
"Nduk, ada yang mau Ibu tanyakan? Ini tentang...."
"Nanti saja ya Bu. Ninis buru-buru." Saya tahu Ibu pasti mau menanyakan tentang Si Botak.
"Perasaan Ibu tidak enak, Nduk. Sepertinya kamu sedang ada masalah ya sama suamimu? ada apa sebenarnya?" pandangan Ibu semakin menyelidik.
Deg. Jantung saya mau copot rasanya. Sepertinya Ibu benar-benar curiga. Duh, saya harus bagaimana ya? haruskah saya ceritakan semua pada Ibu. Lambat laun Ibu pasti akan tahu. Tapi saya tidak tega menceritakan semuanya pada Ibu.
"Enggak ada apa-apa Bu. Ibu doakan saja supaya Mas Farid cepat sembuh ya Bu! Mas Farid setiap hari mengabari Ninis tentang perkembangan kondisinya. Ninis pergi dulu ya Bu!"
Saya masih menunggu ojek online. Ibu masuk ke dalam dan berbicara dengan Bapak. Saya mendengar suara percakapan mereka, sepertinya mereka membicarakan tentang kerusakan di rumah ini. Mulai dari atap beranda depan yang bocor, saluran pembuangan air di tempat cucian piring yang tersumbat hingga tembok kamar yang mulai retak-retak.
Saya membatin. Kasihan Bapak dan Ibu. Mereka pasti tidak ada uang untuk memperbaiki kerusakan di rumah ini. Seandainya saya ada uang, pasti akan saya bantu mereka.
Seketika saya teringat lagi pada surat perjanjian itu? bukankah Si Botak sudah berjanji? saya harus menuntut isi surat perjanjian itu? harus dan harus.
__ADS_1
Tapi bagaimana caranya ya? apa saya harus kembali ke rumahnya? dan mengapa Si Botak tidak datang ke sini untuk menemui saya? pasti dia tidak punya keberanian untuk ke sini.
Baiklah, saya akan pikirkan masalah ini nanti. Sekarang saya harus fokus pada urusan pemotretan dulu. Saya sudah memikirkan langkah-langkah apa yang akan saya lakukan.
Mulai dari menemui dia di rumahnya atau menceritakan semuanya pada Bu Endang. Yang jelas, saya harus menunjukkan kalau saya punya sikap. Saya harus berani menekan dia.
Tapi kok, saya masih berharap dia bakalan datang untuk menemui saya ya? aah, tidak. Saya tidak mau terbuai perasaan lagi. Saya harus mengedepankan logika. Saya tidak boleh tersakiti lagi.
Urusan pemotretan berjalan sukses. Lagi-lagi saya dibuat kagum oleh kepiawaian Rani, MUA cantik yang memoles wajah saya dengan make up natural. Saya terlihat pangling dan kata Enrico saya cantik sekali.
"Keren, Bu guru. Bu guru hebat. Saya yakin hasilnya pasti bagus." Ujar Enrico.
Duh, tumben dia memanggil saya Bu guru.
"Terima kasih, Mas. Panggil saja saya Ninis. Saya benar-benar gak nyangka, bisa jadi model, hehehehe.
__ADS_1
Enrico tersenyum. Dia seolah bisa membaca kegugupan di wajah saya.
"Aura wajah Mbak Ninis itu sangat cocok untuk mengiklankan produk ini, Mbak. ", katanya lagi.
Kami pun terus mengobrol. Dia sangat asyik dan ramah. Lama-lama saya jadi enjoy mengobrol dengannya. Dia tidak jaim dan kaku seperti Si Botak.
"Mbak Ninis pulang naik apa?" tanyanya.
"Naik ojol," jawab saya.
"Kalau tidak keberatan, mau bareng sama saya?" dia menawarkan.
Hmmm...Ide bagus. Kadang, untuk mendongkrak rasa percaya diri, kita memang harus menjalin kedekatan dengan orang-orang yang secara tidak langsung telah memberikan kita pujian.
Dan saya tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Si Tampan, Enrico telah berhasil meruntuhkan rasa insecure saya soal fisik lewat kesempatan dan pujian yang dia berikan sore ini. Lagi-lagi saya bersyukur bisa mengenalnya.
__ADS_1
Bersambung.