
Apakah jatuh cinta itu salah? seharusnya saya memang tidak boleh jatuh cinta. Seharusnya saya lebih bisa menjaga hati. Tapi saya merasa tidak mampu lagi mengenyahkan rasa ini. Saya menyerah. Rasa ini seperti air. Mengalir begitu saja. Dan sepertinya saya kehausan. Maka saya menikmati aliran air itu mengaliri kerongkongan dan hati saya.
Aah, sudah cukup lama saya tidak jatuh cinta. Terakhir sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Setelah patah hati dengan Dito, saya jatuh cinta dengan Ayman. Dia duda beranak satu. Awalnya saya dikenalkan Vera. Ayman adalah teman dari suaminya Vera. Dia bekerja di stasiun TV sebagai kameraman. Orangnya rada pemalu. Meski tidak setampan Dito, tapi saya kagum dengan pribadinya yang soleh. Dia sangat agamis. Jujur saja, saya sudah berharap lebih ketika dia mengajak saya taaruf. Tapi entah mengapa berakhir begitu saja. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan proses taaruf dengan saya.
Kalau kata Vera, dia masih ragu-ragu untuk lanjut. Mungkin dia masih trauma untuk berumah tangga lagi. Menurut cerita Vera, dia dulu gagal mempertahankan rumah tangganya dan memutuskan untuk cerai karena istrinya ketahuan selingkuh.
Kalau memang masih trauma, ngapain ngajakin taaruf? itu kan sama saja kayak ngasih harapan doang ke saya. Apalagi saya baperan, hehehehe.
Saya sempat down waktu dia memutuskan untuk tidak melanjutkan proses taaruf dengan saya. Berhari-hari saya larut dalam kegalauan. Memang tidak separah waktu patah hati dengan Dito sih. Tapi gagal taaruf dengan Ayman membuat saya sering bengong.
Waktu patah hati dengan Dito, berhari-hari saya mengurung diri di kamar. Merenung sambil ditemani lagu-lagu galau. Saya benar-benar meratapi kebodohan saya. Mencintai orang yang ternyata malah mencintai sahabat saya. Sahabat yang selalu menjadi tempat curhat saya tentang Dito. Sampai akhirnya mereka menikah dan saya menyerah kalah.
Waktu patah hati dengan Ayman, saya tidak sampai nangis berhari-hari sih. Cuma nyesek sebentar saja. Nyesek karena merasa cuma di PHP in doang. Apalagi usia kan saya sudah cukup matang. Saya sangat berharap dia bakalan segera melamar saya.
Lalu setelah itu muncul beberapa pria lain. Ada yang dikenalkan teman, ada juga yang saya kenal sendiri. Eeh, maksudnya tidak sengaja berkenalan. Memang hanya sebatas kenal dan pedekate saja sih. Tidak lebih. Mulai dari yang single, berondong, hingga pria beristri yang mengaku duda. Dengan mereka, saya tidak ada perasaan spesial. Biasa saja. Tidak ada efek baper yang luar biasa. Saya berkenalan dengan mereka hanya untuk mengikuti saran dari orang-orang terdekat yang menyarankan saya agar tidak menutup diri.
Alhamdulillah, dengan membuka celah perkenalan dengan mereka, akhirnya malah ketahuan deh belang mereka yang sebenarnya..Hehehe. Allah memang Maha Baik. Tidak rela kalau wanita baik-baik seperti saya jatuh dalam pelukan pria brengsek.
Hingga akhirnya saya dipertemukan dengan Si Botak. Laki-laki yang akhirnya menikahi saya. Lelaki yang membuat harapan saya yang layu bersemi kembali. Saya bahagia akhirnya bisa menikah dengan sosok pria tampan lagi mapan seperti Si Botak.
Meski kenyataan pahit yang akhirnya saya terima. Dia menikahi saya bukan karena cinta. Tapi demi memenuhi syarat dari mantan istrinya agar bersedia diajak rujuk lagi. Saya kecewa, sedih, hancur. Tapi perlahan-lahan saya mulai bisa berpikir realistis. Mungkin ini memang sudah menjadi jalan hidup saya.
Saya belajar untuk menerima kenyataan. Biarlah saya kecewa, tokh saya masih dapat kompensasi yang nilainya lumayan. Orientasi perasaan saya mendadak berubah dari kecewa tingkat dewa karena merasa dijebak dalam perkawinan palsu hingga merasa happy karena dapat rezeki nomplok.
__ADS_1
Amazing bukan? gak perlu capek capek kerja. Gak perlu susah payah nabung. Cuma modal perasaan doang demi bantuin orang yang pengen banget rujuk ama mantannya, saya bisa dapet tanah, mobil, uang ratusan juta. Biarin aja deh, tokh gak ada orang yang tahu ini.
