
Dokter menyatakan kondisi Si Botak sudah mulai membaik dan boleh pulang. Sebulan dua kali harus melakukan kontrol. Syukurlah.
"Alhamdulilah kamu sudah boleh pulang, Nak. Mama lega sekali. Kamu harus berterima kasih sama Ninis. Beruntung kamu punya istri yang telaten seperti dia." Ucap Mama.
Si Botak diam tapi kemudian dia tersenyum ke arah saya. Senyum yang hambar, karena cara tersenyumnya terkesan biasa buat saya.
"Terima kasih, Nis. Semoga Allah membalas kebaikanmu."
Apa cuma perasaan saya saja ya? mungkin saya terlalu sensi. Saya merasa, senyum dia terlalu biasa. Tidak seperti saat dia tersenyum pada Reyna beberapa hari yang lalu saat Reyna menjenguknya.
"Nis, maafkan saya yah. Saya sudah banyak menyusahkanmu." Sambil menunduk dia bersuara lagi.
Saya tertegun. Aih, dia minta maaf? hmmm, baguslah...Semoga hatinya akan luluh dan terbuka untuk saya.
Si Botak tidak menjawab. Hanya memegangi dahinya sambil tertunduk.
"Masih pusing, Nak?" Tanya Mama. Dia mengangguk.
Harapan saya masih sama. Berharap ini akan menjadi awal yang indah untuk kehidupan rumah tangga saya. Berharap saya akan jadi satu-satunya di dalam hatinya. Tidak ada lagi Meylan atau Reyna.
...****************...
Dia tidur pulas. Seingat saya sudah hampir lima jam dia tidur. Apa efek dari obat yang dia minum membuatnya sangat mengantuk? bisa jadi. Tapi dia belum makan. Dan sekarang sudah jam empat sore. Dan sekarang waktunya dia untuk makan.
Kini sudah seminggu dia pulang ke rumah. Karena kondisinya yang masih tidak memungkinkan untuk naik turun tangga, maka dia menempati kamar depan yang biasa saya tempati.
Dan untuk sementara saya harus pindah ke kamar yang ada di belakang. Ukurannya kecil, tapi cukup bersih dan tertata rapih. Letaknya di dekat dapur. Mungkin kamar itu diperuntukkan untuk asisten rumah tangga.
Biarlah saya mengalah. Tidak mungkin juga dia untuk tidur di ruang kerjanya. Ruang kerjanya terlalu sempit, tidak muat jika harus memasukkan bed tempat tidur. Apalagi dia tidak boleh tidur di lantai. Jadi tetap saja, ruang kerjanya tetap menjadi kamar keramat yang harus tetap terjaga. Tidak boleh dimasuki oleh siapa pun.
Dia juga masih diam saja. Sudah seminggu ini dia larut dalam lamunannya sendiri. Seolah tak mau diganggu. Keberadaan saya di sampingnya seolah dianggap tidak ada.
Saya tetap mengurusnya. Menyiapkan makan dan obatnya, membantunya berjalan saat mau ke kamar mandi, mencoba mengajaknya bicara, meskipun responsnya hanya singkat-singkat saja. Seolah tak mau diganggu.
Sabar. Hanya itu yang bisa saya lakukan sekarang. Meskipun, entah sampai kapan kesabaran itu akan bertahan. Jujur, saya pribadi termasuk orang yang tidak sabaran. Apalagi kalau batin saya sudah benar-benar lelah tingkat dewa.
"Mas, bangun Mas. Sudah jam empat. Sekarang waktunya, Mas Farid makan dan minum obat." Saya berusaha membangunkannya. Dengan perlahan saya tepuk punggungnya.
Dia terbangun, lalu menatap saya dengan tatapan kosong.
"Aku ambilkan makan ya, Mas!"
__ADS_1
Dia mengangguk. Duh, Gusti....Lagi-lagi saya seperti berhadapan dengan Mayat hidup. Mengapa dia tidak pernah tersenyum dan mengajak saya bicara. Dia begitu kaku dan dingin.
Mengapa ketika dikunjungi Reyna di rumah sakit, dia bisa begitu mudah mengeluarkan senyumnya dan berbicara lepas. Saya ini dianggap apa sama dia? emosi saya mulai menggelegak.
Bruuuuk..... sesuatu terjatuh dari balik bantal. Ya Allah...itu kan foto Meylan! rupanya ini penyebab dia masih saja diam membisu dan acuh sama saya. Emosi saya mulai tidak terkendali. Saya hentakkan kaki dan keluar dari kamarnya.
Saya kembali lagi dengan membawa baki berisi makanan. Dia mulai mengambil baki makan itu.
"Tolong tinggalkan saya. Saya ingin sendiri." Ucapnya tanpa menoleh ke arah saya.
Duh, Gusti.. Bukannya terima kasih sudah diambilkan makanan. Saya menarik nafas panjang, mencoba menenangkan emosi.
"Maafkan saya. Terima kasih sudah mengambilkan makanan dan obat. Tapi saya benar-benar butuh sendiri sekarang." Ucapnya lagi.
"Baiklah. Saya juga mengerti kok. Memandangi wajah mantan istri yang gak mau diajak balikan lagi kan butuh privacy. Iya, kan?" saya menjawab dengan ketus.
Entah kenapa saya mulai berani menjawab dia dengan ketus. Tapi tak apalah. Biar dia tahu kalau saya lelah dengan semua ini. Semoga dia paham, kalau saya juga ingin dimengerti, ingin disayangi.
Nampaknya dia terkejut dengan ucapan saya. Aaah, bodo amat. Bodo amat juga kalau dia marah. Saya akan pergi dari rumah ini dan saya akan ceritakan tentang semuanya pada Bu Endang dan juga mamanya.
Lagipula, dia kan masih dalam kondisi sakit. Bisa apa dia? untuk makan dan ke kamar mandi saja masih butuh bantuan saya. Mamanya sudah pulang ke Bandung dua hari yang lalu.
Saya masuk kamar dan menyetel lagu keras-keras. Ada lagu bagus di youtube yang sesuai dengan isi hati saya saat ini. Saya putar berulang-ulang sambil bernyanyi keras- keras.
You're the color of my blood
You're the cure, you're the pain
You're the only thing I wanna touch
Never knew that it could mean so much, so much
You're the fear, I don't care
'Cause I've never been so high
Follow me through the dark
Let me take you past our satellites
You can see the world you brought to life, to life
__ADS_1
So love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do
What are you waiting for?
Fading in, fading out
On the edge of paradise
Every inch of your skin, is a Holy Grail I've gotta find
Only you can set my heart on fire, on fire
Yeah, I'll let you set the pace
'Cause I'm not thinking straight
My head's spinning around, I can't see clear no more
Oh, what are you waiting for?
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Love me like you do, lo-lo-love me like you do
Touch me like you do, to-to-touch me like you do, oh
What are you, what are you waiting for?
What are you waiting for?
Oh, I'll let you set the pace
Oh, 'cause I'm not thinking straight
Though my head's spinning around, I can't see clear no more
What are you waiting for?
__ADS_1
Bersambung.