
Sehabis membereskan makan malam, saya masuk ke kamar. Saya mulai mengantuk. Oh ya, ini adalah malam pertama saya. Tepatnya malam pertama dimana saya akan tidur dengan laki-laki yang sudah sah jadi suami saya. Saya harus bersiap-siap. Siapa tahu nanti sehabis menyelesaikan pekerjaannya, Mas Farid akan masuk kamar, dan.....
Saya mengganti baju saya. Piyama warna salem dengan motif bunga sakura ini, sepertinya tidak jelek. Piyama ini saya beli enam bulan lalu di pasar Tanah Abang. Meski modelnya biasa saja, tapi bahannya adem dan nyaman dipakai.
Saya jadi teringat kado dari Vera, salah satu sahabat saya. Kemarin di acara pernikahan, dia memberikan saya kado berisikan beberapa potong lingerie.
Ada empat potong lingerie dengan model yang wadidaw....Saya tidak berani memakainya. Terlalu sexy. Semuanya. Mungkin nanti entah kapan saya akan berani memakainya, hehehe.
Saya bercermin. Menyisir rambut dan mulai membersihkan wajah saya dengan susu pembersih, lalu memakai toner, mengoleskan essence dan ditutup dengan pemakaian cream malam. Tidak lupa saya juga mengoleskan lipbalm agar bibir saya tidak kering dan tetap terlihat segar.
Saya ingin terlihat menarik malam ini.
Jujur saya grogi. Jantung saya berdetak lebih cepat. Bagaimana nanti jika dia tiba-tiba masuk, dan mulai menyentuh saya.
__ADS_1
Tenang, Ninis. Tenang. Bismillah, kamu harus tetap tenang dan menyambutnya dengan senyuman. Sekarang kamu adalah istrinya. Kamu harus bisa membuat dia senang.
Tidak terbayang nanti. Bagaimana jika dia terkejut melihat kebiasaan saya kalau tidur. Saya kan suka lasak kalau tidur. Suka pindah posisi sendiri tanpa sadar. Tau-tau bantal guling sudah ada di ujung. Bahkan saya pernah beberapa kali jatuh dari tempat tidur saat sedang pulas, saking lasaknya.
Selain itu, kebiasaan saya tiap baru bangun adalah kentut. Saya sering mengeluarkan kentut dengan bunyi yang cukup nyaring sebelum beranjak dari tempat tidur....Uups.
Saya mulai merebahkan tubuh saya. Merilekskan Otot-otot saya yang mulai tegang dan mulai menarik nafas. Hingga akhirnya saya terbangun ketika cahaya matahari mulai menyelinap malu-malu lewat sela-sela jendela.
Jam 07. 15. Ya ampun, saya kesiangan sholat subuh. Saya bangkit dari tempat tidur dan bercermin. Tidak ada perubahan pada tempat tidur. Berarti semalam Mas Farid tidak tidur di sini.
"Eeh, pagi Bu," jawab saya gelagapan.
"Ibu mau sarapan apa? roti bakar, atau nasi goreng atau mau saya belikan sarapan di luar?"
__ADS_1
"Oh iya. Pak Farid sudah berangkat begitu saya datang Bu. Buru-buru sekali kelihatannya. Biasanya sih Bapak berangkat sekitar jam 8 atau setengah 9. Tapi ini tumben jam setengah 7 sudah berangkat." Bu Atin menjelaskan.
Kenapa dia tidak membangunkan saya? tanya saya dalam hati.
"Pak Farid cuma berpesan supaya nanti kalau Ibu bangun tolong dilayani dengan baik," Bu Atin menjelaskan lagi.
Apa dia tidak tega ya membangunkan saya? atau mungkin dia benar-benar dikejar waktu hingga tidak sempat berpamitan dengan saya?
Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran saya.
Saya bergegas ke meja makan. Hanya ada roti tawar dan isiannya. Hari ini saya masih cuti. Bu Endang memberikan saya cuti satu minggu. Biar bulan madunya poll, katanya.
Mungkin kasus yang dia tangani benar-benar berat dan Mas Farid tidak mau reputasinya jadi jelek. Apa saya telpon saja ya? ya, saya harus menghubunginya sekaligus memberinya semangat di pagi ini.
__ADS_1
Dering panggilan berbunyi. Tapi tidak diangkat. Saya coba sekali lagi. Tetap tidak diangkat... Tut tut tut. Telepon yang anda hubungi tidak menjawab.
Bersambung.