Kalau nanti kami bercerai, alasannya paling klise. Tidak ada lagi kecocokan atau karena orang ketiga. Dan nama dia kan yang pastinya jelek. Bukan saya, hehehehe. Pastinya dia yang akan dihujat habis-habisan sama mamanya karena selingkuh sama mantan istrinya sampai rela menceraikan saya.
Tapi sekarang semuanya berubah. Rasa ini, tepatnya. Saya sadar saya terikat perjanjian dengan dia. Saya tidak boleh baper. Tapi perasaan ini datang tanpa permisi. Saya tak mampu menolaknya. Saya jatuh cinta padanya. Jatuh dalam perasaan suka yang tidak biasa.
Bukankah cinta itu bisa muncul karena terbiasa? iya, karena saya terbiasa bersama-sama dengan dia. Terbiasa melihat dia. Terbiasa makan bareng dia. Terbiasa mengobrol sama dia. Ya iyalah, saya kan satu rumah sama dia.
Dan sikapnya dia selama ini juga cukup bersahabat sama saya. Dia tidak menjaga jarak sama saya. Dia tetap memperlakukan saya seperti seorang teman. Dia tetap bersikap ramah dan perhatian.
Dan pada dasarnya saya memang gampang baper sih. Meskipun di awal, dia sudah menyatakan kalau masih sangat mencintai Meylan dan berharap setengah mati bisa rujuk lagi dengan Meylan. Tetap saja, saya baper dengan sikapnya dia dalam keseharian. Mungkin dia menganggapnya biasa saja. Tapi bagi saya, rasa baper yang mengendap semakin lama semakin menggunung bisa berubah menjadi cinta.
Dia tidak seperti cowok-cowok cool yang sok jual mahal yang sering saya lihat di drama-drama korea. Yang terlihat begitu ilfeel dan jaga jarak sama cewek-cewek super culun seperti saya. Walaupun endingnya, karakter cowok cool seperti itu akhirnya dibuat kelepek-kelepek dan jatuh hati sama si cewek culun. Tentu saja setelah si cewek culun bertransformasi menjadi cantik jelita.
...****************...
Saya ketiduran di sofa. Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, saat dia pulang dan membangunkan saya. Saya gelagapan.
"Kenapa tiduran di sofa? di sini kan dingin banget. Apalagi AC di ruang tengah ini rusak. Gak bisa dikurangi volumenya. Bisa masuk angin nanti, kalau kamu tiduran di sini!"
Aih, perhatian sekali dia. Saya jadi grogi.
"Kamu nungguin saya ya?" tanyanya. Dia terlihat sweet sekali malam ini walaupun saya yakin dia belum mandi. Aroma parfumnya masih begitu kental tercium di hidung saya.
__ADS_1
Saya masih terbius oleh aroma parfumnya yang memikat.
"Kamu sudah makan? aku bawa martabak telor nih! enak banget loh. Ini martabak telor spesial favorit aku." Dia membuka kotak kardus berisi martabak dan menyodorkannya pada saya.
"Buat besok saja Mas. Saya sudah makan tadi."
"Makan apa tadi?" tanyanya sambil menyantap martabak.
"Mie instant." Jawab saya sambil mengalihkan pandangan saya. Saya benar-benar grogi duduk berdua dengan dia seperti ini. Kok bisa begini ya? padahal kemarin-kemarin biasa saja. Eeeh, cuma baper dikit deh.
"Kok makan mie sih. Harusnya tadi pesan go food aja!"
"Tapi aku ada meeting sama klien sampai jam sepuluh malam. Lumayan agak jauh lokasinya. Daerah macet." Ucapnya tanpa menyebutkan daerahnya di mana.
Ponselnya berbunyi. Secepat kilat dia merogoh saku celananya.
"Iya Sayang. Aku baru aja nyampe rumah. Kamu istirahat ya!"
Deg. Itu pasti Meylan. Seketika ada gemuruh menghujam ulu hati saya. Ngapain dia nelpon Mas Farid malam-malam begini? saya mulai bete mendengar percakapan mereka. Duh, kenapa harus di depan saya sih dia telfonan sama Meylan? bukannya minggir kemana kek gitu. Saya kan mulai cemburu.
Uppps. Kenapa saya cemburu. Harusnya kan saya tahu diri. Siapa saya ini dan siapa Meylan. Ingat perjanjian, ingat perjanjian, bisik hati saya. Aah, masa bodoh. Bukankah jatuh cinta dan cemburu itu paket komplit. Tidak mungkin ada cemburu kalau tidak ada rasa cinta.
Bersambung.
__ADS_1