LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Sebuah Pukulan


__ADS_3

FARID


Ini memang gila. Tapi aku harus menjelaskan semuanya. Tentang hatiku dan perasaanku yang sebenarnya. Jujur, aku tidak tega menyampaikannya. Aku masih punya hati. Tapi aku harus melakukannya. Kerinduanku pada Meylan semakin menggila. Keinginanku untuk memilikinya lagi semakin sulit kubendung.


Semakin hari, aku semakin dibuat merana. Harusnya memang aku tidak mengikuti saran dari Mama untuk menikah lagi. Mama berharap dengan menikah lagi, aku bisa secepatnya move on dari Meylan. Itu memang tujuan mama. Tapi tidak menjadi tujuanku.


Berkali-kali Mama dan Kak Ferin mengenalkan aku pada beberapa wanita. Baik yang gadis maupun janda, tapi semua yang dikenalkan tidak sesuai dengan syarat yang diminta Meylan. Meylan menghendaki syarat tertentu jika aku ingin tetap kembali padanya.


Syarat yang diminta Meylan memang gila. Sungguh tidak habis pikir. Dia memintaku untuk menikah lagi dengan wanita yang standar kecantikan dan penampilannya jauh di bawah dia. Dia ingin mengujiku, apakah benar nantinya aku bisa bahagia dengan wanita yang seperti itu? yang selama ini selalu dikatakan Mama, bahwa istri yang ideal itu tidak harus cantik, tapi dia harus bisa menjalani perannya sebagai istri dengan baik. Harus nurut dengan suami, harus bisa mengurus segala kebutuhan suami, mengurus rumah tangga, serta sederet syarat ideal yang bersifat klasik pada umumnya.


Meylan memang sangat tersinggung waktu itu dengan ucapan Mama. Juga dengan ucapanku. Sebagai anak laki-laki satu-satunya, Mama berharap istriku kelak bisa mengurusku dengan baik. Bisa memasak untukku, bisa menghandle urusan rumah tangga, dan sebagainya. Aku pun berharap seperti itu.


Oleh karena itu, aku pun melarang Meylan bekerja setelah kami menikah. Aku ingin Meylan tetap di rumah saja. Namun berat bagi Meylan untuk melepas pekerjaannya sebagai model papan atas. Catwalk dan fashion adalah dunianya.


Awalnya aku masih memberinya toleransi. Aku izinkan dia untuk tetap bekerja. Namun makin hari jadwalnya makin padat, dia sering pergi ke luar kota bahkan ke luar negeri untuk urusan kerja.


Aku mulai memberinya ultimatum. Kesibukan Meylan yang gila-gilaan sepertinya membuatnya lupa akan rencana kami untuk punya anak. Aku memintanya untuk berhenti bekerja. Dengan berbagai alasan yang kukemukakan, akhirnya dia bersedia. Saat itu dia memang sedang dalam kondisi jatuh sakit akibat kelelahan.

__ADS_1


Aku pun memberinya modal yang cukup besar untuk membuka butik. Apalagi Meylan saat itu juga sedang menekuni kursus desain. Harapanku kelak, nanti dia bisa menjual desain-desain baju buatannya sendiri. Meylan setuju. Dia pun melepas pekerjaannya dan pelan-pelan mulai mengurus butiknya.


Aku senang. Begitu juga mama. Meylan punya banyak waktu di rumah. Saat week end, kami bisa menghabiskan waktu bersama-sama.


Namun sayangnya, itu cuma sebentar saja. Meylan tergoda lagi. Tawaran untuk pemotretan datang lagi diam-diam. Selain itu, dia juga mendapatkan tawaran yang lebih menggiurkan. Menjadi bintang iklan produk kecantikan di luar negeri. Tanpa sepengetahuanku, dia mengikuti casting dan lolos. Dia terbang ke Perancis tanpa sepengetahuanku.


Tentu saja aku marah ketika mengetahuinya. Meylan mengatakan, dia tidak bisa menolak tawaran itu karena kesempatan tidak akan datang dua kali. Dia memang mendapat bayaran sangat mahal setelah menandatangani kontrak. Belum lagi popularitasnya yang kembali bersinar.


