LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Saya Menikmati Akting


__ADS_3

Si Botak terlihat ganteng sekali pagi ini. Kemeja biru kotak-kotak yang dipakainya sangat kontras dengan bentuk tubuhnya. Penampilannya keren dengan kacamata kasual, jam tangan sporty dan sepatu boots. Mungkin dia tidak sadar, kalau saya diam-diam memperhatikannya. Aroma parfumnya juga beda. Tidak seperti biasanya. Saya hafal betul aroma parfum yang biasa dia pakai setiap hari. Kali ini wanginya beda.


Selesai sarapan, dia mengajak Aufa ke halaman depan. Aura kerennya semakin memancar saat dia mengajak Aufa bermain bola. Nampak kebapakan sekali. Duh, saya kenapa ya? kok jadi merhatiin dia terus.


Hari ini kami mau jalan-jalan ke Mall. Mama dan Kak Ferin sepertinya sedang bersiap-siap. Saya juga harus bersiap-siap ah. Atasan Warna biru dongker ini sepertinya oke juga. Apalagi matching dengan warna kemeja yang dipakai Si Botak. Untuk bawahannya, saya akan pakai rok jeans. Not bad lah. Saya juga memakai hijab berwarna senada. Untuk riasan wajah, tidak usah menor-menor. Cukup bedak, blush on sama lipstik saja sudah cukup.


Dan saya menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bercermin. Saya khawatir kalau penampilan saya nanti terlihat buluk. Saya juga takut kalau nanti riasan wajah saya malah terlihat norak. Apalagi nanti saya kan bakalan berjalan beriringan dengan Si Botak. Akting sebagai suami istri yang romantis kan belum kelar. Hehehehe.


Sambil mematut diri di depan cermin, saya kembali melirik kain batik sasirangan yang tadi dikasih Kak Ferin. Sumpah sangat bagus. Coraknya unik dan tidak pasaran. Warnanya juga kalem. Pasti bagus nanti kalau dipakai buat batik couple. Saya membayangkan akan memakainya nanti saat menghadiri kondangan bersama Si Botak.


Teriakan Mama dari bawah mengejutkan saya. Rupanya mereka semua sudah siap dan sedang menunggu saya. Duh, kenapa jadi tidak enak.


"Nis, pakai blush on nya berantakan." Ujar Kak Ferin.

__ADS_1


Uuups. Jadi malu saya. Maka Kak Ferin memakaikan lagi blush on ke pipi saya. Saya akui saya memang tidak bisa dandan. Dan memang tidak terbiasa pakai blush on. Wah, harus sering-sering liat video tutorial make up nih.


...****************...


Kami kembali berakting mesra. Dan entah mengapa saya begitu menikmati akting ini. Menikmati saat Si Botak menggenggam tangan saya, memeluk bahu saya, memanggil saya berkali-kali dengan panggilan sayang. Di Mall ini, entah berapa kali kami berfoto bersama. Dia benar-benar menunjukkan kemesraannya dengan saya. Tentu saja, Semua itu dilakukannya di hadapan mamanya dan Kak Ferin.


Jujur saya senang sekali dengan cara dia memperlakukan saya saat di hadapan mamanya dan Kak Ferin. Seperti saat di Mall ini. Meskipun saya gugup menahan malu, tapi getaran di hati saya semakin tidak bisa saya bohongi. Meskipun semua itu cuma pura pura. Hanya akting semata.


Tuhan, seandainya semua ini adalah nyata....saya membatin dalam hati. Akankah ada momen seperti ini dalam hidup saya nanti? Momen dimana saya diperlakukan mesra dengan laki-laki ganteng seperti ini? mendadak saya jadi melow... Duh Ninis, sudahlah jangan baper. Kamu harus realistis! bisik hati saya.


Dan yang membuat saya terperangah adalah... Suaminya itu sangat ganteng. Gagah pula. Persis seperti artis sinetron. Sementara istrinya, maaf jauh dari kata menarik, gemuk, wajahnya sangat biasa. Pemandangan yang sangat jomplang dan membuat decak kagum. Beberapa gadis muda nampak kasak-kusuk ketika berjalan di dekat pasangan suami istri itu. Mereka berbisik dan kemudian tertawa. Sebagiannya lagi terus memandangi wajah ganteng si laki-laki itu.


Pemandangan serupa pernah saya lihat sebelumnya waktu saya sedang jalan sama Vera. Kata Vera, bisa saja laki-lakinya itu matre. Perempuannya biarpun jelek, siapa tahu tajir melintir. Zaman sekarang gitu loh! laki-laki sekarang kan banyak yang cari aman untuk urusan finansial. Mereka gak mau susah. Makanya banyak yang lebih memilih cewek tajir walaupun tampangnya pas pasan.

__ADS_1


Sahabat saya, Vera emang paling pedes kalau mengomentari orang. Cowok Zaman Now jauh lebih matre daripada cewek. Mereka melihat cewek bukan cuma dari tampang, tapi juga dari pekerjaan, harta, kedudukan, begitu kata Vera. Hmmmm... Bisa jadi Vera benar.


Lalu pandangan saya beralih lagi kepada dua orang sejoli yang sedang berdiri di eskalator. Ini juga pasangan jomplang juga yang cukup menarik perhatian. Entah apakah mereka berpacaran atau suami istri. Si laki-laki tampangnya sangat biasa. Cenderung ndeso malah. Kulitnya hitam. Tubuhnya pendek dan penampilannya maaf sangat kucel sekali. Ga ada rapih-rapihnya. Sementara wanitanya sangat cantik. Tubuhnya tinggi, langsing dan berkulit kuning langsat. Penampilannya juga sangat keren dan casual. Mereka saling bergandengan dan bertatapan mesra.


Kalo yang ini pasti wanitanya yang matre. Si laki-laki itu bisa saja biarpun jelek dan kucel tapi banyak duit. Sekali lagi the power of DUIT memang tak terkalahkan. Dengan duit, seorang wanita cantik bak model pun bisa luluh lantak dengan laki-laki bertampang super biasa, dekil bahkan tua sekalipun.


Duh... Apa kabar dengan saya? apakah saya dengan Si Botak terlihat jomplang juga? adakah mata-mata yang memperhatikan saya dan Si Botak saat kami sedang bergandengan dan berdekatan seperti ini? jangan-jangan saking sibuknya saya memperhatikan orang lain sampai tidak sadar kalau saya sendiri juga jadi pusat perhatian?


"Ngeliatin apa sih? serius amat?" Si Botak bertanya pada saya.


"Enggak Mas. Itu, aku kok kayak kenal ya sama cewek itu, mirip temanku waktu SMA."


"Oh. Tolong baca WA ku!" pinta Si Botak

__ADS_1


Dan ***** makan saya mendadak berkurang saat membaca WA dari Si Botak. Dia minta tolong pada saya untuk meyakinkan Mama dan Kak Ferin kalau dia harus pergi sekarang. Dia harus menjemput Meylan di bandara. Dia meminta saya untuk mengatakan kepada mamanya kalau ada masalah penting di kantor. Dan dia harus datang secepatnya.


Bersambung.


__ADS_2