LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Didekati Mr Black


__ADS_3

"Lowongan apa pak?" saya bertanya dengan heran.


"Lowongan pekerjaan Mbak. Suami Mbak Ninis kan pengacara. Kerja di kantor bantuan hukum. Saya dengar-dengar suami Mbak Ninis itu pengacara hebat, sudah banyak menangani kasus-kasus. Ya, barangkali Mbak, ada lowongan untuk Resti, keponakan saya."


"Resti itu baru lulus dari Fakultas Hukum. Anaknya cerdas, IPK nya bagus. Dia juga rajin dan ulet. Barangkali, di kantor suami Mbak Ninis ada lowongan untuk Resti."


Hmmm, sudah ditebak. Pasti ada maunya. Dia mengajak saya mengobrol dengan bahasa yang halus sekali, rupanya ada maunya. Ingin menanyakan lowongan pekerjaan buat keponakannya.


"Wah maaf Pak, saya tidak tahu apakah di kantor suami saya ada lowongan atau tidak? setahu saya sih, staf di kantornya sudah cukup," jawab saya jual mahal. Menanyakan lowongan pekerjaan pada Si Botak untuk keponakannya Mr Black? oh noooo.


Dengan ekspresif, Mr Black melanjutkan lagi ceritanya tentang keponakannya, yang tidak hanya cerdas tapi juga cantik dan banyak mengukir prestasi. Dengan pede, dia menunjukkan foto Sang Keponakan dari ponselnya.

__ADS_1


Duh, saya jadi pengin tertawa jahat. Perut saya sampai sakit menahan tawa. Mudah-mudahan saya tidak kentut nih... Hahahahahaha. Ini mata saya yang salah atau mata Mr Black yang salah ya? duh, makin geli saya. Bukannya saya ingin mencela. Saya juga jelek kok, tapi kok bisa ya, Mr Black begitu pedenya mengatakan kalau keponakannya sangat cantik? uuups.... Perut saya makin makin sakit menahan desakan tawa yang ingin saya keluarkan.


Ternyata selain nyinyir, Mr Black juga halu, hahahahahahah. Mata saya terpaku melihat sosok yang disodorkannya di ponsel. Gadis bernama Resti ini yang katanya sangat cantik memiliki bentuk wajah dan bibir yang sangat mirip dengan Mr Black. Kulitnya juga hitam, meski tidak sehitam pakdenya, pipinya tembem, dan raut wajahnya terlihat judes.


"Barangkali Mbak, keponakanku ini bisa ketularan hokinya Mbak Ninis, bisa dapat jodoh pengacara kaya," ujar Mr Black terbata-bata.


Huahahahahahaha.....Makin sesak nih perut menahan tawa. Karena tidak kuat lagi, saya pun tertawa di depannya.


Kali ini ekspresi Mr Black terlihat serius. Wajahnya tidak lagi senyum-senyum. Sepertinya, dia berharap sekali saya bisa membantu keponakannya.


"Maaf Pak, memangnya saya beruntung ya? perasaan biasa saja, Pak," Jawab saya merendah.

__ADS_1


"Apa yang saya dapatkan adalah murni rezeki dari Allah. Saya tidak pernah bermimpi punya suami pengacara. Kebetulan saja, Bu Endang yang waktu itu secara tidak sengaja mengenalkan saya pada anak temannya. Dan siapa disangka juga, kalau anak temannya itu kepincut sama saya, terus menanyakan nomer handphone saya dan terus berlanjut deh.."


"Wah, luar biasa Mbak Ninis. Benar-benar gak nyangka ya..." Mr Black berdecak kagum.


Duh, saya ngomong apa sih. Kok, jadi nyombong gini yah? aah, biar saja, sekali-sekali memang harus sombong bicara di depan orang macam Mr Black ini. Orang seperti ini harus dibuka matanya pelan-pelan, kalau tidak semua orang bisa diremehkan.


"Nah itu, Mbak Ninis. Saya tuh kalau melihat Mbak Ninis, seperti melihat keponakan saya sendiri loh. Dari postur tubuh dan bentuk wajah agak mirip dengan Resti. Bentuk pipinya, muka bulatnya, ya barangkali, kalau Resti kerja di kantor suaminya Mbak Ninis, kan nanti bisa ketularan hokinya. Siapa tahu, ada pengacara guanteng, terkenal dan kaya raya yang naksir Resti? ya, tokh?"


Gubrak...., Mampus saya. Kepedean amat sih ni orang. Menyamakan wajah keponakannya dengan wajah saya? hello? masih cakepan saya kali ah, hehehehe.


Bersambung.

__ADS_1


Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys. Matursuwun.


__ADS_2