dan datar. Tidak ada ekspresi bahagia ketika kami sebentar lagi akan menikah.
Ternyata, sedari awal dia memang tidak menginginkan pernikahan ini? lantas mengapa dia harus melakukannya juga?
Apa tujuan dia yang sebenarnya menikahi saya?
Ya Allah... Sebegini burukkah nasib saya? apa saya memang tidak layak untuk bahagia? buliran hangat makin deras berjatuhan dari sudut mata saya. Ini sungguh sangat menyakitkan...
"Sekarang bagaimana mau kamu yang sebenarnya?" saya memberanikan diri untuk bertanya.
Saya siap dengan segala keputusan terburuk. Kalau memang harus berakhir, berakhirlah. Saya siap untuk hancur sekarang....
__ADS_1
Bersambung.