LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Terkejut


__ADS_3

Tugas menguntit hari ini selesai. Begitu selesai dari bioskop, saya sudah tidak melihat mereka lagi. Entah kemana mereka. Biarlah, yang penting hari ini saya sudah cukup puas bisa membuntuti Si Botak dan Meylan. Lelah sekali rasanya. Padahal cuma membuntuti doang ya? mungkin karena rasa deg degan dan juga cemburu menjadikan saya serasa capek tingkat dewa.


Hujan deras turun lagi. Rasanya enggak banget deh menerobos hujan deras begini. Meskipun memakai payung, saya gak mau cari penyakit. Brrr, dingin pula. Malah gak bawa jaket. Maka cara paling aman ya menunggu sampai hujan reda. Saya pun berdiri di dekat pintu luar Mall.


"Ninis.....! kamu ada di sini? ngapain kamu di sini?" sebuah suara mengejutkan saya. Suara itu makin dekat. Deg. Jantung saya seolah berhenti berdetak. Mati saya! Si Botak menghampiri saya. Ini benar-benar di luar dugaan.


Duh kok bisa sih, dia melihat saya di sini. Padahal saya sudah menjaga jarak aman sejak tadi. Meski terkejut. Saya tetap berusaha tenang.


"Loh, Mas Farid di sini? kok kita bisa ketemu di sini ya?" saya berlagak polos.


"Ya, aku lagi meet up sama Meylan di sini. Kamu sendiri kok bisa ya ada di sini? aku kira kamu tadi di rumah."


"Aku habis kondangan Mas. Kebetulan, tadi sekalian mau nengokin anaknya teman ngajar yang baru selesai dioperasi di rumah sakit sekitar sini." Jawab saya dengan lancar.

__ADS_1


"Trus, kamu pulang ama siapa? mau bareng aku? tapi aku masih ada urusan lagi sih."


Hmmm..itu mah bukan nawarin namanya. Cuma basa basi doang, huh!


"Aku kan bareng temen mas. Kebetulan temen-temenku lagi ke toilet." Jawab saya.


"Oh ya udah. Hati-hati ya. Sampai ketemu lagi nanti di rumah. Benar-benar gak nyangka ketemu kamu di sini. Coba dari tadi kamu bilang mau ke sini, kita bisa barengan kan!"


"Iya yah. Saya kira kamu gak ada rencana mau keluar rumah, Nis."


"Mas....!" suara panggilan membuat Mas Farid menoleh.


Saya harus segera menjauh. Meylan memanggilnya. Wanita manja itu baru saja keluar dari Mall dengan menenteng dua buah bag belanjaan. Sepertinya bag berisi sepatu. Rupanya dia baru saja belanja sepatu. Mas Farid melambaikan tangan ke arahnya.

__ADS_1


"Nis, aku duluan ya. Meylan manggil aku. Bye!"


"Iya Mas. Hati-hati. Salam buat Meylan!"


Lutut saya terasa lemas. Tak kuat berdiri lagi. Maka saya putuskan untuk masuk lagi ke dalam Mall dan mencari tempat untuk duduk. Menunggu hujan reda sambil menikmati cemilan di food court sepertinya ide bagus. Sesak kembali menjalari hati saya.


Apalah saya dibandingkan wanita itu? akankah saya bisa bersaing dengannya. Mas Farid terlalu mencintainya, terlalu menyanjungnya. Semoga wanita itu tidak melihat saya tadi. Tidak terbayangkan rasanya kalau dia sampai melihat saya. Dia pasti akan tersenyum dan lalu akan mentertawakan saya.


Dia berasa jauh di atas angin. Dia memiliki hati Si Botak, sedangkan saya tidak. Status saya hanyalah istri pura-pura. Dan sebentar lagi saya akan ditendang. Mereka akan segera rujuk dan Mas Farid akan segera menceraikan saya. Saya akan keluar dari rumah itu lengkap dengan sejumlah kompensasi yang diberikannya.


Lagi dan lagi saya hanya bisa nelangsa. Sebisa mungkin saya tahan butiran bening yang sudah mengumpul di sudut mata. Tidak mungkin saya nangis di sini kan!


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2