LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Semua Takjub


__ADS_3

"Hey Nis... Ya Allah, kirain siapa. Tambah manglingi nih habis nikah. Eeh, bukannya masih cuti ya. Gimana bulan madunya? kemana aja? kok sudah masuk aja sih!" Bu Susan memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Belum kemana-mana Bu. Mas Farid sedang sibuk. Daripada bosan di rumah terus, mending saya ke sekolah deh. Di sini, kan lebih happy, ketemu temen, ketemu murid..."Jawab saya.


"Sekarang tinggal dimana?" tanyanya lagi.


"Di Perumahan Bogenville, jalan Angkasa." Jawab saya.


"Hah! Perumahan Bogenville?" Bu Susan terbelalak.


"Luar biasa Nis. Pasti suamimu itu tajir ya....Rumah di situ kan harganya gak ada yang murah. Itu komplek elite." Bu Susan nampak begitu heboh.


"Kamu beruntung Nis. Nasibmu bagus. Meskipun telat nikah, jodohmu bukan orang sembarangan. Pengacara tajir." Bu Susan menepuk bahu saya dengan antusias.


"Masuk kelas dulu ya Nis. Nanti ngobrol-ngobrol lagi ya!" ujarnya.


Saya mengangguk. Saya berjalan ke arah koridor dan memasuki ruangan operator. Ruangan operator yang juga merupakan ruang kerja saya bersebelahan dengan ruang kepala sekolah.


Ruangan Bu Endang nampak sepi. Sepertinya beliau sedang tidak ada di tempat. Oh ya, tiap hari senin Bu Endang kan ada apel dan pertemuan di kantor Dinas Pendidikan.


Sengaja saya tidak mampir dulu ke ruang guru. Nanti saja, pikir saya. Berada dalam ruangan ini, seperti membangkitkan lagi memori saya. Ya, di ruangan ini, untuk pertama kalinya Bu Endang mengajak saya bicara tentang niatnya untuk memperkenalkan saya dengan Si Botak. Di ruangan ini juga, saya sering senyum-seyum sendiri, saat Bu Endang menggoda saya atau ketika membaca pesan WA dari Si Botak.


Stop, Nis. Mengingat-ingat semua itu hanya akan membuatmu lemah. Kamu harus kuat! ucapku dalam hati.


Maka saya mulai fokus lagi pada pekerjaan saya menginput data-data dapodik. Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas dan perut saya mulai terasa lapar.


...****************...


"Ini dia...Pengantin baru...." Saya terkejut. Bu Probo menarik tangan saya dan mencium pipi saya.

__ADS_1


"Selamat ya sayang. Mujur banget ya nasib kamu. Sekarang udah jadi nyonya sosialita. Kapan-kapan, boleh ya kita ngadain acara di rumahmu." Bu Probo berbisik di telinga saya.


Deg. Saya hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba Bu Probo menarik saya ke tengah ruang guru sambil berseru..


"Teman-teman sekalian, besok-besok kalau ada acara kumpul-kumpul diadainnya di rumah Neng Ninis ya... Sekarang dia tinggal di Bogenville loh.. Udah jadi nyonya sosialita sekarang... Uhuy!"


Apa-apaan ini. Semua mata memandang ke arah saya. Nampak Bu Susan dan Bu Wuri berbisik-bisik. Saya makin tidak nyaman.


Aksi norak Bu Probo benar-benar membuat saya tidak nyaman. Saya pun berkata padanya.


"Apaan sih Bu? biasa aja kali. Kok kesannya berlebihan sekali ya?"


Bu Probo gelagapan. Mungkin dia tidak menyangka saya akan berkata seperti itu padanya. Saya menatapnya dengan tatapan yang membuatnya risih.


"Maaf Bu.. Saya melangkah meninggalkan posisinya yang masih berada di depan ruang guru. Beberapa orang nampak masih kasak-kusuk sambil menatap saya. Selebihnya lagi, fokus pada kesibukan masing masing.


Bahkan, Mr Black langsung melontarkan komentar menohok begitu saya berjalan di depannya.


"Sudah, jadi Nyonya besar ya.. Cara jalannya beda sekarang. Sok dianggun-anggunkan. Hebat ya... Dekat dengan atasan langsung naik kelas..."


Sialan. Apa maksudnya berkata seperti itu? telinga saya sangat jelas mendengarnya. Sabar Nis. Sabar... Emosi saya nyaris memuncak, tapi dengan seketika surut begitu saja saat Bu Ratu langsung menegur Mr Black.


