
"Kamu tidurlah di tempat tidur. Aku bisa tidur di mana saja," ujar Si Botak.
Saya mengangguk. Wajah Mas Farid nampak pucat dan tidak tenang. Kelihatan sekali dia sedang gelisah. Pasti karena kedatangan Mama dan Ferinda.
"Kamarnya bagus banget Mas. Seperti di hotel-hotel," saya berusaha memecahkan memecahkan keheningan.
"Ya. Ini yang desain Kak Ferin."
"Nis, aku mohon padamu. Tolong jaga rahasia kita. Jangan sampai Mama dan Kak Ferin curiga. Kak Ferin itu orangnya sangat teliti dan detail sekali. Dia tidak bisa dibohongi."
Si Botak mengatakan itu lagi pada saya. Sepertinya dia sangat cemas.
"Tenang saja Mas. Aku akan bersikap senatural mungkin. Aku tidak akan memancing kecurigaan Mama atau Kak Ferin"
"Baiklah. Terimakasih Nis. Jujur aku nervous banget. Aku tahu banget gimana kakakku itu. Dia itu senang mengamati dan meneliti sesuatu. Jangan sampai nanti hubungan kita menjadi obyek pengamatannya dia!" ujar Si Botak.
"Kita harus kelihatan normal layaknya suami istri beneran. Gawat kalau mereka sampai curiga. Bisa batal semua rencana kita." Sambungnya lagi.
Malam ini dia tidur di sofa bed. Tidurnya pulas. Saya yang malah sulit memejamkan mata. Mata saya menjelajah lagi seluruh isi kamar ini. Apa jadinya ya, kalau Kak Ferin masuk ke kamar ini dan melihat masih ada foto-foto Meylan? aah, tapi tidak mungkin. Kamar tidur kan privacy. Kak Ferin tidak mungkin masuk menyelinap ke kamar ini.
Oh iya, baju-baju saya kan masih ada di kamar bawah. Saya harus mengambilnya. Takutnya nanti Kak Ferin curiga kalau saya harus ke bawah untuk mengambil baju. Apa saya ambil sekarang saja ya?
__ADS_1
Mama, Kak Ferin dan Aufa sepertinya sudah pulas tidur di kamar sebelah. Aah, tapi iseng juga rasanya kalau harus turun ke bawah sekarang. Lagi-lagi jiwa penakut saya muncul. Besok saja deh, pagi-pagi sekali saat Mama dan Kak Ferin belum bangun.
...****************...
Sesuai rencana. Subuh saya sudah bangun. Selesai sholat subuh, saya turun ke bawah dan memindahkan baju-baju saya ke kamar atas. Si Botak sedang di kamar mandi. Saya turun lagi ke bawah dan menuju dapur.
Sesuai rencana. Pagi ini saya harus beracting menjadi istri yang sudah beraktivitas di dapur sebelum suami bangun. Apalagi mama mertua orangnya sangat rajin sekali. Biasanya pagi-pagi sudah bangun dan beraktivitas di dapur. Pasti beliau surprise melihat saya sudah bangun dan memasak pagi-pagi.
Saya pun menyiapkan bahan-bahan yang ada di kulkas. Ada bakso, sosis, nugget, enaknya bikin nasi goreng nih. Saya pun mulai memasak.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Benar saja, mama mertua sudah bangun.
"Wanginya enak banget Nis. Pasti enak nih," refleks Mama langsung mengambil sendok dan mencicipi nasi goreng buatan saya.
"Iya Mah. Hmmm... Gak tiap hari juga sih. Tapi saya usahakan tiap pagi saya siapkan sarapan," saya menjawab dengan gugup.
"Bagus. Memang begitu harusnya seorang istri. Sesibuk apapun kita, tetap harus dahulukan kebutuhan suami."
Hmmm..Mama gak tahu aja, kalau tiap hari saya nyaris gak pernah nyiapin sarapan untuk Mas Farid. Sarapan sudah disiapkan Bu Atin. Mas Farid juga lebih sering bikin kopi sendiri.
Tapi sesuai rencana, selagi Mama dan Kak Ferin masih ada di sini, tiap pagi saya yang akan siapkan sarapan. Kalau perlu saya yang akan masak untuk makan siang.
__ADS_1
"Nanti pulang ngajar jam berapa, Nis?"
"Jam tiga Mah."
"Nanti sore temani Mama ke rumah Bu Endang ya. Gak seru kalau gak ketemuan. Padahal sering ngobrol lewat WA."
"Iyalah Mah. Mumpung ada di sini, puas puasin kangen-kangenannya."
Lalu topik Obrolan di dapur saat itu membahas tentang resep-resep masakan. Mama mertua senang sekali melihat saya bisa masak. Menurutnya seorang istri yang ideal ya seperti itu. Mama akan mengajari saya beberapa resep masakan manado.
Saya juga membuatkan kopi untuk Si Botak pagi itu, saya juga yang menaruhkan nasi goreng ke atas piringnya lalu dia berkata "makasih Sayang." membuat telinga saya mendadak merah.
"Berangkat sekarang, Nis?" tanya Mama
"Iya Ma. Ninis buru-buru. Lagian, Mas Farid agak siang berangkatnya."
Saya pun berpamitan dan tak lupa mencium tangan Mama dan juga Si Botak tentunya.
"Berangkat dulu Ma. Berangkat dulu Mas!" tiba-tiba Mas Farid menarik tangan saya dan dengan refleks mencium kening saya. Deg, dia mencium saya di depan mamanya. Membuat Mama tersipu.
"Hati-hati sayang,"ucapnya.
__ADS_1
Saya pun berangkat setelah ojek online saya datang. Duh, kenapa harus ada adegan cium sih, di depan Mamanya pula! but, its ok ini kan bagian dari acting. Saya dan dia kan memang harus berakting mesra. Semoga saja, dia tidak mencuci bibirnya setelah mencium saya tadi, heheheh.
Bersambung.