
Saya masih terus menahan emosi. Perut saya lapar tapi rasanya tidak ingin makan. Menyaksikan Si Botak dan Reyna benar-benar membuat nafsu makan saya mendadak hilang. Tuhan, mengapa harus sesakit ini? ingin menyerah rasanya.. Menyerah kalah dan pergi meninggalkan Si Botak. Saya benar-benar tidak kuat lagi.
Masa bodoh dengan rencana dia dengan Meylan. Mau mereka rujuk kek atau putus kek bukan urusan saya. Saya tersiksa. Mengapa saya harus jatuh hati padanya? harusnya saya tidak membiarkan rasa ini terus tumbuh. Benar kata pepatah, jatuh cinta hanya akan membuat sakit. Terlebih jika bertepuk sebelah tangan.
Saya tidak akan pernah bisa memiliki hatinya. Mencintainya hanya membuat saya malah merasakan sakit yang tak berujung.
Mereka masih asyik mengobrol dengan mesra. Saya tidak bisa mendengar obrolan mereka. Tapi dari ekspresi wajah Reyna, dia terlihat nampak malu-malu. Wajahnya kadang menunduk kadang bersemu-semu. Pasti Si Botak sedang menggoda dan merayu dia.
Lalu muncullah tiga gadis ABG.. Hmmm, pasti itu anak-anak Reyna. Mereka semua seperti kembar tiga. Pasti karena jarak usianya berdekatan. Mereka cantik-cantik dan modis, persis seperti Reyna. Mereka menyalami Si Botak dan segera duduk untuk makan bersama.
Luar biasa.... Pemandangan yang sangat so sweet, mereka bagaikan sebuah keluarga.
Si Botak nampak berusaha mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol anak-anak Reyna. So sweet, ingin menarik perhatian calon anak sambung rupanya...
__ADS_1
Saya makin nyesek. Entah karena asam lambung saya mulai naik atau karena melihat keakraban mereka. Suasana hati saya makin kalau balau. Hingga akhirnya mereka keluar dari restoran, dan saya bersiap-siap untuk terus menguntit.
Mereka memasuki toko sepatu dan sibuk memilih- milih di sana. Lalu berlanjut menuju toko buku, dan tiba- tiba pandangan saya mulai kabur. Ya Allah, saya kenapa? pasti karena saya belum makan. Saya jadi merasa seperti orang bodoh. Menguntit mereka sampai mau pingsan begini.
Ini gawat. Jangan sampai saya tepar di sini. Saya segera keluar dan mencari tempat duduk. Lalu masuk menuju food court dan memesan makanan dan selanjutnya bergegas pulang. Masa bodoh dengan mereka.
...****************...
Farid
Melihat keakraban Reyna dan anak-anaknya membuatku terkesan. Terbersit rasa iri juga di hati. Seandainya aku menikah muda, mungkin aku juga sudah punya anak dan anak-anakku juga pasti sudah besar. Jujur, aku rindu kehadiran anak. Dan aku berharap bisa memilikinya dari Meylan.
Kucoba menghubungi Meylan. Ponselnya tidak aktif. Pesan WA yang kukirim pun belum sempat dibaca. Sebegitu sibuk kah Meylan hingga mengacuhkanku. Perasaanku mendadak tidak enak. Berbagai pikiran buruk mulai menghampiri. Aah, aku bisa gila kalau begini.
__ADS_1
Apa aku datangi saja Meylan di sana ya? aku butuh kepastian darinya. Aku benar-benar takut kehilangannya. Meylan harus menepati janjinya padaku. Bukankah dia sudah berjanji untuk rujuk denganku setelah aku menikahi Ninis.
Ponselku berbunyi. Pesan masuk dari Reyna.
Makasih ya Mas... Barusan orang bengkel telepon, katanya mobilku dah beres. Semoga Allah membalas segala kebaikan Mas Farid. Oh iya, sampaikan salamku untuk Bang Norman ya!
Aku tersenyum. Rupanya Reyna juga suka dengan Bang Norman. Hmmm, baguslah. Tidak ada salahnya jika mereka jadian. Bang Norman baik, pekerja keras dan bertanggung jawab, statusnya masih lajang meski usianya sudah di atas empat puluh. Selama ini, Bang Norman terkenal pemalu dan sedikit kaku dengan perempuan.
Dia naksir dengan Reyna, tapi tidak punya keberanian untuk mendekati. Jika Reyna sudah memberikan respon suka juga, mungkin ceritanya akan lain..Bisa-bisa Reyna langsung diajak ke pelaminan besok, hehehehe.
Aku turut senang mendengarnya. Semoga mereka bisa segera bersatu. Sepanjang obrolanku dengan Reyna tadi, dia lebih banyak bertanya tentang Bang Norman. Bang Norman saat ini sedang di Belanda untuk urusan pekerjaan. Rencana pulang bulan depan..Pasti surprise, jika sepulang nanti mereka langsung jadian...
Reyna memang mengagumkan. Dia beda sekali dengan Meylan.. Lebih dewasa dan keibuan. Tapi, ah sudahlah, aku tidak boleh berharap lebih. Berat kalau aku sampai memilih Reyna, apalagi sainganku Bang Norman.
__ADS_1
Bersambung.