
"Jam sebelas aku jemput ya, Nis. Kamu sampai jam berapa di sekolah?" suara Reyna terdengar samar-samar di telepon.
"Jam sepuluh Rey. Sebenarnya sampai sore, tapi nanti aku izin sebentar ke panitia."
"Oke. Bye."
Hari ini Reyna akan mempertemukan saya dengan Si Botak. Momen ini yang saya tunggu dari kemarin. Akhirnya Si Botak mau menemui saya, meskipun dengan perantara Reyna. Dasar Botak pengecut! pasti dia tidak berani mendatangi saya langsung.
Di telepon tadi Reyna mengatakan kalau Si Botak akan memberikan saya keputusan. Reyna tidak memberikan penjelasan apa-apa selain kalau saya harus kuat dan ikhlas dengan segala kemungkinan. Jantung saya berdegub tidak menentu. Apakah Si Botak akan menceraikan saya? ataukah dia akan mempertahankan saya?
Hati saya semakin tidak karuan. Apa yang akan diputuskan Si Botak nanti ya? jika dia melepaskan saya, semoga saya segera mendapatkan apa yang menjadi hak saya, yaitu kompensasi yang sesuai.
Tapi jika sebaliknya, benarkah dia akan menerima saya dengan sepenuh hati dan cinta? Apakah dia benar-benar bisa terlepas dari bayang-bayang Meylan?
Aah, lagi-lagi saya tidak boleh kegeeran. Setelah apa yang saya lakukan padanya, akankah dia mau menerima saya kembali? Kemarin saat bertemu langsung, Reyna hanya mengatakan kalau Si Botak sudah menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki hubungannya dengan saya.
__ADS_1
Apakah itu berarti dia akan meminta maaf dan meminta saya untuk kembali ke rumah itu dan menjadikan saya istri sungguhan? ataukah sebaliknya dia akan melepaskan saya sekaligus menyerahkan semua kompensasi sesuai kesepakatan.
Saya hanya bisa pasrah. Saya akui, saya juga salah. Seharusnya saya tidak meninggalkan dia yang sedang sakit begitu.
Seharusnya saya bisa bersikap dewasa dengan tidak mengabaikan telepon dan pesan-pesan darinya. Seharusnya saya bisa lebih bersabar. Tapi siapa yang kuat jika ada di posisi saya?
Sudahlah. Saya sudah pasrah....Saya tidak mau berharap terlalu tinggi. Apapun hasil dari pertemuan itu, yang jelas saya harus mendapatkan apa yang menjadi hak saya. Dia harus menyerahkan kompensasi itu pada saya hari ini juga.
"Nanti siang saya izin keluar sebentar ya Bu. Ada urusan keluarga penting," pinta saya pada Bu July.
"Mau kemana memangnya?" tanya Bu July. Dari raut wajahnya sepertinya agak keberatan saya pergi keluar. Saya maklum sih. Bu July pasti kerepotan kalau tidak ada yang bantu.
"Mau menyambut Ibu mertua saya, Bu. Kemungkinan beliau tiba di rumah sekitar jam sebelas. Di rumah sedang tidak ada orang, Bu. Mas Farid ada jadwal fisioterapi di rumah sakit, terus Bu Atin yang kerja di rumah juga izin tidak bisa masuk hari ini. Ga enak saja, kalau nanti pas Ibu mertua datang, di rumah tidak ada orang," saya terpaksa berbohong.
...****************...
__ADS_1
Reyna menjemput saya di depan Toserba dekat ujung jalan, kurang lebih lima ratus meter dari SDN Melati.
"Mau ketemuan di mana, Rey?"
"Di rumah Mas Farid lah. Menurutmu memang mau ketemu dimana?" Reyna bertanya balik sambil sesekali menatap layar ponselnya.
"Ya kali, dia mau ngajak ketemuannya di cafe atau resto," jawab saya santai.
"Ya enggak mungkinlah. Masak membicarakan hal-hal yang privat di tempat umum sih. Lebih enak kalau ketemunya di rumah dulu. Kamu kangen ya ngedate di cafe sama dia?"
"Hahahaha... Selama aku menjadi istrinya, tidak pernah sekalipun dia mengajakku makan di luar. Aku juga tidak pernah dikenalkan dengan teman-temannya."
Reyna tersentak. Dielusnya bahu saya. Tidak lama taxi online pun datang, dan kami bergegas menuju rumah Si Botak. Entah kenapa, rasanya saya segan untuk ke rumah itu. Tadinya saya berharap Si Botak akan menemui saya di cafe atau tempat makan. Tentunya di area yang privat dan enak untuk berbincang.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys.
Matursuwun.