Sejak itu, hubungan kami mulai memburuk. Kami sering bertengkar. Sampai akhirnya mama tahu dan mencoba untuk menasehati Meylan. Meylan tidak terima dan menganggapku pengaduan.


Meylan makin keras dengan prinsipnya. Dia merasa aku tidak bisa memahami keinginannya. Keinginannya untuk terus berkarier meski sudah berumah tangga. Dan keinginannya untuk dipahami jika dia memang tidak pandai mengurus pekerjaan rumah tangga.


Aku tidak mau bercerai darinya. Sungguh. Aku masih berharap dia bisa sadar dan memperbaiki lagi semuanya. Tapi dasar keras kepala. Meylan tetap pada prinsipnya. Dia tetap pada keputusannya ingin cerai dariku.


Aku sangat kalut saat itu. Setelah melewati proses yang cukup alot, akhirnya aku menyerah. Aku tidak bisa memaksanya untuk mencabut gugatan cerai itu. Kami pun resmi bercerai.


Mama bilang, keputusanku sudah tepat. Meylan bukan sosok istri yang baik, begitu pendapat mama. Dia tidak nurut pada suami dan keras kepala. Istri yang baik adalah istri yang bersedia mencurahkan seluruh waktunya untuk suami dan keluarga. Maka Mama dan Kak Ferin pun berusaha mencarikan aku beberapa calon.

__ADS_1


Harapan Mama, agar aku bisa secepatnya membuka lembaran hidup baru yang lebih bahagia. Tapi benarkah begitu ? nyatanya dari semua calon yang dikenalkan mama tidak ada yang bisa membuatku sreg. Padahal semuanya cantik dan berkelas.


Entah mengapa...


Jujur, aku masih sangat mengharapkan Meylan. Berkali-kali aku mengajaknya rujuk. Menyatakan penyesalanku. Aku juga tidak mengerti, mengapa pesonanya begitu kuat melekat di hatiku. Berkali-kali aku mencoba untuk melupakannya, tapi tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Aku berjanji akan memperbaiki segalanya, jika dia kembali pada ku, termasuk mengizinkannya untuk kembali berkarier.


Setelah berkali-kali mengemis dan memohon padanya, akhirnya Meylan bersedia. Tapi dengan satu syarat, aku harus menikah dulu dengan seorang perempuan yang sesuai dengan kriteria Mama. Tidak begitu cantik, kalau bisa yang penampilannya lugu, jauh di bawah standar kecantikan, begitu pintanya.


Syarat yang aneh. Entahlah.. Mungkin Meylan memang ingin membalaskan sakit hatinya atas ucapan mama waktu itu, sekaligus ingin mengujiku apakah benar sosok wanita seperti itu yang nantinya bisa menaklukkanku.


Jika aku serius ingin kembali padanya, maka harus menjalankan syarat ini. Setelah syarat terpenuhi, dia akan bersedia untuk rujuk. Awalnya aku sangat menentang ide gilanya ini. Tapi demi rasa cintaku padanya yang semakin memuncak, aku kalah. Aku terpaksa ikuti kemauannya.


Dan akhirnya hadirlah sosok wanita ini. Sosok yang dikenalkan Bu Endang padaku. Sosok wanita yang lugu, sederhana, sangat biasa. Aku pun memilihnya, karena sepertinya dia sangat memenuhi syarat sesuai dengan yang Meylan mau.


Dan terjadilah pernikahan ini. Pernikahan sandiwara. Pernikahan yang kujadikan sebagai loncatan untuk mendapatkan kembali cinta sejatiku, Meylan.


Aku sadar ini adalah tindakan fatal. Karena aku pasti sangat menyakiti perasaan wanita ini. Maafkan aku Ninis... Aku memang laki-laki brengsek. Kejujuranku ini telah memberikanmu pukulan hebat.

__ADS_1


Tapi aku janji, aku akan memberikanmu kompensasi atas semua ini...


Bersambung.


__ADS_2