LELAKI PILIHAN

LELAKI PILIHAN
Teguran Saya


__ADS_3

"Hai, Nis. Udah makan?" saya terkejut. Si Botak sudah duduk di meja makan. Kapan dia pulang ya? saya tidak mendengar suara mobilnya. Mungkin ketika saya sedang di kamar mandi tadi. Sekarang sudah jam hampir jam enam sore. Tumben dia pulang cepat.


"Kata Bu Atin, kamu sakit ya?" tanyanya.


"Cuma masuk angin aja Mas. Tapi tadi sudah minum jamu, dikerok, badan mulai enakan."


"Makanya kamu jangan telat makan. Pasti kamu gak makan ya semalam karena nungguin aku pulang?" tebaknya sambil tersenyum ke arah saya. Senyuman yang membuat jantung saya berdetak lima kali lebih cepat.


"Makan kok. Aku cuma kecapekan aja. Semalam aku tuh begadang. Menyelesaikan pekerjaan di sekolah yang kejar deadline. Memangnya kamu semalam kemana, Mas?"


Si Botak diam. Mungkin gugup menjawab pertanyaan saya. Dia malah nampak serius menyantap mie ayam di hadapannya.


"Maafkan pertanyaanku. Aku cuma khawatir aja, karena WA Mas tidak aktif. Aku WA tidak dibalas. Hanya terkirim."


"Semalam aku menginap di tempat Meylan." Jawabnya pelan. Nah, benar kan! dugaan saya tidak meleset.

__ADS_1


"Hujan deras banget, Nis. Terpaksa aku menginap di apartemen Meylan. Sehabis dari Mall, aku ke kantor membereskan pekerjaan. Lalu Meylan menelponku. Dia baru saja membuat spaghetti, dan memintaku untuk mencicipinya. So, ya udah dari kantor aku balik lagi ke apartemennya. Lalu aku ketiduran di sana. Mau pulang udah kemalaman juga." Dia menjelaskan.


"Dan, akhirnya ujung ujungnya menginap kan!" sambung saya.


Dia mengangguk lagi. Ekspresi wajahnya nampak malu-malu. Mengingatkan saya pada Reno, salah satu murid saya di sekolah yang malu-malu gara-gara ketahuan mengompol di kelas.


" Mas, maafkan aku sekali lagi jika aku lancang. Aku hanya mengingatkan. Aku tahu, Mas Farid dan Meylan masing saling mencintai. Tapi apakah, tidak rawan jika kalian hanya berdua saja di apartemen?"


"Maksud kamu?" Si Botak bertanya dengan ekspresi wajah yang tidak lagi malu-malu.


"Jadi gini, Mas. Mengapa Mas tidak segera menikahi Meylan? daripada seperti ini, Mas. Kalian sering berdua-duaan. Bahkan, Mas Farid sudah dua kali kan menginap di apartemennya. Apa Mas tidak takut kalau nanti ada setan lewat dan masing-masing dari kalian tidak mampu menahan diri..."


" Kamu benar, Nis! terima kasih atas semua dukungan dan perhatian kamu. Aku juga berpikir begitu, Nis. Tapi...." Ekspresinya terlihat lebih datar.


"Gak berani untuk ngomong langsung sama mama ya?" tanya saya.

__ADS_1


Dia diam dan makin menunduk.


"Kamu jangan pernah ceritakan ke Mama ya! please! biarkan semua berjalan sesuai skenario yang sudah kita rancang. Kalau nanti kita pisah, aku gak mau nanti mama tahu, kalau penyebabnya adalah karena Meylan. Karena aku mau rujuk sama dia..."


"Iya Mas. Terus bagaimana kelanjutan hubungan kalian? saran aku, lebih baik kalian sah kan segera hubungan kalian biar lebih aman. Menikah dulu secara agama supaya bisa terhindar dari zina...." Ucap saya pelan.


"Maafkan aku, Mas... Aku tidak seharusnya bicara seperti ini!"


Dia diam lagi. Seolah seperti meresapi kata-kata saya. Saya jadi makin tidak enak. Lima menit kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Aku ke dalam dulu Nis. Mau lanjut beresin pekerjaan. Oh iya, mie ayam kamu ada di dapur ya. Tinggal dihangatkan lagi aja kuahnya. Enak banget loh. Ini salah satu mie ayam favorit aku."


Dia berlalu dan menuju ruang kerjanya. Apa dia marah sama saya? ah, tapi sepertinya tidak.


Buktinya dia masih menawari saya mie ayam. Tidak, dia tidak marah. Mungkin, dia hanya bingung.

__ADS_1


Kembali pikiran saya tertuju pada sosok Reyna. Andai saya punya nyali, ingin rasanya tadi menanyakan langsung ke Si Botak. Apa Jangan-jangan dia punya perasaan pada Reyna? makanya dia ragu untuk segera rujuk dengan Meylan. Bisa jadi, alasan dia takut pada mamanya itu cuma kebohongan dia saja? aah, entah bagaimana endingnya nanti? saya pasrahkan semuanya kepada MU Ya Rabb...


Bersambung.


__ADS_2