
Malam ini tidak biasanya dia mengajak saya berbincang-bincang di balkon atas. Suasana malam begitu syahdu. Bahkan hembusan angin terasa begitu menyejukkan. Cahaya lampu balkon nampak berbinar. Pantulannya menerobos sampai ke ujung tangga.
Untuk pertama kalinya saya dan dia duduk di sini. Entah ada angin apa tiba-tiba dia mengajak saya ke sini. Dari awal kami menikah baru kali ini dia mengajak saya mengobrol di balkon atas. Katanya, biar cari suasana baru. Duh, saya jadi deg degan nih.
Selama ini obrolan kami lebih banyak di habiskan dimeja makan. Baik pagi atau malam hari. Meja makan menjadi saksi obrolan kami tentang berbagai hal. Topik yang paling sering dia bahas ya apalagi kalau bukan makanan. Sambil menawari saya makanan, dia akan bercerita bahwa makanan yang dia bawa itu adalah salah satu favoritnya lengkap dengan pengalamannya saat pertama kali mencicipi makanan itu.
Topik yang lumayan garing sih, menurut saya. Seolah tidak ada topik lain.. Mentang-mentang body saya demplon begini. Pasti dia berpikir saya doyan makan, padahal gak juga tuh. Body demplon kan tidak selalu identik dengan doyan makan, bisa juga karena bakat. Dan saya memang punya bakat gampang gemuk.
Mungkin beda dengan Meylan atau Reyna yang memang bodynya langsing-langsing. Entah karena diet ketat atau memang sudah ada bakat langsing dari sononya. Walaupun makan sebakul, tetap saja badannya segitu-gitu aja. Sumpah bikin iri.
"Kamu suka tempat ini, Nis?" dia bertanya sambil tersenyum manis ke arah saya. Memamerkan gigi-giginya yang berderet rapih.
"Iya Mas." Saya gelagapan mendengar pertanyaannya. Tidak menyangka dia akan bertanya ke saya.
"Spot ini bagus Mas untuk mencari inspirasi. Tempatnya tenang. Adem. Bisa menatap keindahan langit pula !" jawab saya.
"Ya, aku setuju dengan pendapatmu Nis. Sudah cukup lama juga aku gak duduk di balkon seperti ini."
"Dulu sering ya Mas?" tanya saya lagi.
Dia mengangguk. "Aku dan Meylan dulu sering mengobrol di sini."
Hmmm.. Pantas saja. Mungkin dia ingin mengenang kebersamaannya dengan Meylan di tempat ini. Tapi ngapain juga ngajak-ngajak saya?
"Kursinya bagus ya Mas. Warnanya cerah. Kontras dengan warna cat tembok." Ucap saya.
__ADS_1
"Iya Nis. Makanya aku ganti kursi yang lama. Biar ada suasana baru."
Sekalian persiapan kan buat menyambut Meylan kalau nanti kalian rujuk dan dia kembali ke rumah ini, ucap saya dalam hati.
Ingin sekali saya bertanya tentang Meylan malam ini. Bagaimana progress hubungan mereka? keberadaan kursi baru berwarna ungu magenta di balkon ini seolah menyiratkan kode bahwa itu adalah salah satu bentuk penyambutan akan Meylan yang sebentar lagi akan kembali ke rumah ini.
Tapi benarkah begitu? aah, saya tidak peduli. Yang jelas malam ini, saya ingin menikmati momen duduk berdua dengan dia, mendengarkan ceritanya, menatap wajahnya sambil menikmati degub jantung saya yang tak berhenti berirama.
Suasana malam yang romantis. Saya bersikap santai. Berpura-pura fokus pada layar laptop sambil mendengarkan ceritanya. Sementara dia masih terus bercerita sambil sesekali memainkan ponselnya. Jutaan bintang seolah menari-nari, bulan tersenyum dengan Indahnya. Dan kesyahduan malam makin terasa saat lantunan lagu Michael Learns To Rock terdengar dari ponselnya.
Sambil menghayati lirik lagu itu, bongkahan rasa di hati saya semakin mengembang. Tuhan, izinkan saya menikmati romantisme di balkon ini walau hanya dalam hati saja. Walau saya tahu hatinya bukan untuk saya.
Alone with you on naked feet
Creep into your soul
The end of feeling cold
I have cried a thousands times
I've been searching all around me
This time and forever
I know that i have found (the love in me)
__ADS_1
We shared the night
We saw the light
Deep in each others eyes
The feeling that lifts us up
That feeling we know is love
Home between your loving hands
With your body next to mine
I believe that we will be
Together through the time
I have gone for many walks
I've been reeling home from town
This time and forever
I know that i have found (the love in me)
__ADS_1
Bersambung.