
Namanya Ratu Hanifa. Orang-orang biasa memanggilnya Bu Ratu. Wanita itu masih nampak sangat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala lima. Menurut info yang saya dengar, beliau pernah jadi mantan Mojang Bandung tahun 80 an.
Orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Mungkin kesan pertama bagi orang yang pertama kali melihatnya adalah jutek dan sombong. Padahal aslinya tidak. Bu Ratu sangat baik dan perhatian. Sangat peduli dan ramah dengan siapa saja.
Meski termasuk dalam kalangan berada, Bu Ratu juga tidak sombong. Penampilannya biasa saja. Tidak pernah terlihat glamour. Gaya bicaranya juga santun, tidak pernah terkesan tinggi atau sok pamer. Termasuk low profile.
Bu Ratu sudah cukup lama mengajar di SDN Melati. Sebelumnya mutasi dari Bandung. Suaminya seorang pejabat di salah satu BUMN. Beliau punya tiga orang anak yang juga sudah beranjak dewasa.
Semenjak kejadian dekor ruangan itu, saya dan Bu Ratu jadi semakin dekat. Beliau yang terlihat tertutup mulai banyak cerita dengan saya. Seperti saat ini, beliau mengajak saya untuk bergabung di sanggar senam langganannya. Beliau juga banyak memberikan tips pada saya seputar make up dan kecantikan.
Pupus sudah kesan sombong dan jutek yang dulu saya tangkap dari Bu Ratu. Duh, jadi malu sendiri saya.
"Ibu mertua dan suami Mbak Ninis kelihatannya sangat baik dan perhatian ya? Kemarin sore, mereka rela loh menunggu sampai Mbak Ninis selesai senam." Ujar Bu Ratu sambil duduk mendekat ke arah saya. Sore itu kami baru saja selesai Zumba dan Bu Ratu mengajak saya makan Bakso Malang di warung bakso langganannya.
"Iya Bu. Alhamdulillah." Jawab saya.
Kemarin sore, Mas Farid dan Mama menjemput saya di tempat senam. Mama minta diantar jalan-jalan sekalian dinner bareng. Dan mereka, memang menunggu saya agak lama. Maklum saat itu, sanggar senam sedang penuh dan banyak pengunjung. Saya harus antre untuk bersih-bersih dan berganti pakaian.
__ADS_1
"Mbak Ninis benar-benar beruntung. Semoga selalu bahagia ya Mbak!" Bu Ratu tersenyum tapi kemudian tatapannya seperti menerawang.
Saya jadi merasa aneh.
"Bu Ratu kenapa?" refleks saya bertanya demikian. Tiba-tiba ekspresi Bu Ratu makin suram. Sudut matanya nampak basah oleh genangan airmata.
"Saya hanya teringat pada diri sendiri. Dulu ketika memutuskan menikah, saya sudah yakin seratus persen kalau laki-laki yang menikahi saya adalah adalah benar-benar pria yang ideal. Dia baik, kaya, cerdas, berpendidikan tinggi dan juga lumayan ganteng."
"Kami menikah dan hidup bahagia. Jujur, sepertinya saat itu, saya benar-benar menjadi wanita paling bahagia. Punya suami mapan, hidup bergelimang harta, punya banyak uang dan bisa membeli apa saja. Ditambah lagi kehadiran anak-anak yang lucu, sehat dan pintar. Bisa dibilang saat itu, banyak yang iri sama saya. Banyak yang memuji betapa beruntungnya saya." Bu Ratu melanjutkan ceritanya.
"Saya menjadi ujub. Lagi-lagi merasa kalau kebahagian yang saya raih adalah nikmat Allah yang sangat besar yang tidak semua orang bisa merasakannya. Saya merasa istimewa sekaligus norak. Saya menganggap pernikahan adalah jaminan bagi saya untuk hidup lebih bahagia."
