LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Menjadi Cinderella


__ADS_3

Farid


Akhir-akhir ini Meylan semakin susah dihubungi. Bahkan untuk sekedar menjawab teleponku pun lama sekali. Pesan-pesan di WA pun hanya dijawab singkat saja. Dia selalu berkata, nanti aku telepon balik, Mas. Tapi nyatanya dia tidak juga meneleponku. Aku telepon dia, responnya sama saja. Tidak diangkat. Alasannya sedang sibuk, sedang capek, mengantuk, lagi makan, dan entah apa lagi.


Aku kangen suaranya. Mendengar suaranya adalah obat untuk lelahku. Aku merana. Aku tahu, dia sangat sibuk. Dan dia memintaku untuk memahami kesibukannya. Demi apapun, aku sudah berjanji padanya untuk selalu mengerti dia. Demi cintaku padanya. Aku ingin dia segera kembali ke pelukanku selamanya. Dan aku memang masih harus bersabar untuk itu.


Malam nanti aku akan menonton konser IL DIVO. Meylan tidak bisa menemaniku. Begitu pula Reyna. Padahal, aku berharap salah satu dari mereka bisa bersamaku menikmati lantunan suara merdu personil IL DIVO.


Tapi ya sudahlah.. Untunglah Ninis mau. Kalau tidak kan sayang tiketnya. Tak ada Meylan ataupun Reyna, Ninis pun jadi, hehehehe. Habisnya siapa lagi? sebenarnya, aku juga rada kurang sreg mengajak Ninis. Tapi ya biarin deh, cuma nonton konser ini. Habis nonton konser kami akan langsung pulang.


Ninis.

__ADS_1


Saya sudah bersiap-siap. Hampir satu jam lamanya saya mematut diri di depan cermin. Meski saya jelek, saya tidak mau terlihat jelek di depan Si Botak. Setidaknya untuk malam ini. Siapa tahu, nanti dia terpukau sama penampilan saya, hehehe ngarep.com.


Maka prosesi merias wajah dan memilih pakaian saya lakukan dengan hati-hati. Saya tidak mau terburu-buru. Saya ingin terlihat tampil beda malam ini. Saya ingin bola mata Si Botak tak berhenti berkedip menatap saya seraya berkata, "kamu cantik sekali Nis...Ahay!"


Malam ini, saya merias wajah saya dengan make up flaw less. Tampilan make up yang cukup soft untuk di malam hari. Tidak sia-sia saya melototin YouTube, hehehe. Hasilnya lumayan oke. Semoga Si Botak memuji saya. Balutan dress warna merah satin plus selop high heels membuat penampilan saya terlihat lebih elegan.


...****************...


Tapi sayangnya, dia tidak terpukau sama sekali dengan penampilan saya malam ini. Tak ada pujian atau sanjungan. Responnya biasa saja. Dan dia juga segera melepaskan genggaman tangan nya begitu kami menuju kursi VVIP. Aaah, berharap lebih hanya membuat saya kecewa.


Pengunjung konser cukup ramai juga. Kebanyakan yang hadir adalah pecinta musik klasik. Si Botak nampak begitu antusias menyaksikan. Sambil berbisik, dia bercerita kalau sejak SMP dia sudah menyukai musik klasik. Bahkan sempat les Biola dan Piano, tapi tidak ditekuni.

__ADS_1


"Kamu tahu, Nis? mendengarkan musik klasik bisa meningkatkan kemampuan otak dan merangsang kerja otak untuk bekerja lebih baik." Si Botak menjelaskan.


Saya hanya mengangguk. Iyain aja deh. Saya tidak terlalu fokus pada penjelasannya. Fokus perhatian saya hanya mengarah pada garis wajahnya yang bersinar terkena cahaya lampu. Dia nampak begitu gagah dan mempesona. Membuat irama jantung saya beresonansi dua kali lebih cepat.


Mungkin dia tidak sadar kalau saya memperhatikannya. Dia fokus pada penampilan grup kwartet itu yang sedang bernyanyi di atas panggung, sedangkan fokus saya hanya tertuju pada wajahnya. Posisi kami sangat dekat saat ini. Ya Tuhan, betapa saya sangat ingin mencium pipinya dan merebahkan kepala saya di bahunya. Sebagaimana yang dilakukan Meylan waktu itu saat mereka nonton film di bioskop.


Berharap dia akan menyentuh tangan saya dan menggenggamnya sebagaimana yang dilakukannya pada Meylan. Aaah, harapan saya terlalu tinggi. Faktanya, dia malah terus mengacuhkan saya. Tak ada sedikitpun sentuhan darinya. Tak ada sedikitpun hasrat di hatinya untuk saya.


Cinderella yang malang....Bisik saya dalam hati. Pergi dan pulang tanpa kesan. Hanya mendampingi tanpa bisa memiliki hati.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2