"Astagfirullah, Pak. Mulutnya..!"


Bahkan seorang Bu Ratu yang pendiam saja langsung bereaksi. Lihat saja, kalau besok-besok dia masih nyinyir, saya tidak akan tinggal diam.


Bu Susan, Bu Probo, dan Mr Black, ketiga-tiganya memang kompak kalau dalam urusan menyinyiri urusan orang. Mereka bertiga memiliki sifat yang nyaris sama. Selalu mau tahu urusan orang, sirik dan tidak mau dikalahkan.


Rupanya saat saya sedang berada di ruang operator, Bu Susan langsung menginformasikan ke beberapa guru kalau saya sekarang tinggal di perumahan Bogenville, kalau kehidupan saya sekarang sudah jauh lebih mapan, saya hidup mewah, dan sebagainya. Dan Bu Probo serta Mr Black memberikan bumbu-bumbu komentar supaya obrolan tentang saya menjadi semakin gurih dan bisa jadi trending.

__ADS_1


Salah satu komentarnya adalah, bahwa saya, seorang Ninis, guru honorer di sekolah ini yang berkat kedekatan saya dengan pimpinan, yaitu Bu Endang, akhirnya bisa menikah dan bersuamikan seorang pengacara tajir. Dan sekarang, strata sosial saya sudah naik, dari guru honor dengan penghasilan biasa menjadi nyonya besar. Hadeuuh.... Ampun deh mulut manusia-manusia itu.


Mereka pastinya takjub, tidak percaya bahkan bisa jadi sirik melihat kondisi saya sekarang. Saya juga tidak tau siapa sumbernya, yang mengatakan kalau suami saya adalah seorang pengacara tajir.


Seingat saya, waktu akan menikah kemarin, saya tidak bercerita kepada siapapun tentang profesi Si Botak. Termasuk juga tentang kemapanannya.


Dan saya yakin, Bu Endang juga bukan tipe yang ember. Beliau tidak akan bercerita ke sembarang orang tentang kesuksesannya mengenalkan saya dengan Mas Farid. Beliau bukan tipe yang banyak bicara.


Pasti ada saja yang penasaran mencari-cari informasi tentang itu semua. Dan begitu tahu, pada kaget deh. Mungkin juga tidak menyangka dan bisa jadi sirik. Siapa lagi kalau bukan komplotan nyinyir tiga serangkai itu...


Bu Probo dan Bu Susan memang jagonya kalau dalam urusan mencari informasi. Mata dan telinga mereka sangat canggih dalam melakukan pengamatan dan investigasi yang berkaitan dengan informasi apapun di sekolah ini. Apalagi seputar gosip-gosip paling gress. Meski kadang informasi yang mereka sampaikan suka jauh dengan versi aslinya, alias dilebih-lebihkan.


Dan yang biasanya yang kebagian peran melebih-lebihkan itu ya Mr Black. Siapa lagi, kalau bukan dia.... Semua orang di sekolah ini sudah paham betul bagaimana sepak terjangnya dalam urusan melebih-lebihkan omongan.


Termasuk juga berita tentang saya. Sudah pasti ada yang penasaran tentang kehidupan saya setelah menikah dan kemudian mencari tahu sampai sedetail-detailnya. Huuuft, saya menghela nafas...Benar-benar segitunya mereka.


Tak terasa sudah sore. Saya mulai bersiap-siap pulang.


"Mbak Ninis mau pulang bareng saya? kebetulan saya juga mau ke arah perumahan Bogenville. Tapi tunggu sebentaran ya, suami saya masih di jalan, kira-kira lima belas menit lagi baru sampai." Bu Ratu menawarkan


"Terimakasih Bu. Saya duluan saja. Kebetulan mau mampir ke rumah orangtua dulu." Saya pun pamit.


Dalam perjalanan menuju rumah orangtua pikiran saya kembali berkecamuk. Rasa sedih, kecewa, marah, bercampur lagi jadi satu. Lagi-lagi saya memang harus sadar. Ini bukan mimpi. Ini realita yang harus saya hadapi. Dan bukankah saya sudah bertekad untuk tetap kuat.


Saya hanya takut. Takut nanti tidak kuat dan menceritakan semuanya kepada Ibu.


Ya Allah kuatkan saya....Saya tidak boleh terlihat sedih. Saya harus terlihat ceria dan bahagia.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2