"Waktu lulus SPG, ada seorang pelanggan jahit ibu saya yang menawari saya untuk ikut kontes Mojang Bandung. Awalnya saya tidak pede. Tapi karena dipaksa terus, akhirnya saya ikutan dan lolos menjadi kontestan. Dari situ juga akhirnya, berbagai peluang datang menghampiri hidup saya. Saya ditawari jadi foto model, bintang iklan, main film hingga kesempatan beasiswa untuk melanjutkan kuliah.
"Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Semuanya saya ambil. Saya kuliah di program Diploma jurusan Administrasi Perkantoran dan Sekretaris. Di sela-sela waktu, saya juga mendapat tawaran untuk pemotretan. Saat sedang magang di salah satu perusahaan BUMN, di situlah saya bertemu dengan suami saya. Usia saya baru 20 tahun saat itu, dan suami saya 29 tahun."
"Dia langsung jatuh cinta saat pertama kali melihat saya. Lalu, dia mendekati saya dan kemudian melamar. Kami pun menikah. Dia sudah sangat mapan, sudah punya rumah dan mobil sendiri, penghasilannya juga sangat besar. Saya pikir waktu itu, pernikahan adalah pijakan untuk saya bisa hidup enak. Saya tidak perlu bekerja, saya tidak perlu stress memikirkan kebutuhan saya, kebutuhan sekolah adik-adik saya, karena sudah ada yang menjamin hidup saya."
__ADS_1
"Saya pun berhenti kuliah dan fokus di rumah mengurus anak. Barulah setelah anak-anak saya mulai sekolah, saya terpikir untuk melanjutkan kuliah lagi. Dan akhirnya saya melanjutkan kuliah di fakultas keguruan. Semua nampak begitu sempurna. Menikah dengan pria kaya dan mapan benar-benar menjadi jalan pembuka bagi saya untuk hidup nyaman. Dan tanpa saya sadari, kenyamanan itu yang menjadikan saya sombong dan lupa diri. Saya merasa selalu ingin lebih unggul dan tidak mau dikalahkan."
"Sampai akhirnya, teguran Allah datang. Rumah tangga saya digoncang prahara. Suami saya punya wanita idaman lain. Saya marah besar. Apa kurangnya saya selama ini? saya jauh lebih cantik dan menarik di bandingkan wanita itu. Mati-matian saya berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga saya."
"Sampai akhirnya, suami saya mengakui telah menikah siri dengan perempuan itu. Dan sudah tiga tahun mereka menikah!" Bu Ratu menahan isaknya. Untungnya Cafe tidak terlalu ramai sore itu. Posisi duduk kami yang berada di pojok juga cukup tersembunyi, hingga tidak kedengaran orang."
"Maaf, mengapa Bu Ratu tidak menggugat cerai?" tanya saya.
"Tidak semudah itu Mbak. Sampai saat ini saya masih kuat bertahan demi anak-anak saya. Saya merahasiakan pernikahan siri suami saya dari anak-anak saya. Saya tidak mau mereka membenci ayahnya," jawab Bu Ratu.
"Saya terlihat mesra dan bahagia di depan orang-orang hanya untuk menjaga perasaan anak-anak saya. Saya belum siap untuk memberitahukan ke mereka. Biarlah beban ini saya tanggung sendiri. Suami saya pun sama. Sikapnya tidak mencolok di hadapan anak-anak. Masih bersikap adil dan memanjakan mereka."
" Siapa perempuan itu, Bu?" saya bertanya pelan.
" Perempuan itu adalah adik dari teman sekantornya. Masih muda, cantik, dan menarik. Profesinya sebagai Make Up Artist Profesional."
Saya membatin. Ya Allah, kasihan sekali Bu Ratu. Ternyata kebahagian yang dia tampilkan di luar hanya kepura-puraan. Tak ubahnya seperti kehidupan perkawinan yang saya jalani. Duh Gusti, tiba-tiba dada saya terasa sesak. Ternyata saya tidak sendiri.
__ADS_1
Bersambung.