
Isi surat perjanjian itu menyatakan kalau saya berhak atas tanah seluas 200 hektare yang ada di daerah Cimanggu, lalu saya juga akan mendapatkan uang senilai 850 juta, satu buah mobil Mercedes Benz yang ada di garasi belakang, juga uang bulanan darinya selama kami belum bercerai.
Diam-diam Si Botak ini punya banyak aset juga rupanya. Saya sudah yakin dan mantap. Persetan dengan harga diri. Mungkin seginilah nilai harga diri saya. Tidak mengapa. Tekad saya sudah bulat. Dia yang menginginkan semua ini. Saya hanya mengikuti. Saya tidak akan rugi. Saya bisa jadi kaya mendadak. Menjadi janda kaya tepatnya. Dengan aset ini saya bisa memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga saya.
"Bagaimana Nis? adakah point yang membuatmu keberatan?" tanya Si Botak
Saya belum menjawab.
"Kalau ada point yang membuatmu keberatan, nanti akan saya perbaharui. Menurutmu gimana, apa masih kurang? atau ada yang kamu inginkan lagi?"
Saya menggeleng. "Sepertinya ini cukup, Mas."
"Kalau masih kurang, ngomong saja. Nanti akan saya usahakan."
"Ok, deal," ucap saya.
"Deal!" jawabnya.
"Terimakasih banyak Nis. Saya tidak akan melupakan kebaikan kamu. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya adalah laki-laki jahat buat kamu. Tapi, saya benar-benar tidak sanggup untuk lepas darinya..."
"Cukup Mas. Lupakan semua itu. Aku tidak apa-apa kok. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Dan di sini, posisiku hanya ingin membantu kamu. Memuluskan niat dan rencana kamu untuk bisa secepatnya rujuk lagi dengan Meylan. Anggap saja hubungan kita sebatas hubungan bisnis."
"Jika tujuan Mas sudah tercapai, Mas Farid dan Meylan sudah bersatu lagi. Maka, aku akan mundur. Kita akan bercerai. Dan aku akan berhak akan aset-aset ini," ujar saya mantap.
Farid terdiam lalu mengangguk.
"Ya Nis. Maafkan aku. Aku berharap hubungan kita tetap terus membaik. Tidak ada kebencian. Aku ingin kita bisa menjadi teman, sahabat," ujarnya
"Tentu saja, Mas. Mungkin kita tidak berjodoh sebagai pasangan. Tapi kita bisa menjadi teman yang baik."
"Tenang saja Mas. Aku tidak akan menceritakan tentang kondisi hubungan kita pada siapapun. Termasuk orangtuaku, orangtua kamu dan juga Bu Endang. Aku juga berharap Meylan juga tidak akan ember kepada siapapun.
"Tidak Nis. Aku yakin, Meylan tidak akan membocorkan semua rahasia ini. Apalagi semua ini adalah ide dari dia," sambung Mas Farid.
Semoga saja Mas. Duh, kok saya jadi makin penasaran ya dengan sosok Meylan. Seistimewa apa sih Meylan sampai bikin Si Botak ini Bucin maksimal?
__ADS_1
" Boleh saya bertanya?" Si Botak bertanya pelan.
Saya mengangguk.
"Bagaimana perasaanmu ke saya? apa selama ini kamu ada perasaan suka dengan saya?"
Waduh, to the point sekali pertanyaannya. Berat juga. Saya pun menggeleng dengan cepat.
"Dari awal kita berkenalan, jujur aku tidak ada perasaan sama sekali dengan kamu.Tapi aku hargai usaha Bu Endang yang berusaha mencarikan jodoh buatku. Dan, tidak ada salahnya, karena kamu memang layak dan memenuhi segala syarat untuk menjadi calon suami yang ideal."
"Aku selalu berpikir, cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi sebenarnya, tergantung juga sih. Tergantung pada keberlangsungan perasaan dan kondisi orangnya juga," saya mencoba menjelaskan.
"Maksudnya?"
"Begini Mas, aku bukan tipe orang yang mudah suka atau jatuh cinta dengan cepat. Apalagi jika kondisi kita seperti ini. Jujur saja, begitu kamu menceritakan semuanya tentang maksud dan tujuanmu menikahiku, di saat itu pula, tidak ada sedikit pun rasa di hatiku!"
"Aku sudah kecewa.Jadi buat apa berharap lagi. Dan, alhamdulillah aku sudah bisa memgikhlaskan semuanya. Cinta tidak bisa dipaksakan dan aku cukup tahu diri. Aku bukanlah orang yang kamu inginkan." Entah kenapa, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut saya.
"Dan sekarang, keberadaan saya di sini hanyalah untuk membantu kamu. Dan sebagai kompensasinya, kamu akan memberikan sepersekian dari aset-aset kamu, ya kan! jadi paling tidak, saya tidak rugi-rugi amat. Karena, tidak bisa saya pungkiri, saya butuh uang untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga saya," saya menjawab dengan pelan namun pasti.
Tentu saja tidak. Saya bukan perempuan bodoh. Kalau pun kecewa dan tertekan, saya tidak akan menunjukkan di hadapannya. Apalagi sampai menangis di hadapannya. Big No!
Saya akan terus belajar untuk menata hati. Mengedepankan logika dan mengenyahkan rasa sejauh-jauhnya.
Semua sudah deal malam itu. Kami lebih banyak berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Dia berbicara tentang pekerjaannya dan saya tentang pekerjaan saya. Juga tentang aset-aset yang dia miliki. Dia bercerita kalau semua itu adalah hasil kerja kerasnya. Pantas saja, kekayaannya melimpah, bayarannya sebagai pengacara membuat mata saya terbelalak. Luar biasa.
"Nis, kalau kamu perlu apa-apa, bilang saja. Jangan sungkan-sungkan."
Saya menggangguk.
"Kamu sudah mengantuk?" tanyanya.
"Sedikit,"jawab saya.
"Tidurlah. Besok kamu berangkat pagi kan? Malam ini, aku mau begadang sepertinya." Dia pun pamit dan berlalu memasuki ruang kerjanya.
__ADS_1
Saya pun memasuki kamar. Dari ruang kerjanya saya mendengar sayup-sayup lagunya Phil Collins yang dicover ulang oleh Taylor Swift
So you're leavin'
In the morning
On the early train
Well I could say everything's all right
And I could pretend and say goodbye
Got your ticket
Got your suitcase
Got your leaving smile
Though I could say that's the way it goes
And I could pretend you wont know
That I was lying
Cause I cant stop loving you
No, I cant stop loving you
No, I wont stop loving you
Why should I?
Lagu itu sangat sering diputar Si Botak. Lagu yang seolah seperti menggambarkan isi hatinya yang masih begitu berharap pada Sang Mantan.
Bersambung.
__ADS_1