
Kami pun menyusuri pusat perbelanjaan di lantai atas. Farid meminta saya untuk masuk dan memilih barang barang yang saya inginkan. Dia masih sibuk dengan ponselnya dan berdiri di luar.
"Pilih saja apa yang kamu suka. Aku mau hubungi klien dulu."
Dan saya pun mengiyakan. Tidak apa apa. Saya lebih nyaman berbelanja sendiri. Saya malah grogi nanti kalau belanja ditemani. Mata saya menyusuri deretan produk skincare dan juga kosmetik lengkap dengan peralatan make up. Tentu saja tidak ada bedak Marcs, lipstik Hare favorit saya, serta berbagai produk favorit saya lainnya. Pokoknya produk produk yang selama ini sangat affordable dengan isi dompet saya.
Saya kebingungan. Produk produk yang dijual di sini rata-rata adalah high class yang merknya asing buat saya. Produk produk dari luar negeri tentu saja. Ada foundation yang harganya mencapai empat ratus ribu, lalu toner dan moisturizer yang harganya mencapai 350 ribu... Wow..
Saya pun bergerak cepat. Tidak enak juga ditunggu. Setelah memilih produk produk yang saya inginkan, saya menuju konter pakaian. Semua beres. Pada dasarnya saya memang tidak terlalu hobi shopping. Saya memilih dengan cepat berdasarkan size dan warna yang saya sukai, itu saja. Beres.
Si Botak eeh Mas Farid masih menunggu di luar conter. Saya pun melambaikan tangan padanya. Dia masuk dan menuju kasir. Mengeluarkan kartu kreditnya. Wow.. Total semua nyaris 8 juta lebih. Angka yang fantastis untuk ukuran kantong saya. Hari ini saya merasa sangat istimewa. Berbelanja barang barang branded. Dibayari pula. Gila. Ini benar-benar gila. Sejarah baru dalam hidup saya. Tapi apa tidak sayang ya dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membelanjakan saya seserahan.
Ah sepertinya tidak. Dia sendiri yang mengajak saya untuk berbelanja di sini. Bukan di pasar tradisional biasa. Lagipula nilai uang segitu pasti kecil bagi dia. Lagi lagi saya terharu. Diperlakukan spesial seperti ini oleh laki laki ini. Meski kesannya cuek dan tidak banyak bicara pada saya, tapi action nya sungguh luar biasa.
__ADS_1
Dan saya siap menunggu action action lain selanjutnya. Action dimana dia mengucapkan kalimat "saya terima nikahnya Dewi Rengganis binti Ahmad Solihin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan bla bla bla." Ahaaay... Makin tersanjung saya.
Sebelum pulang pun dia mengajak saya mampir ke toko kue favoritnya. Kata dia Klapertart di toko kue itu lumayan enak. Meski tidak seenak buatan Oma nya .
"Ini buat Ibu dan Bapak ya. Kue ini favorit aku banget, tapi rasanya emang gak seenak buatan Omaku yang tiada duanya."
Waduh baik sekali dia. Saya makin kagum. Lalu dia menceritakan kesukaan fanatiknya akan kue klapertart. Saya mendengarkan dengan seksama sambil tersenyum senyum sendiri. Tentu saja tersenyum di dalam hati. Jika tidak pasti saya sudah diturunkan dari mobil karena dianggap senewen..Hehehehe.
Yang jelas hari itu saya merasa menjadi begitu istimewa. Bisa shopping seharian, dibayari pula sama cowok ganteng berpenampilan cool yang sebentar lagi akan menjadi imam saya. Duh Gusti, saya masih dibuat takjub dan tidak percaya. Ini momen langka dalam hidup saya.
"Belanja apa saja, Nduk?" tanya Ibu.
"Banyak Bu. Buat seserahan nanti."
Seolah bisa mengerti apa yang saya sedang saya rasakan, Ibu kembali tersenyum. Diciumnya kening saya.
__ADS_1
"Alhamdulillah ya Nduk, akhirnya sebentar lagi kamu menikah juga. Bapak sama Ibu senang sekali.."
Senang karena akhirnya anaknya yang gokil ini laku juga kan Bu...Hehehe, jawab saya dalam hati. Akhirnya doa Ibu dan Bapak terkabul juga. Alhamdulillah Ya Allah...
Sebagai anak tertua dan sudah dua kali dilangkahi tentu saja membuat orangtua saya panik. Mereka sangat kepikiran dengan kondisi saya yang masih saja menjomblo. Entah mungkin sudah capek dengan jawaban saya, mereka sampai tidak berani lagi bertanya kepada saya, kapan bawa calon ke rumah? Hehehe. Karena saya selalu menjawab... "Insya Allah nanti Bu. Ibu sama Bapak doakan saja ya..."
Tak tahukah mereka kalau saya juga tersiksa. Siapa sih yang tidak mau menikah? saya juga lelah dengan kondisi ini. Lelah karena selalu gagal. Lelah karena selalu tersakiti. Lelah selalu dianggap aneh karena belum menikah, Lelah dalam penantian panjang. Hingga akhirnya saya benar-benar berada di titik pasrah.
Benar-benar memasrahkan semua kepada Sang Khalik. Pemilik dan penguasa kehidupan. Yang Maha memberikan jodoh. Saya yakin, momen itu pasti akan datang dalam hidup saya dalam waktu dan kesempatan yang tepat.
Dan sekarang doa mereka telah terjawab. Lagi-lagi saya sangat bersyukur. Masih terbayang di benak saya raut wajah yang terpancar dari wajah Ibu dan Bapak saat menyaksikan prosesi lamaran saya. Betapa bahagianya mereka, saat Mas Farid dan keluarganya datang melamar saya. Menyatakan maksud dan tujuannya untuk meminta saya menjadi pendamping hidupnya.
Bersambung.
Mohon like, vote dan komentarnya ya Guys! Matursuwun....
__ADS_1