
Farid
Taxi yang kutumpangi mulai bergerak perlahan. Kuminta sopir untuk tetap berada di sini. Dengan begitu aku akan mudah mengamati dari dalam Taxi. Gedung Elite Model nampak sepi. Sekarang pukul lima sore. Apa Meylan sudah pulang? atau dia masih berada di dalam gedung itu? ingin rasanya masuk ke dalam dan mencari Meylan, tapi kuurungkan niatku. Meylan pasti tidak mau ditemui, sama seperti kemarin.
Kemarin siang aku juga mencoba menemuinya. Tapi salah satu asistennya di sana, mengatakan kalau Meylan tidak mau bertemu dengan orang yang belum ada janji dengannya. Aah, keterlaluan sekali. Aku harus mengatur strategi. Tapi bagaimana caranya? apa aku temui Nisya saja dulu ya? lalu mengajak Nisya bicara pelan-pelan dan meminta Nisya untuk mempertemukan aku dengan Meylan.
Kutarik handle pintu dan bersiap keluar, seketika pandanganku tertuju pada dua orang yang sedang berjalan keluar menuju pelataran. Tidak... Tidak....Aku pasti salah lihat. Tapi memang itu dia. Itu adalah Meylan. Dia berjalan dengan santainya sambil menggandeng tangan pria berwajah oriental. Pria itu pasti yang diceritakan Gladys. Ooh tidak....
Aku mencoba menahan emosiku, walau hatiku terasa remuk. Ingin rasanya turun dari Taxi dan menarik Meylan sekaligus meminta penjelasan atas semua lelucon ini. Tapi tunggu... Biar kuikuti saja dua orang itu. Kuminta sopir untuk membuntuti mereka.
Jadi ini penyebabnya.... Penyebab mengapa Meylan berubah dan meninggalkanku. Ini tidak bisa dibiarkan. Keterlaluan sekali, Meylan... Aku sudah berkorban banyak untuk dia. Aku sangat mencintainya dan begitu mengharapkannya kembali padaku. Tapi dia dengan begitu mudahnya mencampakkanku hanya karena laki-laki ini.. Dadaku mulai bergemuruh, emosiku memuncak.
Mereka memasuki KAU KEE RESTAURANT. Masih dengan bergandengan tangan, Meylan nampak tersenyum mesra pada pria itu. Sungguh, pemandangan yang membuatku panas membara. Ingin kumasuki restoran itu dan memantau mereka dari dekat, tapi lagi-lagi kuurungkan keinginanku. Aku terus mengamati mereka dari kejauhan. Semoga mereka tidak lama berada di restauran itu. Aku menunggu saat dimana Meylan sedang sendiri, dan selanjutnya aku akan menemuinya dan mengajaknya bicara.
Hatiku sesak sekali. Wanita yang sangat kucintai memperlakukanku seperti ini. Apa salahku? Mengapa dia tega berbuat seperti ini. Semudah itukah dia berpaling setelah memberikanku harapan?
__ADS_1
Aku hanya ingin kami bersama lagi. Menjalani hari demi hari seperti dulu lagi. Ya Allah, sakit sekali rasanya. Aku sangat mencintainya. Hanya dia yang ada di hatiku. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Bisa. Harus bisa. Aku harus bisa mengendalikan emosiku. Semoga aku bisa bicara dengan Meylan dan membujuknya untuk kembali lagi padaku.
Usahaku menunggu tidak sia-sia. Nampak Meylan dan pria itu keluar dari restoran. Aku tidak boleh melewatkan mereka. Aku terus mengikuti mereka. Mobil melaju menuju arah kawasan elite Mid-Levels hingga akhirnya tiba di lobi apartemen mewah. Mereka memasuki lobi, lalu laki-laki itu berpamitan setelah sebelumnya mendaratkan kecupan di kening Meylan.
"Mey......!" aku berteriak. Nafasku memburu. Aku berusaha menenangkan diriku, meski sangat sulit. Kepalaku terasa ingin pecah. Meylan nampak terkejut melihatku.
"Mas Farid....." Meylan bersiap melangkah mundur. Raut wajahnya nampak bingung.
"Bisa kita bicara? aku butuh penjelasan." ucapku datar. Aku mati-matian berusaha tenang meski amarahku terus bergejolak.
Meylan mengangguk. Dia membawaku menuju ke arah Coffeshop di lantai bawah. Dia semakin cantik saja. Degub jantungku semakin keras saat menatap wajahnya. Seketika emosiku meluruh. Perasaanku melunak. Aku akan bicara pelan-pelan padanya. Semoga hatinya terketuk untuk menerimaku kembali.
"Maafkan aku Mas. Aku sudah memutuskan untuk fokus pada karierku. Agency di sini sangat membutuhkan aku. Aku tidak yakin kalau kita rujuk kamu akan bisa mengerti kesibukanku. Lagipula aku sudah memutuskan untuk menetap lama di sini."
"Belum lagi, aku tidak siap menghadapi mamamu. Jujur saja, aku masih sakit hati dengan ucapan dan makiannya dulu."
__ADS_1
"Tidak bisa, Mey. Kita kan sudah sepakat. Kamu lihat seberapa besar pengorbananku. Aku terpaksa harus menikahi wanita yang sama sekali tidak kucintai. Apa yang harus kukatakan pada Ninis kalau kita batal rujuk? aku tidak mungkin melanjutkan pernikahan dengan Ninis..."
"Please, Mey...Kembalilah padaku. Aku hanya ingin kamu yang mendampingiku, Mey... Tidak ada yang lain selain kamu..."
Meylan terdiam dan menarik nafas panjang.
"Ceraikan saja Ninis dan berikan kompensasi sesuai dengan syarat yang sudah kalian sepakati. Aku yang akan membayar semuanya. Sekarang silahkan Mas kalkulasi semuanya mulai dari tanah, mobil dan uang, aku yang akan menggantinya."
"Aku yang membuat ide gila itu kan, Mas? jadi biar aku yang bertanggung jawab. Kamu tidak akan rugi kan?"
"Tidak Mey...Aku tidak mau. Aku tidak setuju. Aku hanya ingin bersamamu, Mey.... Pertimbangkan aku dan lihat ketulusan cintaku...Please, Mey..."
Meylan menggeleng dan bersiap untuk bangkit. Aku menarik tangannya, Meylan berusaha melepaskan. Aku terus mengejarnya.
"Kenapa kamu berubah Mey? apa karena pria itu? kamu tidak bisa mencampakkan aku begitu saja, Mey! kamu harus jadi milikku! katakan siapa pria itu Mey? jahat sekali kamu memperlakukanku seperti ini hanya karena pria lain." Amarahku mulai bangkit.
__ADS_1
Meylan mulai berjalan pelan-pelan menjauhiku, aku menangkap bahunya dan berusaha memeluknya. Tak peduli betapa banyak orang menatap kami.
Bersambung.